Info Terakhir
- SELAMAT IEDUL FITRI 1431 H
- PEMPROV JABAR ADAKAN BUKU PELAJARAN GRATIS 2010
- 4 KELEBIHAN KARTU LEBARAN DIBANDING SMS
- GUBERNUR JABAR AHMAD HERYAWAN KLARIFIKASI KARTU LEBARAN
- DISPARBUD JABAR AKAN MINTA DANA DEKONSENTRASI
- BAHAN BAKAR JANGAN KHAWATIR
- PROGRAM DESA PERADABAN DILUNCURKAN
- GUBERNUR JABAR CANANGKAN 100 DESA MANDIRI
- PEMDA DIMINTA BERI KOMPENSASI
- DISHUB SEDIAKAN 10 POS PENGADUAN
Pengunjung
We have 102 guests onlineJajak Pendapat
| DRAMA POLITIK PDI-P |
|
|
|
| Monday, 02 February 2009 04:14 |
|
Oleh: M Alfan Alfian
Meski Rapat Kerja Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Solo (27-29 Januari) menyita perhatian, misteri calon wakil presiden belum terjawab tuntas. Terlalu banyaknya nama yang disebut justru membuat sosok sang pendamping yang dikehendaki kian misterius. Rakernas itu juga meninggalkan sindiran khas Megawati, sebagai pihak ”oposisi”, bahwa pemerintah seperti tengah bermain yoyo. PDI-P amat yakin dapat mencalonkan presidennya sendiri. Megawati diperkirakan bakal ”berduel seru” berhadapan dengan pesaing ”bebuyutan” Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), jago Partai Demokrat. Bagi Mega dan SBY, Pemilu Presiden 2009 adalah, meminjam judul novel Ernest Hemingway, A Farewell to Arms, ”pertempuran penghabisan”. Namun, bagaimana jika ada pesaing lain yang menjadi kuda hitam dan mampu mewujudkan wacana koalisi alternatif? Tentu persaingan akan menjadi lebih kompleks dan itu bukan tak mungkin. Faktor cawapres Asumsi SBY sebagai sosok yang sudah populer dan ”pasti menang” dengan atau tanpa Jusuf Kalla bisa terpatahkan oleh kekuatan Megawati seandainya mampu berpasangan dengan cawapres yang tepat sehingga lebih diapresiasi lebih positif oleh pemilih. Mengingat cawapres amat menentukan, tampaknya ini yang membuat ”dua pendekar” itu saling menunggu siapa yang bakal digandeng sebagai pasangan. Pasca-Rakernas Solo, publik dipaksa menunggu lebih lama atas jawaban misteri pendamping Megawati. Seperti kisah-kisah wayang, PDI-P memang seolah sedang membuka ”sayembara memperebutkan pendamping sang putri”. Beberapa nama telah disebut, manuver demi manuver terjadi. Anas Urbaningrum (Partai Demokrat) menyindir sebagai ”shopping politik”. Bagaimanapun, itulah bagian dari realitas proses politik PDI-P. Hitung-hitungan politik dilakukan secermat mungkin karena kontes politik pemilu presiden ditentukan banyak variabel. Pemenangnya tidak serta-merta. Perang citra (klaim) sudah pasti untuk memengaruhi persepsi masyarakat agar memberi dukungan. Kontribusi dan pengaruh para elite utama di seputar Megawati akan menentukan pilihan akhir, terlepas dari pertimbangan yang berbeda-beda atas jago-jago yang hendak dipasangkan. Faktor suara arus bawah yang didengar di Rakernas Solo juga penting. namun, faktor Megawati sendirilah yang tetap utama. Meski demikian, simbol dan ikon khas PDI-P masih bertahan di tengah rumitnya medan politik. Moncong putih masih mendengus menggelorakan slogan membela ”wong cilik”, dengan ikon sang ibu bijak Megawati, justru di tengah realitas keluarnya sejumlah elite internal partai yang lantas mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan. Terlepas dari kesangsian bahwa PDI-P masih moncer, positioning politiknya tidak sedilematis Partai Golkar yang belakangan terkesan tertatih-tatih dalam menetapkan tema kampanye yang efektif. PDI-P punya modal histori dan sebagai ”partai oposisi” berpeluang menjadi alternatif utama bagi yang tidak suka dengan gaya dan kebijakan pemerintah. Meski demikian, rakyatlah yang bakal menentukan nasib partai yang dipimpin putri Bung karno ini. Penulis: Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta Sumber: Harian Kompas, Senin 2 Februari 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



