Home Opini Media Lingkungan Hidup KETAHANAN LINGKUNGAN
KETAHANAN LINGKUNGAN PDF Print E-mail
Tuesday, 24 March 2009 12:12

Oleh: Heriyono



Misi dari ketahanan lingkungan adalah melindungi lingkungan dan kesehatan umat manusia melalui pencarian solusi dan mengedukasi melalui kampanye, kepedulian lingkungan, kebijakan dan penelitian yang semuanya ditujukan untuk mendapatkan atau menjaga kesediaan udara bersih, air bersih, dan menyelamatkan ekosistem sehingga pada akhirnya membawa Indonesia untuk berkontribusi pada perubahan iklim dunia.

Indonesia telah menjadi perhatian dunia mengenai masalah lingkungan hidup, tetapi disayangkan perhatian tersebut cenderung memberikan imaji kurang positif. Jika kita melakukan refleksi pada apa yang telah kita lakukan selama ini, imaji tersebut memang benar adanya. Mari kita lihat skala lebih kecil dalam kawasan Jawa Barat atau bahkan Bandung dan sekitarnya. Hampir semua program yang ditujukan untuk ketahanan lingkungan selalu dilakukan secara parsial sehingga penanganan tidak tuntas. Mulai dari program penghijauan, normalisasi-rehabilitasi-rekonstruksi sungai, penanganan masalah sampah, serta tatanan kota yang belum sepenuhnya mengacu kepada cetak biru ketahanan lingkungan yang disepakati semua pihak terkait.

Berkelanjutan

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pembangunan kawasan konservasi alam tidak hanya melindungi tetapi juga harus melestarikan spesies maupun ekosistemnya. Jasa insan akademik dan dunia pendidikan terhadap pembangunan konservasi sangat menonjol. Sejak awal, insan akademik berperan secara nyata sebagai pelopor gerakan cinta alam, ataupun melakukan berbagai penelitian baik ekosistem maupun spesies yang dilindungi, bahkan melakukan pendidikan bagi masyarakat. Kemampuan civitas academica tersebut dapat ditinjau dari dua aspek penting, yaitu kawasan konservatif sebagai satu unit manajemen memerlukan kesiapan baik sumber daya manusia maupun Iptek yang dapat dilaksanakan secara nyata di lapangan dalam rangka melakukan pengelolaan secara intensif; dan meningkatkan peran aktif masyarakat, sehingga diperlukan pola-pola pendekatan masyarakat secara tepat sesuai kondisi dan situasi lingkungannya.

Lemahnya kedua aspek penting ini menyebabkan kegagalan projek-projek konservasi alam di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi sesuai dengan kemampuannya masing-masing banyak melakukan kegiatan di bidang konservasi alam, bahkan banyak di antaranya mengembangkan disiplin ilmu konservasi alam. Di bidang penelitian, karya-karya insan akademik dalam bidang lingkungan sangat terasa dalam mengungkap potensi-potensi kawasan konservasi. Tanpa dilandasi hasil-hasil penelitian yang akurat akan sulit mengembangkan pengelolaan spesies maupun habitatnya.

Penelitian-penelitian di wilayah Jabar, tidak hanya meliputi kawasan konservasi, namun juga meliputi kawasan sekitarnya, yaitu dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya yang terkait dengan kawasan konservasi alam. Melalui bidang pengabdian masyarakat, banyak dilakukan antara lain: memberikan penyuluhan kepada pengelola kawasan maupun masyarakat yang tertinggal di sekitar kawasan konservasi. Agar pengelolaan lebih efektif, maka perlu dilakukan berbagai penyempurnaan, khususnya kemampuannya untuk mengatasi tekanan manusia dan pembangunan ataupun kemunduran fungsi tatanan sistem ekologis di dalam kawasan konservasi yang bersangkutan. Kalangan civitas academica dapat memberikan kontribusi kemampuannya bagi pengembangan pengelolaan kawasan konservasi.

Dengan makin majunya teknologi kebijakan pemerintah tentang lingkungan hidup, makin memerlukan analisis risiko dalam menunjang ketahanan lingkungan hidup. Masih tak akan cukup waktu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang lingkungan hidup-sosial-budaya-ekonomi dan fisik di daerah yang sangat beragam. Oleh karena itu, diperlukan juga hubungan langsung dengan universitas dan pusat-pusat ilmu di luar negeri. Hubungan itu untuk mendapatkan metodologi penelitian mutakhir. Untuk mendukung ketahanan lingkungan hidup, semakin baik jika kemampuan kaum akademisi ditingkatkan untuk mengajar dan melakukan penelitian serta penerapannya yang sesuai dengan kondisi lingkungan hidup sosial-budaya-ekonomi dan fisik wilayah Jawa Barat.

Kerja sama


Kerja sama dalam bentuk golden triangle akademik-pemerintah-swasta atau akademik-bisnis-government yang selama ini dilakukan, pada kondisi sekarang sudah harus mulai beralih menjadi masyarakat-akademik-pemerintah-swasta. Namun, semua ini akan tetap menjadi menara emas tanpa peran media massa. Oleh karena itu, peran media massa yang beragam baik cetak maupun elektronik dapat memayungi pemberitaan dengan penuh tanggung jawab semua yang dilakukan empat unsur ini.

Swasta meskipun masih harus ditingkatkan partisipasinya, tetapi sudah menunjukkan kesamaan visi, demikian juga dengan pemerintah. Unsur masyarakat masih sangat beragam visi terhadap ketahanan lingkungan sehingga sosialisasi masih harus terus dilakukan. Sikap yang berbeda muncul dari kalangan akademik meskipun kesamaan visi telah terbentuk. Seyogianya kalangan akademik bersatu tidak mewakili dan mementingkan perguruan tinggi asal, tetapi melebur untuk kepentingan ketahanan lingkungan yang lebih besar.

Semua rencana program, implementasi berikut pengawasannya, luaran, dan outcome tidak menjadi optimal tanpa peran serta dari media cetak dan elektronik. Oleh karena itu, unsur media massa yang bertanggung jawab, memberikan berita berdasarkan fakta, serta proporsional akan sangat membantu suksesnya program ketahanan lingkungan ini.***


Penulis: Rektor Unjani

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 24 Maret 2009

 

Slide


priangan.jpg

Berita Lain