|
Oleh: Gai Suhardja
Melihat sepintas saja pertumbuhan lalu lintas Kota Bandung tampaknya mesti jadi perhatian semua pihak. Dari kendaraan umum hingga kendaraan pribadi menyebabkan kemacetan di seluruh jalan utama di Kota Bandung. Pejalan kaki sekalipun akan merasakan betapa tidak mudah menyeberang jalan.
Wilayah perkantoran, perdagangan, dan pertokoan dengan perparkiran yang padat, semakin menambah kemacetan pada saat keluar masuk area parkir masing-masing. Kemacetan kian memuncak pada Jumat, Sabtu, Minggu, khususnya menuju area wisata belanja di Jalan Dago hingga ke Jalan Merdeka melewati Gereja Katedral, Jln. Cihampelas, lintas Cipaganti-Pasupati, Jln. Pasirkaliki, Jln. Pasteur, Jln. Suria Sumantri, hingga ke utara Jln. Setiabudhi, dan Pasupati ke arah Jln. Surapati dan Jln. LLRE Martadinata (Riau). Polisi lalu lintas tentu melaksanakan tugasnya dengan berbagai upaya menertibkan para pengendara di wilayah jalan padat dan macet.
Pembangunan gedung dan fasilitas penginapan/perhotelan oleh pengembang properti menjadi marak oleh fenomena wisata belanja Kota Bandung, restoran merebak karena wisata kuliner yang dikejar wisatawan dari luar kota. Bandung sebagai kota bersejarah sedang menghadapi arus kuat perubahan. Para pengusaha yang jeli melihat peluang, terus menemukan inovasi usaha, sementara kreativitas para pemuda dengan industri kreatifnya menghasilkan daya ekonomi.
Gejolak krisis ekonomi global yang melanda seluruh dunia memang berpengaruh di Kota Bandung. Akan tetapi, wisata justru menjadi kompensasi masyarakat terhadap situasi ini. Terbukti arus keramaian wilayah wisata belanja dan kuliner tidak sepi kekurangan pengunjung. Lalu lintas Bandung tetap saja macet. Bandung heurin ku tangtung semakin nyata.
Kondisi tersebut adalah gambaran suasana yang membutuhkan perhatian semua pihak. Apalagi potensi wisata Kota Bandung adalah potensi daya pikat usaha dan bisnis kemajuan peningkatan daya ekonomi berbagai segmen masyarakat Bandung.
Paham tentang Bandung sebagai eco-city adalah bagaimana kota dan penghuninya dapat mengantisipasi perubahan iklim dan mengatasi persoalan-persoalan ekologis yang ada sekarang dan yang akan datang secara sustainable. Selain itu, modern-cultural-city mengarah kepada karakter dasar dari Kota Bandung itu sendiri, yang dibina sebagai kota modern namun tetap mengakar pada budaya lokal karena Bandung sejak dahulu menjadi pusat inovasi dan kreasi seni dan material culture modern, atau industri kreatif. Arsitektur Bandung dengan gaya art deco yang menurut pengamat memiliki jumlah amat signifikan dibandingkan dengan kota-kota di seluruh dunia, merupakan kebanggaan wisata budaya Kota Bandung yang patut dipelihara kelestariannya.
Saatnya pemerintah kota mendorong upaya bersama menata pembaharuan dan regulasi supaya Bandung sebagai kota kunjungan wisatawan semakin mampu melayani dengan membangun daya pikat mewujudkan regulasi dan ketertiban kota, khususnya transportasi publik yang memadai menuju masa depan.
Bila mengamati situasi tersebut, barangkali bisa dimulai kajian kelayakan transportasi publik kendaraan monorail, dari persilangan utara Bandung ke arah selatan dan arah timur Bandung ke arah barat, dengan wilayah Pasteur-Pasupati menjadi terminal dan pusat keramaian lalu lintas wisata Kota Bandung.
Dampak positif monorail adalah menurunkan tingkat penggunaan kendaraan pribadi. Dari buruh sampai pekerja kantor, profesional, dosen, mahasiswa, pelajar, wiraswasta, awam lainnya yang mempunyai jadwal kerja teratur akan memilih monorail untuk ketepatan waktu tiba di tujuan, untuk penghematan energi, kenyamanan, dan terutama keselamatan.
Keberhasilan Malaysia dan Singapura dengan monorail tidak semata soal lalu lintas menjadi teratur, karena proses awal pembangunan pilar/rail dan terminal/transit juga memberi dampak langsung kesempatan peluang pekerjaan.
Terminal transit monorail yang diatur terletak pada titik penting pusat-pusat keramaian usaha, dan lokasi-lokasi institusi penting, akan menghidupkan aktivitas berbagi peluang kemajuan usaha tiap segmen penduduk kota maupun wisatawan. Banyak orang akan tertib waktu, dunia usaha lebih tepat waktu, proses produksi dan perlintasan barang lebih tepat waktu. Tanpa kemacetan lalu lintas, roda ekonomi berputar cepat untuk seluruh segmen karena mereka bersama mewujudkan keteraturan waktu. Budaya disiplin akan tumbuh terbangun oleh hal ini.
Apakah masalah yang akan timbul dengan adanya monorail? Kecelakaan/kelalaian pengguna? Kejahatan? Bagaimana dampaknya terhadap sopir taksi dan sopir angkutan kota, atau kendaraan rakyat lainnya? Kiranya kajian studi kelayakan perlu menemukan solusinya. Mungkinkah jadi peluang kerja bagi teknisi/pemeliharaan/tenaga kerja kebersihan monorail, petugas terminal tiket, pemandu wisata, dan lain sebagainya? Siapa investor monorail? Kapan dana investasi dapat segera kembali? Jika menghitung budget pembiayaan di tengah suasana krisis seperti ini tentu tidak harus pesimis. Terlebih Pemprov Jabar telah menaikkan alokasi APBD 2009 untuk sektor pariwisata menjadi Rp 80 miliar. Kiranya hal itu perlu mendapat sambutan karena optimisme keputusan itu bisa mendorong potensi dikembangkannya sektor pariwisata Jabar.
Melihat kenyataan lalu lintas Kota Bandung yang padat, jika ada survei dan kajian bagi kemungkinan pengguna monorail, tentu akan terukur perhitungan harga tiket perjalanan berlangganan prabayar, tiket tunai dengan jarak tujuan opsional, dan jumlah perkiraan jam waktu operasional, barangkali ada asumsi positif untuk pengusaha transportasi? Peraturan pemerintah untuk transportasi publik apakah mutlak dikelola pemerintah? Atau mungkinkah perusahaan swasta terpilih yang mampu bertanggung jawab mengelola bermitra dengan Pemkot Bandung?
Kita perlu terus berupaya tidak hanyut dalam krisis global. Kini, saatnya bersinergi antara pemerintah, pengusaha, peneliti dari konsorsium institusi perguruan tinggi multidisiplin ilmu, juga aspirasi kaum muda kreatif, aspirasi dan kepentingan masyarakat Kota Bandung, bukan menjadikan "pariwisata" dan "devisa" sebagai tujuan akhir, melainkan kesejahteraan masyarakat, kesehatan lingkungan, dan peningkatan kualitas budaya. Kota Bandung bukan "milik" pemerintah, bukan "milik" golongan elite, tapi milik semua. Mari menuju perubahan, meniti jalan bersama-sama menuju milenium ketiga untuk martabat peradaban bangsa.***
Penulis: Dekan FSRD Universitas Kristen Maranatha. Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 26 Februari 2009 |