Info Terakhir
- SELAMAT IEDUL FITRI 1431 H
- PEMPROV JABAR ADAKAN BUKU PELAJARAN GRATIS 2010
- 4 KELEBIHAN KARTU LEBARAN DIBANDING SMS
- GUBERNUR JABAR AHMAD HERYAWAN KLARIFIKASI KARTU LEBARAN
- DISPARBUD JABAR AKAN MINTA DANA DEKONSENTRASI
- BAHAN BAKAR JANGAN KHAWATIR
- PROGRAM DESA PERADABAN DILUNCURKAN
- GUBERNUR JABAR CANANGKAN 100 DESA MANDIRI
- PEMDA DIMINTA BERI KOMPENSASI
- DISHUB SEDIAKAN 10 POS PENGADUAN
Pengunjung
We have 97 guests onlineJajak Pendapat
| MENCERMATI PERTEMUAN MEGA-KALLA |
|
|
|
| Monday, 16 March 2009 09:51 |
|
Oleh: Aiyub Mohsin
Namun di pihak lain, dukungan DPR tetap diperlukan untuk checks and balances demi mencegah timbulnya kecenderungan otoriter dari eksekutif yang begitu kuat; Ketiga, hal yang paling baru mengenai sistem dan karakter ekonomi yang akan diwujudkan, yaitu sistem ekonomi yang berdaulat dan mandiri. Ini berarti para politisi sudah menyadari bahwa sistem dan struktur ekonomi yang sedang berlangsung sekarang ini menunjukkan bahwa kita belum berdaulat benar dalam bidang ekonomi dengan terlihat banyaknya potensi ekonomi kita, seperti sumber daya alam (SDA) dan aset-aset ekonomi yang strategis dikuasai/dimiliki oleh pihak asing sehingga terasa kekayaan alam yang ada di bumi dan air tidak digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sesuai dengan amanat konstitusi kita UUD 1945; Keempat, tampaknya kedua partai itu, sebagai partai terbesar pada pemilu-pemilu sebelumnya menyadari bahwa mereka saling memerlukan jika salah satu di antara mereka terpilih membentuk pemerintahan (sebagai presiden). Ini berarti bahwa kedua partai itu akan membentuk koalisi, walaupun mungkin 'demi harga diri partai dan tokoh' keduanya akan mengajukan capres masing-masing, tapi mereka yakin salah satu di antara calon-calonnya akan menang, dan kalau ini terjadi, (sudah tentu ada perjanjian atau deal dahulu) partai yang menang akan menarik tokoh-tokoh dari partai koalisinya masuk dalam kabinet; Kelima, komunikasi politik atau silaturahim antara kedua tokoh politik itu diharapkan menimbulkan efek selanjutnya berupa mencairnya kebekuan hubungan yang terjadi, misalnya antara incumbent dan oposisi serta antara para tokoh poltik yang akan bertarung dalam pemilu parlemen dan pilpres nanti dan diharapkan silaturahim itu menjalar ke akar rumput ( grass roots ) sehingga terwujud pemilu yang aman, tertib, luber dan jurdil. Pertemuan antara Megawati sebagai tokoh oposisi pada era pemerintahan sekarang ini dengan Jusuf Kalla, wakil presiden, sebagai salah satu tokoh incumbent dan masing-masing, termasuk presiden sendiri, telah menyatakan akan maju sebagai capres, sudah tentu menimbulkan, secara psikologis ketidaknyamanan ( inconvenience ) di antara incumbent yang efek selanjutnya mungkin akan mengganggu jalannya pemerintahan sekarang ini yang tersisa sekitar tujuh bulan. Implikasi berikutnya adalah akan mendorong Partai Demokrat untuk mulai melirik partai-partai menengah, termasuk partai-partai berasas Islam dan berbasis konstituen Islam (Partai Islam) untuk membicarakan kemungkinan membentuk koalisi dengan terlebih dahulu menyamakan platform politik. Hal ini dimungkinkan karena Partai Demokrat telah mengklaim sebagai Partai Nasionalis-Religius. Dampak (implikasi) selanjutnya, diharapkan, mendorong partai-partai berasas Islam dan berbasis konstituen Islam yang pada Pemilu 1999 dan 2004 masing-masing mencapai 37,54 persen dan 38,33 persen untuk memulai gerak dan pendekatan lagi mengadakan penjajakan pembentukan semacam koalisi atau poros yang pernah ada, seperti Poros Tengah atau Poros Kerakyatan dengan mengikutsertakan partai-partai lain yang sepaham, baik dalam platform politik visi dan misi. Dengan pembentukan koalisi atau poros itu, posisi tawar ( bargaining position ) dari partai-partai menengah/kecil terhadap partai besar, seperti PDIP dan Golkar, menjadi besar. Bagi Partai-partai Islam sudah saatnya meninggalkan 'sikap untuk dilamar', dan memulai gerak untuk penjajakan koalisi/poros itu agar dalam dinamika politik yang kini begitu cepat, dapat menjadi pelengkap pelaku atau penyerta dan tidak menjadi pelengkap penderita.
Penulis: Pengamat Politik/Dosen FISIP Unas Sumber: Harian Republika, Senin 16 Maret 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



