Home Opini Media Internasional MEMIHAK KORBAN PERANG
MEMIHAK KORBAN PERANG PDF Print E-mail
Thursday, 22 January 2009 09:00

Oleh: Aloys Budi Purnomo

 

Perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza menunjukkan indikasi mereda. Israel mengambil langkah gencatan senjata sepihak dan berjanji mulai menarik pasukannya dari Gaza. Langkah ini diambil setelah Israel memperoleh janji dari Washington dan Kairo untuk membantu mencegah penyelundupan senjata ke Gaza.

Meski demikian, perang Israel-Hamas di Jalur Gaza tetap mewariskan korban. Selama 22 hari perang berlangsung, puluhan sekolah, masjid, rumah sakit, bangunan PBB, dan ribuan rumah rusak terkena gempuran Israel. Pemerintah Palestina menyatakan bahwa jumlah kerugian prasarana saja mencapai 476 juta dollar AS.

Sekurang-kurangnya, 1.300 orang Palestina tewas, termasuk lebih dari 400 anak. Sebanyak 5.300 orang cedera. Di pihak Israel, 3 warga sipil dan 10 prajurit tewas dalam pertempuran dan serangan roket Hamas.

Korban perang, siapa pun mereka, harus menanggung kesengsaraan, penderitaan, dan kesulitan hidup yang berat. Keluarga tercabik-cabik luka dan kecemasan. Anak-anak mengalami trauma kejiwaan.


Neoterorisme
Di balik agresi militer membabi buta Israel di Palestina, sesungguhnya tergambar jelas dampak perang yang berlarut-larut. Perang yang bersifat ideologis-politis setiap saat dapat meledak menjadi perang senjata yang ujung-ujungnya membawa korban nyawa dan harta.

Tragisnya, yang selalu menjadi korban adalah rakyat sebagai warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak. Kompleksitas kebengisan perang pada zaman modern melampaui kekejaman perang di masa lampau.

Perang di zaman modern ini telah menjadi sebentuk neoterorisme. Kita mengalami banyak situasi dan kondisi perang zaman ini, penggunaan metode teror dipandang sebagai cara baru berperang. Perang pun lantas menjadi model neoterorisme yang harus diwaspadai dan dilawan semua kalangan, apa pun latar belakang status sosial agamanya.

Benar yang ditengarai James Martin dalam The Meaning of The 21st Century (New York: 2007:320). Perang dengan meluncurkan bom-bom dan roket- roket yang mematikan serta menghancurkan telah menjadi bagian dari yang disebut neo-terrorism. Yang menjadi korban dari semua tindakan neoterorisme dalam wajah perang selalu warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.

Wajah perang sebagai neoterorisme kian mengerikan saat dilandasi dalih membinasakan suku atau bangsa secara keseluruhan maupun suatu suku bangsa yang dianggap kelompok minoritas. Motivasi itu harus dikecam secara tajam sebagai kejahatan brutal amoral yang mengerikan.

Tanpa keraguan, kita harus mengatakan bahwa semua bentuk kegiatan perang yang membuahkan kehancuran kota, daerah, serta penduduknya merupakan kejahatan melawan Allah dan martabat manusia. Namun, tak cukup ia hanya dikecam dengan keras dan lantang, melainkan juga diupayakan jalan keluar, terutama bagi para korban yang menderita.


Korban lintas agama
Korban perang di Jalur Gaza memang mayoritas umat Islam, tetapi ada pula warga Palestina beragama Kristen yang juga menjadi korban. Bukan rahasia, sebagian orang Palestina memeluk agama Kristen dan mereka sama-sama menjadi korban kekejaman mesin perang Israel yang dimaksudkan untuk menghancurkan kelompok Hamas yang notabene beragama Islam.

Perang yang terjadi antara Israel dan Hamas tidak dilandasi motif agama, melainkan politik- ideologis-ekonomi. Itulah yang saya dengar dengan telinga saya sendiri ketika pada akhir September 2008 berada di Bethlehem yang masuk wilayah otonomi Palestina.

John—pemandu wisata dari Bethlehem, warga negara Palestina, beragama Kristen—sambil menitikkan air mata berkata kepada saya, ”Romo, berdoalah untuk kami di sini! Kami sudah demikian lama amat mendambakan perdamaian! Kami sangat ingin para malaikat yang bernyanyi, Kemuliaan kepada Allah yang Mahatinggi, dan damai di Bumi, serta kebajikan bagi semua orang benar-benar bisa terwujud di negeri kami ini!”

Dia pun lantas menerangkan bahwa konflik yang selama ini terjadi bukan berbasis agama, tetapi politik, ideologi, dan ekonomi serta telah memakan korban lintas agama.

Memang selama ini di Indonesia, yang merespons peristiwa agresi militer dan perang Israel versus Hamas di Palestina, menyuarakan solidaritas umat Islam. Namun, perlu digarisbawahi bahwa perang antara Israel dan Hamas tidak berarti perang melawan Islam.

Banyak pihak dari kalangan non-Islam pun mengecam agresi militer Israel ke Jalur Gaza yang bermaksud menumpas kelompok Hamas. Konferensi-konferensi pers dari kalangan lintas agama pun mengemuka, tanda bahwa kita semua tidak mendukung aksi militer Israel tersebut. Tanda bahwa kita bersetia kawan dengan para korban perang, siapa pun, apa pun agamanya.

Lebih dari semuanya, kita memihak korban perang dari pihak mana pun, entah yang meninggal maupun yang terluka, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Seraya memihak para korban perang, entah secara spiritual, moral, maupun material, kita juga berharap agar kita sendiri tidak dikuasai hasrat permusuhan dan kebencian.

Tantangan terbesar justru ada di depan mata kita. Demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita wajib menyingkirkan segala bentuk permusuhan dan kebencian. Jika tidak, pada masa mendatang itu hanya akan menghadirkan kedamaian semu yang mengancam keutuhan bangsa kita tercinta!


Penulis: Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Ketua Komisi HAK, Keuskupan Agung Semarang

Sumber: Harian Kompas, Kamis 22 Januari 2009