|
Oleh: Al Busyra Basnur Senin kemarin, Jenderal Thein Sein (TS), Perdana Menteri Myanmar, tiba di Jakarta untuk kunjungan resmi dua hari di Indonesia.
Pada hari yang sama, Jenderal TS disambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mengadakan pertemuan bilateral di Istana Negara. Menurut Juru Bicara Presiden Dr Dino Patti Djalal, pada pertemuan itu kedua pemimpin membahas berbagai hal yang menyangkut hubungan bilateral, isu-isu regional, dan internasional.
Ini bukan pertemuan pertama bagi SBY-TS.Keduanya bertemu pertama kali ketika KTT ASEAN di Singapura November 2007. Jenderal TS yang lahir tahun 1945 itu dilantik sebagai PM Myanmar Oktober 2007. Hubungan Indonesia-Myanmar telah terjalin baik sejak dibukanya hubungan resmi tahun 1949.
Sebelum kemerdekaan, kontak-kontak antarbangsa kedua negara juga telah terjalin, terutama lewat para pedagang dan nelayan. Kunjungan TS di Indonesia merupakan lanjutan dari rangkaian saling kunjung pemimpin kedua negara pada waktu-waktu sebelumnya.
Tahun 2006 SBY berkunjung ke Myanmar,antara lain bertemu dengan Jenderal Senior Than Shwe pemimpin junta militer State Peace and Development Council (SPDC).Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Myanmar tahun 2001.
Soeharto tahun 1972, 1974, dan 1997. Abdurrahman Wahid tahun 1999. Sebaliknya, Than Shwe beberapa kali berkunjung ke Indonesia, yaitu tahun 1995, 1996, dan 2005. Demikian pula halnya pemimpin Myanmar yang lain seperti Jenderal Ne Win ke Indonesia tahun 1973 dan 1974.
Harus Dicatat
Myanmar adalah negara yang sejak lama menjadi pusat perhatian serius masyarakat regional dan internasional. Beberapa negara, terutama negara-negara Barat, mengecam dan menjatuhkan sanksi kepada pemerintahan junta militer Myanmar. Ada dua masalah utama yang menjadi fokus perhatian Barat.
Pertama karena junta militer menganulir hasil Pemilu 1990 yang dimenangi The National League for Democracy (NLD).Kedua, terjadinya penangkapan dan penahanan terhadap tokoh-tokoh prodemokrasi dan aktivis HAM negeri itu,termasuk Aung San Suu Kyi, pemimpin NLD. Hal lain, setelah melewati berbagai fase dan perkembangan politik penting, menarik pula disimak rencana Pemilu 2010.
Sementara kita tahu bahwa hubungan Indonesia dan Myanmar dekat, bahkan punya catatan sejarah bilateral yang monumental. Terkait hal-hal tersebut,tentu kunjungan TS ke Indonesia kali ini sangat penting. Indonesia dan Myanmar memiliki hubungan sejarah panjang dan harus dicatat oleh bangsa kedua negara, terutama generasi muda sekarang ini.
Myanmar yang merdeka dari Inggris tahun 1948 mendukung sepenuhnya kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu tidak sekadar retorika. Tahun 1947,Myanmar mendesak India agar menyelenggarakan Conference on Indonesia di New Delhi.Pemerintah Myanmar juga mengizinkan Pemerintah Indonesia membuka kantor di Yangoon.
Kantor ini yang kemudian menjadi Kedutaan Besar RI.Selain itu, tahun 1949 Pemerintah Myanmar mengizinkan pesawat Indonesia RI-001 Seulawah mendarat di wilayahnya karena lapangan terbang di Indonesia lumpuh akibat bombardir Belanda. Pesawat itu sempat pula disewa Union of Burma Airways.
Potensi Besar
Indonesia dan Myanmar memiliki potensi kerja sama yang sangat besar.Namun tidak sedikit pula hambatan dan tantangan yang dihadapi kedua negara dalam mengisi kerja sama, memanfaatkan peluang, dan menggali potensi yang ada. Pertama, secara geografis letak kedua negara saling berdekatan,berjarak hanya 350 mil. Ini mestinya menjadi modal strategis dan pendorong kerja sama.
Namun, ternyata, meski dekat,kedua negara belum memiliki hubungan langsung transportasi laut maupun udara. Padahal itu sangat penting dalam kerja sama apa pun,terutama perdagangan dan investasi. Kedua,jumlah penduduk tiap negara cukup besar (Myanmar 56 juta jiwa).
Dilihat dari segi jumlah, penduduk tentu menjadi pasar strategis, terutama bagi produk-produk ekspor Indonesia. Namun, faktanya tidak demikian. Ekonomi dan daya beli penduduk Myanmar rendah dengan pendapatan rata-rata di bawah USD1 sehari. Menurut PBB,Myanmar adalah salah satu 49 negara yang termasuk kategori least developed countries(LDC).
Ketiga, kedua negara memiliki kekayaan alam berlimpah. Myanmar punya gas, kayu, garmen, bawang, dan lain-lain. Sementara kita semua tentu tak perlu diceritakan mengenai betapa kayanya Indonesia. Ini modal utama kerja sama bilateral, terutama perdagangan dan investasi.
Namun, fakta menunjukkan bahwa kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara masih rendah.Tahun 2008 nilai perdagangan USD270 juta meningkat sedikit saja dibandingkan 2007 yang berjumlah USD265 juta (pada tahun yang sama hubungan dagang Indonesia-Malaysia mencapai USD12 miliar).
Investasi Indonesia di Myanmar tahun 2007 berjumlah USD241 juta, sementara investasi Myanmar di Indonesia periode 1990–2008 USD65 juta. Penting dicatat, Myanmar belum memiliki bank devisa.Semua transaksi selama ini dilakukan melalui pihak ketiga.
Ke depan, diperlukan upaya dan kerja keras kedua negara untuk meningkatkan hubungan bilateral, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.Duta Besar RI untuk Myanmar Sebastianus Sumarsono ketika bertemu penulis di Thailand dalam rangka KTT XIV ASEAN baru-baru ini mengatakan bahwa capaian kerja sama bilateral yang selama ini belum menggembirakan akan segera ditingkatkan.
Sumarsono optimistis akan hal itu. Pameran dagang Indonesia-Myanmar yang akan diselenggarakan di Yangoon Juli 2009 mendatang merupakan batu loncatan dalam kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara. Setelah TS-SBY bertemu kemarin, diharapkan hubungan dan pintu kerja sama bilateral terbuka lebih luas.
Hambatan dan kendala yang dirasakan selama ini, khususnya oleh para pelaku perdagangan dan investasi, dapat pula dikurangi secara bertahap. Di sini diperlukan ketepatan,kecepatan,dan inisiatif kedua pihak dalam menerjemahkan pertemuan SBY-TS tersebut.(*)
Penulis: Pengamat Internasional Sumber: Harian Seputar Indonesia, Selasa 17 Maret 2009
|