Info Terakhir
- AGENDA GUBERNUR - RABU, 10 MARET 2010
- RATUSAN RUMAH DI KADUNGORA TERENDAM BANJIR
- BIRO IKLAN DIDENDA Rp 255 JUTA
- LUBANG BESAR GANGGU AKSES JALAN
- JALUR PURWAKARTA-CIANJUR TERPUTUS
- SUDAH LAYAKKAH KOTA BEKASI MERAIH ADIPURA ?
- DANA BENCANA BERMASALAH
- 350 PERAHU TRADISIONAL BERLABUH
- GABAH HASIL PANEN PETANI CIANJUR ANJLOK DRASTIS
- KEPALA DINAS MEMBANTAH PENJUALAN TOKO DI CIPANAS
Pengunjung
We have 200 guests onlineJajak Pendapat
| PEMBANGUNAN BANGSA; PEMIMPIN PEDULI PENDIDIKAN |
|
|
|
| Friday, 03 July 2009 10:06 |
|
Oleh: Benny Susetyo
Perhelatan koalisi menjelang Pilpres 2009 cukup ramai dibicarakan. Namun, barangkali kita melupakan satu hal tentang fondasi pembangunan bangsa dan negara ini, yakni pendidikan. Sejauh mana partai politik atau para calon pemimpin memikirkan karut-marut dunia pendidikan di negeri ini? Karut-marut dan sisi gelap dunia pendidikan kita dari masa ke masa, dari pemimpin ke pemimpin, seolah-olah menyentakkan kita bahwa bangsa ini memiliki kepedulian yang sangat rendah dan tidak menyadari arti penting pendidikan. Para penguasa sering mempermainkan dan mencari keuntungan pribadi dari dunia pendidikan. Kebijakan pendidikan tidak tentu arahnya bergantung ke mana angin bertiup. Kesadaran berpendidikan dari kalangan masyarakat yang meningkat seiring dengan waktu tidak diiringi oleh kebijakan negara yang kondusif. Elite-elite lebih banyak berpikir sempit dan jangka pendek. Ketulusan dan perjuangan bagaimana pendidikan bangsa ini maju, luntur karena pikiran-pikiran sempit ini. Upaya untuk memajukan pendidikan bangsa ini adalah sebuah pekerjaan panjang dan tidak mungkin selesai besok. Kebiasaan berpikir jangka pendek telah membutakan mata hati kita, mau ke mana sebenarnya pendidikan kita ini. Sebagai sebuah pekerjaan panjang, kita memerlukan visi untuk mencapainya. Bila visi pendidikan sudah gelap, lalu apa yang akan terjadi pada bangsa ini? Terlalu banyak contoh yang diteladankan bangsa-bangsa lain dalam hal pendidikan. Mereka memiliki visi dan menyadari betul bahwa baik buruk nasib bangsa akan ditentukan dari sini, tidak dari mana pun. Logika jual beli Pendidikan pun tak jauh seperti perdagangan yang mempersyaratkan jual beli. Angka di bawah standar dianggap sebagai kegagalan total. Akibatnya, kehidupan dalam dunia pendidikan melulu dibatasi dengan simbolisasi ijazah dan menghasilkan berbagai fenomena ironis untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan ijazah. Kita telah melupakan teramat banyak substansi berpendidikan. Pendidikan bukan hanya sekadar media untuk menambah wawasan saja. Jauh lebih penting, pendidikan adalah untuk menanamkan nilai-nilai. Pendidikan bukan sekadar pengajaran. Pendidikan bukan sekadar berkenaan dengan aspek kuantitatif saja, melainkan yang lebih urgen dikedepankan adalah aspek kualitatif siswa. Kritik terhadap pelaksanaan ujian nasional bertebaran di mana-mana. Namun, seolah tak mau mendengar dan menghargai berbagai protes yang marak di penjuru negeri ini, penguasa menutup telinga terhadap semua masukan. Pemerintah seolah menutup semua kemungkinan yang diperkirakan para pengkritik. Orientasi keberhasilan pendidikan hanya diukur dari patokan pemerintah. Aspek negatif dan positifnya, jangka pendek dan panjangnya tidak dikaji secara mendalam. Ini terjadi karena ruang publik sudah penuh dengan dominasi aspek kekuasaan. Sikap penguasa seakan-akan tidak mau dikoreksi dan dikritik. Kebijakan pendidikan kita sejauh ini pada akhirnya hanya berhasil melahirkan ”buah simalakama”. Kontroversi dan polemik mengenai ujian yang diadakan di sekolah-sekolah seolah tidak kunjung selesai dipermasalahkan. Para birokrat pendidikan, teknisi dan praktisi pendidikan, serta masyarakat umum masih saja harus bergantung pada kebijakan penguasa walau sering berbenturan dengan aspirasi masyarakat. Pendidikan dibutuhkan tidak hanya sekadar untuk menghafal rumus atau transfer ilmu pengetahuan belaka. Itu penting, tapi bukan yang terpenting. Yang terpenting dari mengapa pendidikan diselenggarakan adalah agar anak-anak bangsa lebih merdeka dalam menentukan pilihan, lebih berani dalam bersikap jujur, lebih kreatif dan memiliki solidaritas yang kuat. Belajar dari kegagalan Pemerintah tidak pernah berkaca pada segenap kegagalan yang direproduksi berkali-kali. Pemerintah hanya bisa membusungkan dada ketika menyaksikan sebagian sangat kecil siswa yang menerima kalungan medali. Tetapi mereka abai terhadap berbagai persoalan masyarakat akibat kesalahan paradigma ini. Kontroversi berbagai kebijakan pendidikan dari pemerintah cukup jelas menggambarkan betapa lemahnya visi pemerintah dalam kebijakan pendidikan selama ini. Visi adalah sebuah jangkauan terpanjang dari apa yang hendak dicapai dan dituju. Tetapi, kalau suatu kebijakan hanya diarahkan semata-mata untuk mengejar target, di mana visi pendidikan kita yang mencerdaskan itu. Inilah yang membuat paradigma pendidikan menjadi semakin tidak jelas. Penulis: Rohaniwan Sumber: Harian Kompas, Jum'at 03 Juli 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- STIMULUS DAN EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL
- MAJALENGKA DAPAT JATAH 368 CPNS



