KEJUTAN OBAMA PDF Print E-mail
Thursday, 22 January 2009 09:08

Oleh: Richard N. Haass


Harapan yang tinggi seputar kepresidenan Barack Obama kebanyakan bermakna positif, karena semua itu mengingatkan kita pada sentimen anti-Amerika yang juga nyata di seluruh dunia, walaupun tidak permanen. Tapi antisipasi juga menjadi masalah bagi Obama, karena akan sulit--dan dalam beberapa hal mustahil--baginya untuk memenuhi harapan tersebut. Tak akan segera terbentuk negara Palestina dalam musim semi ini; atau tak ada pakta perubahan iklim atau perjanjian perdagangan baru, atau suatu pengentasan masyarakat dari kemiskinan atau genosida atau penyakit, dalam waktu dekat.

Alasan-alasannya realistis: capaian-capaian besar membutuhkan waktu dan upaya. Presiden sekarang menghadapi keterbatasan-keterbatasan luar biasa--keterbatasan yang membuatnya penting bagi negara-negara lain untuk mengerjakannya, jika stabilitas dan kesejahteraan menjadi norma dan bukannya pengecualian.

Keterbatasan yang paling jelas bersumber dari kondisi ekonomi Amerika. Dua juta pekerjaan menghilang dalam empat bulan terakhir ini. Pasar perumahan berlanjut memburuk. GDP Amerika sedang berkontraksi pada satu tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasilnya, Obama tak punya pilihan selain mempersembahkan sebagian besar waktu dan perhatiannya untuk memulihkan ekonomi. Lebih dari itu, suksesnya di bidang ini akan menentukan persepsi publik terhadap pemerintahannya. Bahkan dia mengakui bahwa masalah ini akan mendesaknya untuk menunda memenuhi beberapa janji kampanye yang lain.

Keterbatasan kedua bersumber dari semua krisis yang menyambut presiden baru. Israel dan Palestina sedang berperang. Keadaan di Irak membaik, tapi tak ada jaminan. Obama mungkin harus memilih antara menyerang instalasi nuklir Iran atau hidup berdampingan dengan Iran yang memiliki kemampuan membikin senjata nuklir dalam hitungan minggu.

Pemerintah Afganistan kehilangan pijakan dalam perjuangannya melawan kebangkitan Taliban. Pakistan, yang menguasai lusinan senjata nuklir dan merupakan "tuan rumah" bagi teroris paling berbahaya di dunia, bisa menjadi negara gagal, sebagaimana Korea utara yang bersenjata nuklir. Sejumlah tantangan ini bukan sekadar masalah yang harus dipecahkan, melainkan situasi yang harus dikelola.

Keterbatasan ketiga bersumber dari tren dalam sistem internasional. Era unipolaritas Amerika sudah lewat. Obama akan mewarisi sebuah tata baru dunia di mana kekuasaan dalam segala bentuknya--militer, ekonomi, diplomatik, dan budaya--terdistribusi secara luas dibanding sebelumnya. Ini berarti dia akan harus berhadapan dengan sejumlah besar ancaman, serangan, dan pihak-pihak yang ogah ditautkan dengan kemauan Amerika.

Semua ini akan membuat lebih sulit bagi Amerika Serikat untuk mewujudkan programnya di dunia. Juga bagi Obama untuk memenuhi harapan yang sudah ia canangkan--tanpa bantuan aktif dari pihak lain. Dan karena Obama ingin memenuhi sejumlah harapan itu, negara lain sebaiknya bersiap melayani permintaan Amerika--dan desakan--bahwa mereka sebaiknya bekerja sama dengan Amerika daripada melawan atau berpangku tangan.

Cina akan ditekan untuk menilai ulang mata uangnya (sekarang dipatok di bawah standar palsu), sehingga harga barang ekspor Cina lebih mahal dan harga barang impor dari negara lain (termasuk Amerika) lebih murah. Cina dan negara berkembang lainnya diharapkan berbagi untuk mengurangi emisi karbon dan mengerem laju perubahan iklim global. Negara-negara Eropa harus dipersiapkan bagi ajakan Amerika untuk bekerja lebih banyak menghadapi tantang keamanan di Afganistan. Kini menjadi pertaruhan relevansi keberadaan NATO di sebuah dunia di mana tantangan utama keamanan yang dihadapi Eropa bisa ditemui di luar wilayah perjanjian NATO.

Negara dari setiap penjuru akan menghadapi permintaan untuk memberikan andil mereka dalam mengatasi pembatasan atas perjanjian perdagangan global baru. Negara kaya akan diminta mengurangi subsidi; negara miskin diminta membuka pasar mereka. Para pemimpin Arab yang mengkritik Amerika, karena anggapan bahwa kebijakannya terhadap Timur Tengah tak memuaskan, akan dihadapkan pada pertanyaan seberapa banyak mereka mendukung pemerintahan di Irak. Begitu perang antara Israel dan Hamas mereda, pertanyaan apa yang akan diajukan negara-negara Arab untuk memberdayakan kelompok moderat Pakistan dan membuat perdamaian dengan Israel, pasti akan muncul.

Rusia dan Cina niscaya mengharapkan tekanan dari Obama untuk berbuat lebih banyak dalam melarang Iran memproses pengayaan uranium. Ini akan termasuk imbauan untuk sanksi politik dan ekonomi yang lebih besar, dan bahkan dukungan penggunaan angkatan bersenjata secara terbatas untuk menunjang sanksi. Daftar ini yang panjang, namun daftar ini bisa dengan mudah memanjang. Dunia sering tak menyambut gembira George W. Bush atas isi dan gaya politik luar negerinya. Obama tampaknya lebih diplomatik daripada pendahulunya, tapi dia tampaknya juga lebih penuntut.


Penulis: Mantan Direktur Perencanaan Kebijakan pada Departemen Luar Negeri AS

Sumber: Harian Tempo, Kamis 22 Januari 2009