|
Oleh: Fahri Hamzah
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Pembukaan UUD 19945 (naskah asli). Seandainya kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari para penjajah, maka para pendiri bangsa kita (founding fathers) tidak akan sanggup menyusun teks proklamasi. Seandainya penjajahan berkesan baik pada hati bangsa ini, tentu generasi terdahulu tidak akan menyusun pembukaan UUD 1945 yang menakjubkan, yang merupakan mimpi setiap bangsa dan setiap manusia yang memang dilahirkan merdeka. 17 Agustus 1945 bukanlah semata-mata hari lahir bangsa Indonesia. Tanggal itu juga adalah hari bangkit dunia.
Dunia mendapatkan inspirasi dari perjuangan rakyat Indonesia dan dunia mengagumi sebuah bangsa yang membebaskan diri dengan cara yang sederhana; melawan apa adanya dengan apa yang kita punya dari keringat, darah dan airmata kita sendiri. Tentu itu semua mustahil tanpa transendensi yang mendalam dan keyakinan kepada Yang Maha Kuasa. Maka, para pendahulu menulis lagi, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Penjajahan Israel Lobby Zionis dan orang-orang Israel terus membujuk dunia dan menipunya bahwa seolah-olah tanah Palestina adalah tanah mereka. Rekayasa besar telah dilakukan dan migrasi orang-orang yahudi beraliran zionis (para pemimpi bukit zion) dari seluruh dunia telah dimobilisir. Berdirilah sebuah negara haram yang menguasai tanah pribumi. Karena manipulasi sejarah dan lobby, para pemimpin dunia, terutama Amerika Serikat dan Inggris terus membuat rekayasa seolah-olah keadaan akan lebih baik. Padahal, nasib rakyat Palestina terus terbengkalai. Bayangkan, Abad 21, di jantung peradaban besar, mereka masih menyepakati sebuah penjajahan.
Maka, hari-hari ini ketika Gaza dibanjiri bom lewat pesawat tempur milik Israel dan ribuan korban jatuh seketika. Apa yang dapat kita simpulkan sebagai bangsa merdeka yang memiliki proklamasi dan pembukaan UUD 1945? Apakah mungkin kita diam membaca dua naskah sejarah ini? Penjajahan Israel ada dan bersumber dari wawasan primitif tentang sekelompok manusia yang ingin menguasai manusia lain hanya karena mereka tidak dianggap sempurna sebagai manusia. Oleh karena itu, kebiadaban apapun pantas dilakukan.
Mari kita lihat sepotong artikel tentang rumah sakit anak dan tempat ibadah yang hancur lebur, atau pasar dan universitas tempat orang sedang berkumpul, atau sebuah keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang masih bayi. Semua mereka sasar dan tidak satupun mereka lewatkan hanya karena mereka punya pendirian bahwa HAMAS berada dan menguasai tanah Gaza! Etika perang dari mana ini? Konvensi dari peradaban apa? Tidak ada penjelasan. Kebrutalan Israel adalah penjajahan yang paling primitif di abad 21 ini. Melawan HAMAS HAMAS pada awalnya adalah LSM, maksimal sebuah ormas yang didirikan untuk tujuan penyadaran dan pendidikan. Hamas membangkitkan kesadaran bangsa Palestina akan keterbelakangan, kebodohan dan penjajahan asing. Membayangkan Hamas, persis seperti kita membaca sejarah kita sendiri dalam sejarah kemerdekaan. Ada Budi Oetomo, Syarikat Islam dan serangkaian kongres dan sumpah pemuda yang menjadi momentum persatuan nasional. Hamas juga ingin bangsa Palestina bersatu tetapi ada saja kekuatan yang ingin memecah. Lalu Hamas menjadi partai politik, ikut pemilu secara demokratis dan menang mutlak.
Dengan kemenangan HAMAS, seluruh dunia menyambut baik. Karena ini adalah pemilu pertama setelah Yasser Arafat wafat. Tidak kurang, The Carter Center membuat laporan yang melaporkan bahwa pemilu berlangsung secara memuaskan. Tapi, kemenangan HAMAS tidak dapat diterima baik oleh Israel yang langsung memboikot pemerintahan HAMAS. Israel dan sekutunya juga memecahbelah bangsa Palestina dan mendorong agar perpecahan itu pengarah kepada pengambilalihan eksekutif kembali oleh Mahmud Abbas yang sebetulnya tidak memiliki legitimasi.
Israel adalah negara palsu yang frustasi. Sebuah negara yang kalah melawan LSM atau Ormas dan membuat Israel semakin ketakutan lalu mengeroyok dengan peralatan persenjataan tercanggih yang ada di Blok Amerika yang kuat. HAMAS tetap melawan secara sporadis, persis seperti gerilya kita yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman atau Bung Tomo. Dan Israel akan semakin kehilangan waktu meski Amerika yang sedang bangkrut juga membelanya habis-habisan.
Bagi kita bangsa Indonesia, perlawanan bangsa Palestina adalah perang kemerdekaan. Meski kita mengutuk adanya perang ketika peradaban kata-kata sudah begini maju, tetap saja Israel dan sekutunya yang bermain kotor. Maka, jika kita bercermin pada sejarah kita; derita Palestina adalah derita kita jua, darah mereka, air mata mereka, nyawa dan mayat bayi yang tercecer adalah bagian dari cita-cita kita yang belum terwujudkan..Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan...wallahualam.
(Penulis: Anggota DPR RI, Mantan Ketua Umum KAMMI) Sumber: Harian Republika, Selasa 13 Januari 2009
|