Home Opini Media Sosial Politik TAHUN 2009, POLITIK TIDAK LINIER
TAHUN 2009, POLITIK TIDAK LINIER PDF Print E-mail
Wednesday, 07 January 2009 08:20

Oleh: Toto Sugiarto

 

Bakal embrio koalisi mulai terlihat. Empat partai politik, yaitu Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, dan PKB terlihat menjajaki kemungkinan ”penyatuan kekuatan”. Tujuannya, menyukseskan terpilihnya kembali SBY-JK.

Tentu saja embrio tersebut masih terlalu rapuh untuk dilihat sebagai cikal bakal koalisi. Namun, setidaknya perkembangan tersebut mencerminkan kesadaran dari partai-partai akan adanya ”paksaan” undang-undang yang mengharuskan mereka membentuk koalisi.

Jika mendasarkan perhitungan pada hasil Pemilu 2004, kekuatan gabungan keempat partai tersebut jauh melebihi batas minimum syarat dukungan gabungan partai yang ingin mengusung calon presiden. Bahkan, gabungan suara keempat partai tersebut pada Pemilu 2004 mencapai 48,2 persen.

Dengan pertimbangan bahwa tiga dari empat partai tersebut, yaitu Partai Golkar, PPP, dan PKB memiliki pendukung tradisional yang captive, koalisi tersebut dapat dipastikan mampu meloloskan SBY-JK dari ”lubang jarum”. Dengan demikian, langkah SBY-JK untuk kembali duduk di kursi kekuasaan tampaknya semakin terbuka lebar.

Lantas, bagaimanakah konstelasi politik dapat dibaca? Bagaimana perkembangan perbandingan kekuatan-kekuatan politik menuju pemilihan presiden? Siapa yang bakal menjadi pesaing SBY-JK untuk Pilpres 2009?

Oportunis
Konstelasi politik dapat dilihat sebagai tiga kelompok kekuatan, yaitu supporter, spoiler, dan free riders (Sukardi Rinakit). Supporter berhadapan dengan spoiler. Adapun free riders, pada saat dinamika politik telah memperlihatkan ”endapan”, akan merapat pada kelompok pemenang.

Teori tersebut dapat diterapkan pada konstelasi politik sekarang. Dilihat dari perspektif SBY, terdapat tiga kelompok politik dalam Pilpres 2009. Pertama, supporter. Akar tunggang bagi kelompok ini adalah Partai Demokrat. Dengan asumsi tercapainya koalisi empat partai, berdasarkan hasil Pemilu 2004, kekuatan supporter amat kuat.

Kedua, spoiler. Dengan mempertimbangkan persyaratan bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mencalonkan presiden, spoiler bisa terdiri dari satu atau dua kubu politik. Spoiler kubu pertama di Pilpres 2009 adalah PDI-P. Sebagai kekuatan politik oposisi, PDI-P berkepentingan mengalahkan SBY dan mendudukkan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI 2009-2014. Berdasarkan persyaratan undang-undang, akan lebih aman bagi Megawati jika PDI-P melakukan langkah membangun koalisi sejak dini.

Kubu kedua dalam spoiler hanya bisa terwujud jika koalisi yang dibangun baik oleh supporter atau oleh spoiler tidak terlalu besar. Dengan demikian, masih tersisa persentase yang mencukupi syarat minimal bagi pengajuan capres.

Ketiga, free riders adalah pihak yang akan meraup untung dari kontestasi di Pilpres 2009. Kelompok free riders ini bisa dikatakan sebagai kelompok oportunis. Mereka tidak mengambil sikap sampai tercapai kondisi mendekati titik ekuilibrium dinamika politik, yaitu pada saat dinamika politik telah menghasilkan ”endapan”. Kelompok ini biasanya bukan penentu kemenangan, melainkan hanya sebagai penambah kekuatan sang pemenang.

Bukan jaminan
Jika politik bergerak linier, semesta politik tampak mulai berpihak pada kubu SBY-JK. Dengan kekuatan mendekati 50 persen suara Pemilu 2004, akan banyak ”laron politik” mendekat. SBY-JK akan semakin ”aman”, sementara Megawati atau capres ketiga akan semakin terperosok dalam ”jebakan politik berbahaya”.

Namun, untuk masalah kemenangan, politik pada era demokrasi tidak berjalan linier. Seandainya kelompok politik pendukung SBY-JK berhasil membesarkan dirinya sehingga menjadi kelompok politik dominan sekalipun, bukan jaminan bagi tetap tergenggamnya kekuasaan. Bahkan, jika koalisi supporter menjadi terlalu dominan akan muncul kesan keserakahan dan rekayasa jahat menutup kesempatan bagi calon lain. Di titik ini, kekuatan koalisi akan berubah menjadi kelemahan.

Politik di era demokrasi adalah seperti permainan sepak bola, sebelum permainan berakhir, hasil akhir belum bisa dipastikan. Kemenangan bergantung bukan pada besarnya koalisi, melainkan ditentukan oleh strategi memasukkan bola ke gawang, dalam hal ini ke dalam rasio pemilih. Perihal yang terakhir ini, sifatnya amat tidak linier.

Titik pertemuan
Kemenangan dalam Pilpres 2009 lebih merupakan hasil dari terciptanya titik pertemuan antara kehendak baik calon presiden dan rasionalitas publik. Dengan kata lain, kehendak baik capres harus identik dan terbaca publik.

Rasionalitas publik menghendaki terciptanya kebaikan umum, yaitu kebaikan bagi rakyat dan negara. Jika rasionalitas publik mengatakan bahwa capres tertentu benar-benar memiliki kehendak yang sama dengan dirinya, yaitu berkehendak untuk benar-benar memperjuangkan kebaikan umum, niscaya akan mendapat simpati dan dukungan.

Sebagai incumbent, SBY-JK memiliki keuntungan. Pada sisa waktu yang tidak panjang, pemerintahan SBY cukup membuat kebijakan-kebijakan yang produktif bagi penciptaan kebaikan umum. Setelah itu, titik pertemuan pun dengan sendirinya akan tercipta.

Sementara bagi spoiler, upaya penciptaan titik pertemuan hanya bisa dilakukan dengan pembentukan opini. Megawati atau capres alternatif lain harus bisa menawarkan janji politik yang bisa meyakinkan publik bahwa jika terpilih akan bekerja untuk penciptaan kebaikan umum, bukan demi kepentingan pribadi. Karena itu, janji politik harus detail dan terukur.


(Penulis: Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate)

Sumber: Harian Kompas, Rabu 7 Januari 2009

 

Slide


hade2.jpg

Berita Lain