|
|
|
|
TUNTASKAN KRISIS KLIMATIK |
|
|
|
|
Tuesday, 08 December 2009 23:31 |
|
Oleh: E.M. Lukman Hakim
Pertemuan Para Pihak XV di Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember 2009 bakal menjadi pertaruhan 192 negara dalam mengatasi persoalan perubahan iklim. Hal tersebut dihadapkan pada situasi menjelang berakhirnya Protokol Kyoto pada 2012
Persoalan perubahan iklim kian kencang terasa dampaknya. Negara kepulauan seperti Maladewa, Indonesia, dan negara kepulauan lainnya di perairan Asia Pasifik yang paling menderita. Pemodelan iklim mengindikasikan kenaikan suhu di wilayah Asia Pasifik berada pada orde 0.5-2 derajat Celsius pada tahun 2030 dan 1 hinga 7 derajat Celsius pada 2070. Suhu akan menghangat secara cepat di wilayah kering Pakistan utara, India, dan Cina barat. Hujan musim dingin diperkirakan akan menurun di Asia Selatan dan Tenggara, diduga akan meningkatkan kekeringan dari musim dingin muson. Wilayah Asia Pasifik akan mengalami akibat dari kenaikan muka air laut global sebesar 3-16 sentimeter pada 2030 dan 7-50 sentimeter pada 2070 bervariasi dengan tinggi muka air laut regional. (Preston, 2006).
Indonesia memiliki 17.000 pulau, dan 60 persen penduduknya hidup di kawasan pesisir. Lokasinya di garis khatulistiwa menjadikannya korban utama jika terjadi kekacauan iklim. Pada 2030 sekitar 2.000 pulau diperkirakan tenggelam, garis pantai mundur ratusan meter ke arah daratan, jutaan hektare tambak lenyap, dan air makin langka.
|
|
Read more...
|
|
Monday, 07 December 2009 05:30 |
|
Oleh: William Chang
Sekitar 200 juta tanaman baru akan muncul di seantero Tanah Air jika ajakan Presiden Yudhoyono terlaksana dalam pekan ketiga November 2009. Bagaimanakah melestarikan dan menyuburkan kecerdasan ekologis ini?
Gerakan penanaman pohon analog program ”lamtorogungisasi” Pak Harto. Khazanah tanaman multikultur diperkaya dalam waktu singkat. Cepat atau lambat, zona tanaman sejenis akan bergeser. Hanya, pendekatan imperatif dalam proyek penghijauan belum pasti menyentuh kesadaran ekologis rakyat kecil.
Pandangan tentang alam sebagai sumber kekayaan telah merusak alam sebagai lingkungan hidup. Keselamatan lingkungan diabaikan, alam diobyekkan. Pandangan ini berbeda dari kesadaran orang Indian di Amerika Utara yang memperkenalkan model- model penghargaan baru bagi lingkungan hidup. Penyingkapan diri Yang Ilahi ditemukan dalam alam (John E Smith).
|
|
Read more...
|
|
Monday, 07 December 2009 05:28 |
|
Oleh: Syamsul Hadi
KTT PBB untuk Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember, memiliki makna strategis dalam kerja sama internasional mengatasi persoalan pemanasan global.
Agenda utama KTT ini adalah mewujudkan kesepakatan baru tentang langkah-langkah nyata dalam penurunan emisi gas rumah kaca global pascaberakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012.
Dalam hal ini, Sekretaris Eksekutif Badan PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) Yvo de Boer menekankan pentingnya semua negara menunjukkan spirit kerja sama dan kompromi guna mencapai kesepakatan bersama. Ia menekankan pentingnya kesepakatan ”hitam di atas putih” terkait komitmen negara-negara maju ataupun berkembang untuk pengurangan emisi gas rumah kaca sebelum 2020.
|
|
Read more...
|
|
INDONESIA, EMITER ATAU PENYERAP |
|
|
|
|
Monday, 07 December 2009 05:26 |
|
Oleh: Transtoto Handadhari
Kebijakan nasional mencanangkan penurunan emisi karbon 26 persen sampai tahun 2020.
Ini menyiratkan negeri ini seakan terperangkap pendapat dunia bahwa Indonesia adalah negara emiter nomor tiga dunia. Target itu diprediksi tidak mudah dicapai bila hidden common weakness berupa kendala sosial dan kelemahan budaya kesungguhan tidak dapat disingkirkan.
National Communication tentang perubahan iklim yang digelar di Jakarta di bawah UNDP dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (23/11) menyuratkan hal itu. Padahal, keyakinan untuk mencapai target pengurangan emisi karbon yang besar harus disuarakan pada pertemuan puncak COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember 2009.
|
|
Read more...
|
|
Monday, 07 December 2009 05:25 |
|
Oleh: Ivan A Hadar
Sepanjang 7-18 Desember, Kopenhagen menjadi tempat perundingan Para Pihak Ke-15 (COP-15) Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).
Sedianya, perundingan dihadiri oleh 85 kepala negara dan 1.500 delegasi, dan diharapkan menghasilkan kesepakatan global bagi upaya menahan laju pemanasan bumi, penyebab perubahan iklim. Kesepakatan Kopenhagen diharapkan menjadi pengganti Protokol Kyoto yang masa berlakunya berakhir pada 2012.
Bagi yang optimistis, Kopenhagen diyakini bakal melahirkan kesepakatan kuat. Hal ini didasari atas sikap AS dan China yang mulai kondusif. Akhir November, Pemerintah AS berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 17 persen dari level 2005 pada 2020. Seolah tak mau kalah, sehari kemudian, Pemerintah China mengumumkan target penurunan emisi sebesar 40-45 persen dengan level dan kurun waktu yang sama dengan AS. Bedanya, target penurunan ”intensitas karbon” China didasarkan produk domestik bruto (GDP) (Kompas, 28/11/2009).
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 1 of 18 |