Home Opini Media Pendidikan SELAMAT DATANG MENDIKNAS BARU
SELAMAT DATANG MENDIKNAS BARU PDF Print E-mail
Friday, 23 October 2009 13:56
Oleh: Ki Supriyoko

Sampai seminggu sebelum dilantiknya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI dan Boediono sebagai Wakil Presiden RI, tidak banyak orang tahu dan menduga bahwa menteri pendidikan nasional akan dipercayakan kepada Muhammad Nuh. Akan tetapi, sekarang semua orang mengerti bahwa Pak Nuh-lah yang menjadi orang nomor satu di Departemen Pendidikan.

Kalau kita lihat rekam jejaknya, sebenarnya Pak Nuh bukanlah orang baru di dunia pendidikan. Sebelum menjadi menteri pendidikan, ia adalah menteri komunikasi dan informatika. Sebelum menjadi menteri komunikasi dan informatika, ia adalah Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan sebelum menjadi Rektor ITS Surabaya, ia pernah menjadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri (PEN) Surabaya.

Melihat track record-nya tersebut, pantaslah kalau Pak Nuh dipercaya memegang kendali pendidikan nasional. Kiranya benar apa yang disampaikan Presiden SBY bahwa orang yang dipanggil di Cikeas, termasuk Pak Nuh, adalah memenuhi standar untuk menjadi pembantu presiden.
Berbasis internet

Sudah dapat dipastikan, hadirnya Pak Nuh untuk memimpin Departemen Pendidikan menimbulkan sikap yang beragam dari masyarakat, utamanya masyarakat pendidikan. Terlepas dari berbagai sikap tersebut, secara objektif Pak Nuh adalah pakar teknologi informasi (information technology) yang kepakarannya tengah diperlukan di dunia pendidikan untuk mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara maju.

Dibandingkan dengan negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Inggris, diakui atau tidak, pendidikan Indonesia memang tertinggal beberapa langkah. Salah satu indikator yang disepakati masyarakat dunia adalah lebih tingginya kualitas pendidikan tinggi di AS dan Inggris dibandingkan dengan di Indonesia.

Kalau kita mengacu publikasi Times yang mutakhir bulan ini, Oktober 2009, dalam "QS World University Rankings 2009", dari 10 besar perguruan tinggi terbaik dunia maka enam di antaranya dari AS dan empat dari Inggris; yaitu Harvard University (AS), University of Cambridge (Inggris), Yale University (AS), University College London (Inggris), Imperial College London (Inggris), University of Oxford (Inggris), University of Chicago (AS), Princeton University (AS), MIT (AS), dan California Institute of Technology (AS).

Bagaimana dengan Indonesia? Ada tiga perguruan tinggi yang masuk peringkat di barisan menengah, Universitas Indonesia (UI) Jakarta (201), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (250), dan ITB Bandung (351).

Dibandingkan dengan negara-negara tetangga pun kita berada di bawahnya, katakan dengan Australian National University, Australia di peringkat 17, National University of Singapore, Singapura (30), dan sebagainya.

Mengapa pendidikan di negara-negara maju maupun negara tetangga tersebut bisa lebih maju? Karena mereka dapat menguasai teknologi informasi secara lebih baik. Perkuliahan mereka sudah mengaplikasi pendekatan internet based learning atau pembelajaran berbasis internet yang sangat disukai mahasiswa. Dengan pendekatan ini, berbagai informasi dapat diakses lebih cepat dan lebih aktual untuk didiskusikan bersama di antara mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosennya.

Peran Mendiknas

Kalau diperhatikan, kunci kemajuan pendidikan di negara-negara maju tersebut adalah teknologi informasi. Dengan penguasaan teknologi informasi yang diaplikasi dalam dunia pendidikan, peserta didik dan siapa pun yang terlibat dalam dunia pendidikan dapat memperoleh informasi atau pengetahuan dan ilmu secara lebih cepat dan lebih aktual.

Dalam hal aplikasi teknologi informasi itulah, peran menteri pendidikan sangat diperlukan. Di sinilah Pak Nuh dapat berbicara banyak, baik dalam kapasitasnya sebagai menteri pendidikan maupun seorang pakar teknologi informasi.

Pak Nuh memperoleh gelar doktor dari Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) di Montpellier, Prancis. Tahun 2003, ia dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) di ITS Surabaya untuk bidang ilmu digital control system. Kita boleh yakin bahwa Pak Nuh akan mampu memanfaatkan perkembangan dan penguasaan teknologi informasi untuk memajukan pendidikan nasional sebagaimana tugas yang diembannya.

Sudah barang tentu Pak Nuh tak akan mungkin bisa bekerja sendirian. Ia memerlukan pembantu yang memiliki minat yang sama untuk memanfaatkan teknologi informasi. Maka, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih orang yang tepat sebagai pembantu-pembantunya kemudian memberikan pemahaman yang sama untuk memajukan pendidikan nasional melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Pemahaman seperti itu tidak terbatas pada "level atas" di lingkungan Senayan saja, tetapi harus mendarat sampai ke "level bawah", dalam hal ini sampai ke kepala sekolah, guru, dan siswa, bahkan diharapkan juga sampai ke masyarakat luas.

Seandainya Pak Nuh dengan kepakarannya mampu mengelola pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan secara baik, niscaya kemajuan pendidikan nasional akan dapat diakselerasi.

Selamat datang Mendiknas baru, selamat berjuang Pak Nuh!!!

Penulis: Direktur Program Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan Wakil Presiden PAPE yang bermarkas di Tokyo, Jepang

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 23 Oktober 2009