Home Opini Media Ekonomi Bisnis SIKLUS EKONOMI DAN KRISIS
SIKLUS EKONOMI DAN KRISIS PDF Print E-mail
Tuesday, 13 January 2009 06:53

Oleh: Khalid al-Faizal


Keynesian sedang dielu-elukan seiring dengan gagalnya kapitalisme yang menghantam dunia. Deregulasi dituding sebagai akar kegagalan sistem ekonomi dunia. Tapi bila menengok lebih dalam akan ditemukan adanya sebuah siklus ekonomi yang besar yang terlibat. Kapitalisme dan deregulasi tidak salah sepenuhnya. Perlu diingat bahwa ilmu ekonomi bermula atas "ketidakseimbangan (unbalance)", ketika sumber daya dari suatu geografis tertentu akan melakukan pemenuhan dengan daerah/orang dengan sumber daya yang dibutuhkan. Dari ketidakseimbangan menuju keseimbangan (balance) dalam pemenuhan, sebuah siklus yang terus bergerak disebabkan oleh proses menuju balance. Siklus ekonomi menyebabkan adanya kekosongan sementara atas pemenuhan kesetimbangan yang membuat siklus berputar.

Manusia dengan akal budi dan niat (brain & will) berupaya memenuhi balance tersebut dan kemudian dilakukan pemenuhan keseimbangan secara sistematis, lahirlah sebuah ilmu ekonomi. Namun, dari ilmu ekonomi jua tercipta campur tangan manusia yang tidak murni, yang menyebabkan adanya kesetimbangan yang berlebihan dan keinginan untuk lepas dari siklus ekonomi.

Krisis yang terjadi pada saat ini merupakan hasil dari siklus ekonomi, bila sistem ekonomi dinilai sebagai sebuah bola yang besar dengan sumber daya bernilai tetap, nilai ekonomi (economic value) adalah tetap. Namun, dalam sistem nyata yang diterapkan di dunia, siklus roda penggerak yang berdasarkan unbalance ini terhenti. Negara-negara besar yang berupaya keluar dari siklus enggan berada pada kekosongan sementara untuk menggerakkan roda ekonomi mereka. Dalam siklus selalu ada pergiliran antarpemilik sumber daya. Ada negara miskin (wanton resourceful) dan negara kaya (resourceful state), itu keniscayaan dan berlangsung reciprocating dan reversible.

Namun, pada prakteknya negara-negara yang berada di atas siklus (resourceful state) tidak ingin berada pada posisi yang berlawanan. Keinginan dan niat ini yang menjadi roda siklus dilangkahi dan diingkari. Negara yang memegang kekuasaan tertentu "ingin" lepas dari siklus, Bretton Woods pun gagal karena hal ini. Negara dengan deregulasi pasar bebas akan menumpuk keinginan dan sebuah global prosperity pun hanya mimpi. Bretton Woods gagal lebih disebabkan oleh Amerika lebih punya niat untuk lepas dari kesetimbangan dunia yang didasarkan pada emas tersebut. Ketika kekuasaan pengatur kesetimbangan bisa diambil, maka nilai ekonomi pengambil tidak akan masuk pada keniscayaan siklus. Inilah pentingnya pembentukan board economy yang diatur dengan "niat baik" untuk global prosperity. Bukan oleh salah satu negara atau pemilik resource. Mungkin sebuah kumpulan ahli tanpa tendensi.

Sosialisme, komunisme, dan sistem-sistem ekonomi lainnya mungkin telah benar-benar mati dan kalah, tapi liberalisme dan kapitalisme pun akan mati. Sejarah siklus ekonomi membuktikan sistem-sistem ini hanya rebirth menjadi sistem ekonomi adaptif di kemudian hari. Sistem sosialisme, komunisme, dan sistem-sistem lain berubah dan diadaptasikan menjadi model neo, sebuah koreksi disebabkan oleh sistem telah mengalami kejatuhan dan kegagalan.

Yang perlu dicermati dalam sejarah pembentukan ekonomi dunia hingga saat ini adalah perputaran siklus--yang dilambangkan dengan value debit-kredit--yang semakin tersebar dalam paket-paket yang besar. Ini berarti negara yang berada di atas siklus (yang survive atau resourceful state) akan mempunyai nilai ekonomi sangat berlebih dan menahan sebagian besar dari sumber daya ekonomi dunia.

Paket-paket besar yang dipunyai oleh negara di atas siklus akan membebani kesetimbangan sehingga sistem akan jatuh. Krisis yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh hal ini. Hal ini terlihat dari makin pendeknya rentang waktu antarkrisis yang terjadi di dunia. Krisis yang tercatat pada Cina kuno hanya terjadi pada pergantian dinasti dan dalam jarak ratusan tahun, sedangkan jarak antara Great Depression, krisis Perang Dunia, krisis dotcom, dan krisis Asia dan krisis subprime mortgage yang terjadi pada saat ini semakin memendek. Tidak diragukan lagi bila negara-negara di dunia masih punya niat untuk merusak balance atas siklus ekonomi dunia di kemudian hari, maka jarak antarsiklus krisis pun akan berjarak kurang dari 5 tahun.

Suatu siklus krisis ekonomi akan terus berulang dengan cara yang sama dan disebabkan oleh akar masalah yang sama dan sebuah ekonomi yang ideal pun adalah mustahil. Setidaknya sampai manusia menemukan tujuan dan atau musuh yang sama.


(Penulis: Konsultan senior pada Wan's Expert Management Consulting & Law Firm, Taipei)

Sumber: Harian Tempo, Selasa 13 Januari 2009