|
Oleh: Toto Sugiarto Setelah 10 tahun menerapkan peradaban demokrasi, hampir seluruh elemen di negeri ini percaya bahwa masa depan bangsa adalah demokrasi terkonsolidasi. Setiap proses politik tidak ada yang bertujuan selain menciptakan kondisi politik yang semakin demokratis. Itu pula yang diharapkan dari pemilihan umum dan pemilihan presiden 2009. Alasannya, demokrasi merupakan sistem politik terbaik. Dalam sistem demokratis, kemiskinan, pengangguran, dan masalah sosial lain lebih bisa diatasi dibanding sistem lainnya, seperti fasisme dan sosialisme. Kontestasi politik demokrasi membiasakan bangsa ini menerapkan persaingan bebas dalam kehidupan sehari-hari. Persaingan inilah yang melahirkan kemajuan.
Masa depan demokrasi ini banyak ditentukan oleh pemilihan umum. Karena itu, 2009 merupakan tahun pemilu dan pemilihan presiden yang amat menentukan perjalanan bangsa ke depan. Tahun 2009 akan menentukan apakah bangsa ini terus berproses ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, tahun 2009 merupakan jawaban apakah bangsa ini menginginkan perubahan.
Konstelasi politik Pemilu dan pemilihan presiden merupakan persimpangan jalan. Pada kedua momen bersejarah tersebut, rakyat akan menentukan jalan yang akan ditempuh bangsa ke depan. Rakyat juga akan mengevaluasi para pemimpinnya. Rakyat akan memutuskan apakah akan "menghadiahi" atau "menghukum" para elite yang memimpin bangsa pada 2004-2009.
Apakah Pemilu 2009 akan mengubah konstelasi politik? Banyak faktor yang mendukung bagi prediksi terjadinya perubahan konstelasi politik. Pertama, berkurangnya kekuatan Partai Golkar di daerah basis, seperti Jawa Barat dan Indonesia bagian timur. Kedua, banyaknya kekecewaan terhadap pemerintah yang antara lain didukung Partai Golkar dan Demokrat. Ketiga, munculnya partai-partai baru yang sedikit-banyak akan mengeruk suara dari kantong-kantong suara partai lama.
Apakah pemilihan presiden 2009 akan mengubah konstelasi politik? Jawabannya amat bergantung pada kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009. Kekuasaan SBY akan berakhir pada 2009 jika ia tidak mampu menghapus kekecewaan publik terhadap beberapa kebijakannya, seperti diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2007 yang merugikan para korban lumpur Lapindo dan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yang merugikan kaum buruh. Kekecewaan publik lainnya, SBY oleh sebagian kalangan dinilai sebagai pemimpin yang lebih mementingkan penguatan keuangan pemerintah sendiri dibanding pembelaan kepentingan rakyat.
Selain itu, apakah pemilihan presiden akan mengubah konstelasi politik, jawabannya bergantung pada kontestasi citra. Jika ingin tetap berkuasa, Presiden SBY perlu terus memperbaiki citra di masyarakat. Posisinya yang sekarang selalu teratas pada setiap survei bisa melorot tajam jika ia tidak mampu mengelola citra.
Jika analisis dilakukan dari perspektif SBY, terdapat tiga kelompok politik dalam pemilihan presiden 2009. Pertama, kelompok pendukung. Fondasi bagi kelompok ini adalah Partai Demokrat. Kekuatan kelompok pendukung bisa semakin besar jika bisa diciptakan koalisi pendukung SBY. Partai-partai papan tengah merupakan pihak paling potensial untuk diraih sebagai teman koalisi. Dalam konteks ini, pertanyaan besar masih bergelayut di pohon beringin, apakah Partai Golkar akan menjadi teman koalisi atau menabuh genderang perang sendiri.
Kedua, kelompok lawan. Yang termasuk fondasi bagi kelompok ini di pemilihan presiden 2009 adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sebagai kekuatan politik oposisi, PDIP berkepentingan mengalahkan SBY dan memenangkan calon presiden yang diusungnya, yaitu Megawati Soekarnoputri. Kekuatan kelompok lawan bisa bertambah jika PDIP berhasil menggaet kekuatan politik lain sebagai teman koalisi mereka. Selain itu, siapa tokoh yang menjadi pasangan Megawati amat menentukan bagi kemenangan putri Bung Karno ini.
Ketiga, penumpang gratis. Penumpang gratis adalah pihak yang akan meraup untung dari kontestasi di pemilihan presiden 2009. Kelompok penumpang gratis ini pada awalnya mengambil sikap "wait and see". Pada saat kemungkinan pemenang sudah terlihat, kelompok ini baru mengambil sikap, yaitu mendekat pada kekuatan politik yang potensial memenangi kontestasi.
Lapangan becek Kontestasi di pemilu dan pemilihan presiden 2009 akan terlihat seperti permainan di lapangan becek dan licin. Dalam pesta politik 2009 diperkirakan akan terjadi permainan keras, tackling untuk menjatuhkan musuh, dan bahkan "bunuh-membunuh". Tensi politik akan semakin tinggi dan bahkan bisa berujung pada konflik.
Kecenderungan ke arah itu telah mulai terlihat. Pertama, counter iklan kubu SBY atas iklan bahan kebutuhan pokok murah Megawati. Perlawanan iklan yang terlihat agak vulgar tersebut dapat disikapi sebagai tanda-tanda mulai menghangatnya iklim politik. Kedua, tanda-tanda memanasnya suhu politik terlihat dari tindakan yang dilakukan pemerintah terhadap calon presiden yang sekarang menjabat gubernur. Jadwal calon presiden gubernur sengaja dibentrokkan dengan agenda kenegaraan. Hasilnya, saat calon presiden yang menjabat gubernur tersebut memilih menghadiri acara lain, kita tahu bahwa SBY dengan mudah mengatakan bahwa gubernur tersebut tidak memiliki tanggung jawab.
Ketiga, tanda-tanda memanasnya suhu politik menjelang pemilu dan pemilihan presiden terasa dari, di satu sisi, "tiarapnya" beberapa media. Di sisi lain semakin vulgarnya pemberitaan di media yang tendensius dan memihak. Di bawah tanah, eskalasi politik juga terasa dengan semakin tingginya kemungkinan benturan dan potensi kekerasan di antara kubu tim kampanye calon presiden.
Catatan akhir Terlepas dari terjadi atau tidaknya perubahan rezim kekuasaan, kita harapkan tahun 2009 dapat dilalui dengan damai. Proses politik hendaknya disikapi dengan cara-cara yang berperadaban tinggi. Dalam peradaban tinggi, konflik telah berpindah tidak lagi berupa konflik fisik, melainkan konflik verbal. Permainan keras yang berujung pada konflik hendaknya hanya terjadi dalam forum-forum debat. Peperangan yang terjadi hanya melibatkan otak dan gaya bicara. Kemampuan retorika amat penting dalam kontestasi berperadaban tinggi ini. Jika itu yang terjadi, bangsa ini niscaya akan berhasil mengambil jalan yang benar menuju kemajuan dan kejayaan.
Penulis: Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sumber: Harian Tempo, Selasa 6 Januari 2009 |