Info Terakhir
- PEMPROV JABAR ADAKAN BUKU PELAJARAN GRATIS 2010
- 4 KELEBIHAN KARTU LEBARAN DIBANDING SMS
- GUBERNUR JABAR AHMAD HERYAWAN KLARIFIKASI KARTU LEBARAN
- DISPARBUD JABAR AKAN MINTA DANA DEKONSENTRASI
- BAHAN BAKAR JANGAN KHAWATIR
- PROGRAM DESA PERADABAN DILUNCURKAN
- GUBERNUR JABAR CANANGKAN 100 DESA MANDIRI
- PEMDA DIMINTA BERI KOMPENSASI
- DISHUB SEDIAKAN 10 POS PENGADUAN
- PEMPROV ANGGARKAN Rp. 3 MILIAR
Pengunjung
We have 109 guests onlineJajak Pendapat
| PILIH GIZI ATAU ROKOK? |
|
|
|
| Tuesday, 27 January 2009 09:14 |
|
Oleh: Siti Nuryati
Kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masih menjadi persoalan serius. Derajat kesehatan masyarakat masih memprihatinkan, salah satunya ditandai tingginya angka penderita gizi buruk pada generasi penerus bangsa ini. Mereka terlalu lama dibiarkan makan seadanya. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kecuali beras, tingkat konsumsi per kapita tiap tahun Indonesia untuk berbagai produk pangan penting masih sangat rendah. Tingkat konsumsi rakyat Indonesia untuk telur 3,48 kg/kapita/tahun, Malaysia 17,62 kg, dan Filipina 4,51 kg. Konsumsi rakyat Indonesia untuk daging 7,1 kg/kapita/tahun, Malaysia 46,87 kg, dan Filipina 24,96 kg. Konsumsi ikan rakyat kita juga masih rendah, baru 26 kg/kapita/tahun, di bawah Malaysia yang 45 kg. Konsumsi sayuran bangsa kita 37,94 kg/kapita/tahun. Sementara itu, standar FAO 65,75 kg dan tingkat konsumsi susu rakyat Indonesia baru 6,50 liter kapita/tahun (Husodo, 2008). Ironisnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menunjuk Indonesia sebagai negara terbesar ketiga pengguna rokok di dunia, di bawah Cina dan India. Tercatat, lebih dari 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Adapun kematian akibat adiksi nikotin mencapai 1.172 jiwa per hari atau lebih dari 400 ribu orang per tahun. Angka itu pun melebihi kematian karena AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Ironisnya, biaya kesehatan dan pendidikan orang miskin terdegradasi oleh konsumsi rokok, yang jauh lebih besar. Survei Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) 2005 menunjukkan, orang miskin mengeluarkan biaya Rp 113.000,00 per bulan, lebih besar dibandingkan dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang hanya Rp 100.000,00 per bulan. Data itu juga menyebut, 12,43 persen pendapatan si miskin dialokasikan untuk rokok. Kaum miskin Indonesia mengalokasikan untuk rokok 15 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk membeli daging (lauk-pauk), delapan kali lipat dari biaya pendidikan dan enam kali lebih besar dibandingkan dengan biaya kesehatan (Tempo, 18/11/2008). Penelitian Khomsan dkk. di desa-desa di Bogor (2008) menunjukkan rata-rata pengeluaran rumah tangga mencapai Rp 456.000,00. Persentase pengeluaran pangan dan nonpangan hampir sebanding atau fifty-fifty dengan beberapa perincian sebagai berikut; rokok (7%), pendidikan (8%), kesehatan (12%), bahan bakar/penerangan (7%), lauk pauk (10%), dan beras (7%). Penelitian Poverty and Smoking oleh Martin Bobak yang dipublikasikan Bank Dunia, menyimpulkan bahwa merokok lebih sering ditemukan pada orang miskin di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Data berikut adalah buktinya, jumlah perokok aktif di Indonesia naik dari 22,5% pada 1990-an menjadi 60% dari jumlah penduduk pada tahun 2000. WHO memperkirakan bahwa 59% pria berusia di atas 10 tahun di Indonesia telah menjadi perokok harian. Diperkirakan, konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok. Dalam sepuluh tahun terakhir, konsumsi rokok di Indonesia mengalami peningkatan 44,1% dan jumlah perokok mencapai 70% penduduk Indonesia. Yang lebih menyedihkan lagi, 60% di antara perokok adalah kelompok berpenghasilan rendah. Statistik kesehatan juga menunjukkan, lebih banyak perokok di perdesaan daripada di perkotaan. Tingginya konsumsi merokok dipercaya bakal menimbulkan implikasi negatif sangat luas, tidak saja terhadap kualitas kesehatan, tetapi juga menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas menyebutkan, dua sampai lebih dari empat pada sepuluh anak balita menderita gizi kurang di 72 persen kabupaten Indonesia. Kondisi kesehatan anak Indonesia bahkan termasuk rendah di kelompok ASEAN. Mereka mengalami defisiensi yodium, zat besi, dan vitamin A. Padahal, semua ini terkait dengan pengembangan sumber daya manusia yang pintar dan kompetitif di masa depan. Anak-anak bergizi kurang, akan terseok-seok menghadapi persaingan. Tidak hanya dengan anak-anak yang beruntung dilahirkan oleh keluarga berpendidikan dan tidak memprioritaskan anggarannya untuk rokok, tetapi juga serbuan sumber daya global di dunia yang makin terbuka ini. Karena gizinya kurang, mereka juga tak mampu mengikuti pendidikan dengan baik. Akibatnya, anak-anak ini ketika dewasa tak mampu mengakses pekerjaan layak dan tak pernah bisa keluar dari jerat kemiskinan seperti orang tuanya. Padahal, saat ini saja barisan angka penduduk miskin di Indonesia sudah mencapai puluhan juta orang. Hal yang tak kalah seriusnya adalah ketika pada usia anak-anak, akses mereka terhadap rokok (menjadi perokok aktif) seolah menemukan jalannya. Permasalahan menjadi kian mengkhawatirkan tatkala barang ini dari tahun ke tahun semakin mudah diakses anak-anak. Survei Universitas Padjadjaran (1978) melaporkan usia pertama kali merokok pada anak kala itu adalah 12 tahun. Sebelas tahun kemudian, penelitian Universitas Airlangga (1989) melaporkan fakta baru bahwa angka 12 itu telah bergerak ke angka delapan tahun. Terbaru, penelitian yang dilakukan bersama antara Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Padjadjaran, usia anak pertama kali merokok telah menyentuh angka tujuh tahun. Survei yang digelar tahun lalu, menyebutkan 37,3 persen pelajar dilaporkan biasa merokok, tiga dari sepuluh pelajar menyatakan pertama kali merokok pada umur di bawah sepuluh tahun. Untuk itu, perlindungan hukum bagi anak dan remaja sebagai korban maupun calon perokok pun harus ditegakkan. Mata rantai regenerasi perokok harus diputuskan agar tidak terjadi ketergantungan merokok di kalangan anak dan remaja. Hal ini bisa dilakukan dengan cara merekonstruksi kurikulum sekolah sehingga materi pelajaran olah raga tidak hanya berisi permainan dan pertandingan, tetapi juga gaya hidup sehat. Ruang gerak jaringan distribusi rokok perlu dibatasi dengan mempersempit ruang aktivitas merokok dan penerbitan aturan bahwa penjual rokok harus berlisensi. Hal ini harus disertai penerbitan Undang-Undang Pengendalian Dampak Produk Tembakau untuk melindungi generasi muda dari dampak buruk merokok baik bagi kesehatan, sosial maupun ekonomi. *** Penulis: Staf peneliti di Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB). Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 27 Januari 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



