Info Terakhir
- GUBERNUR BUKA PELATIHAN BAGI PEREMPUAN
- GUBERNUR JABAR DORONG INVESTASI AUSTRIA DI JAWA BARAT
- NETTY HERYAWAN TERJUNKAN GURU PRIVAT KE BALEENDAH
- CANANGKAN PROYEK INFRASTRUKTUR RATUSAN MILIAR DI BEKASI
- AGENDA GUBERNUR - RABU, 10 MARET 2010
- RATUSAN RUMAH DI KADUNGORA TERENDAM BANJIR
- BIRO IKLAN DIDENDA Rp 255 JUTA
- LUBANG BESAR GANGGU AKSES JALAN
- JALUR PURWAKARTA-CIANJUR TERPUTUS
- SUDAH LAYAKKAH KOTA BEKASI MERAIH ADIPURA ?
Pengunjung
We have 151 guests onlineJajak Pendapat
| ILMU PENGETAHUAN; SETIAKI "KEPEPET" |
|
|
|
| Friday, 03 July 2009 10:08 | |||
|
Oleh: L Wilardjo
Dalam lakon carangan ”Semed-Temon”, Setiaki berkelahi melawan Kurawa Bersaudara. Baladewa memihak Kurawa. Maka Kresna, adik Baladewa dan sepupu sekaligus boss- nya Setiaki, bertanya, ”Eh, Setiaki, kalau Kaka Prabu Baladewa marah, apakah kamu berani melawan beliau?” Jawab Setiaki, ”Ya terpaksa berani, kalau kepepet.” Seperti Setiaki itulah sikap Kim Jong Il sekarang ini. Korea Utara berani melawan Korea Selatan, Jepang, bahkan Amerika Serikat sebab ia kepepet. Korut menjual rudal ke Iran dan membangun reaktor di Suriah. Ia juga mengoperasikan fasilitas nuklir, menguji coba rudal-rudalnya, dan konon menguji peranti fisinya di bawah tanah. Itu semua bukan karena Korut maniak perang (belligerent warmonger) yang pemberani, tetapi karena kepepet dan ditekan terus oleh AS. Beberapa tahun terakhir ini iklim tidak bersahabat dengan Korut sehingga pertanian pangan gagal dan rakyatnya terancam kelaparan. Karena itu, Korut mencari uang dengan menjual senjata kepada Suriah, yang lalu disalurkan kepada Hezbollah di Lebanon selatan. Korut juga mengembangkan senjata nuklir sebab meski qua jumlah tentara, angkatan perangnya cukup besar, qua teknologi militer konvensional negara itu kalah jauh dibandingkan dengan negara-negara yang menekannya. Mentimun ”versus” durian Karena penasaran dan nyaris kalap, Korut berani melawan AS. Padahal, senjata fissinya, termasuk yang dapat dipasang sebagai hulu ledak (warhead) rudalnya, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan senjata nuklir pada arsenalnya AS. AS bukan hanya mempunyai senjata fisi, tetapi juga senjata fusi. Bahkan, pada masa Perang Dingin pun, AS sudah punya bukan saja rudal laut ke udara (surface to air missile/SAM), tetapi juga rudal jelajah (cruise missile) yang bisa meluncur rendah menghindari radar. Paman Sam juga mempunyai rudal-rudal yang mengorbit lalu masuk kembali ke atmosfer bawah. Rudal-rudal ini hulu ledaknya sampai belasan buah dan dapat dibidikkan sendiri-sendiri ke lesan-lesan (targets) yang berbeda. Itulah multi-independently- targetted re-entry vehicle (MIRV). Yang lebih canggih juga ada, yakni manoeuverable re-entry vehicle (MARV). AS juga mempunyai bom neutron, yakni bom hibrida fisi-fusi yang memusnahkan manusia tanpa merusak infrastruktur di kawasan huniannya. Setelah Uni Soviet terpecah- pecah dan Jerman Timur bergabung dengan Jerman Barat menjadi satu Jerman, Perang Dingin dan perlombaan senjata yang mengiringinya berakhir. Tak berarti bahwa AS berhenti membuat senjata maut. Hasilnya ialah senjata laser untuk Perang Bintang (strategic defense initiative/SDI), pesawat siluman (the Stealth) antiradar, dan rudal antirudal (antiballistic missile/ ABM). Jadi jelas, jika Korut melawan AS, itu bak ”mentimun melawan durian” (timun mungsuh duren, kata wong Jawa). ”Maut” dan rawan Berita Reuters menyebutkan, Korut dapat (dan kemungkinan akan) membuat bom-A berbahan ledak plutonium. Sebaliknya, Iran konon memperkaya uranium. Artinya, jika Iran mengembangkan senjata nuklir, itu didasarkan pada fisi uranium. Plutonium dapat dibiakkan (atau berbiak sebagai hasil sampingan) dalam reaktor termal. Diduga Korut tidak mempunyai reaktor pembiak cepat untuk memproduksi plutonium. Asalkan tidak dioperasikan lama-lama, yang terbiakkan hanya/baru plutonium-239. Isotop-isotop plutonium lain belum sempat terbentuk, apalagi unsur-unsur transuranik yang intinya lebih berat lagi. Jadi, hanya diperlukan pemisahan kimia yang lebih ”mudah” dibandingkan pemisahan fisika plutonium-239 dari isotop- isotop plutonium lain. Kata ”mudah” tadi menyesatkan sebab proses itu harus dilakukan dalam lingkungan yang amat radioaktif dan amat ”maut” karena plutonium radiotoksik. Jadi, diperlukan robotika yang canggih. Namun, jelas Korut sudah mampu memproduksi plutonium. Bom-A India yang diuji coba di Rajahstan tahun 1974 juga bom plutonium. India menggunakan reaktor CANDU rancangan Kanada yang BBN(uklir)-nya uranium alam dan moderatornya air berat untuk memproduksi plutonium. Bomnya serupa dengan ”Bang Gendut” (”Fat Man”) yang menghancurkan Nagasaki. Massa genting (critical mass) plutonium (yakni massa minimum yang akan secara spontan memicu fisi adigenting [supercritical] sehingga terjadi ledakan) lebih kecil daripada massa genting uranium berkadar senjata (dengan pengayaan lebih dari 70 persen). Bom plutonium juga lebih ”rawan ledakan tak sengaja”. Jadi, jika Korut memproduksi bom itu dan menjualnya, pembelinya hanya pihak-pihak yang kepepet dan nekat, seperti Al Qaeda, Hamas, Hezbollah, dan Macan Tamil (jika belum keburu tamat). Penulis: Guru Besar Ilmu FisikaUniversitas Kristen Satya Wacana, Salatiga Sumber: Harian Kompas, Jum'at 03 Juli 2009
|
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- STIMULUS DAN EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL
- MAJALENGKA DAPAT JATAH 368 CPNS



