Home Opini Media Ekonomi Bisnis SIAPA YANG DIUNTUNGKAN PADA MASA KAMPANYE?
SIAPA YANG DIUNTUNGKAN PADA MASA KAMPANYE? PDF Print E-mail
Friday, 03 July 2009 10:15
Oleh: Sukemi

Kampanye Pilpres 2009 yang digelar sejak 2 Juni 2009 lalu kini telah memasuki babak-babak akhir.Ada pertanyaan menarik untuk dijawab tentang siapa yang paling diuntungkan pada masa kampanye kali ini.

Pertanyaan ini menarik diajukan untuk sekadar berhitung apakah ketiga pasangan capres-cawapres memang sudah benar-benar memperhatikan masyarakat yang akan memilihnya (konstituen) pada masa kampanye ini atau malah sebaliknya mereka hanya sebagian menerima “berkah”kampanye.

Logisnya,masyarakat calon pemilih itulah yang harus mendapat keuntungan paling banyak dan diperhatikan lebih oleh ketiga pasangan capres-cawapres serta tim kampanyenya mengingat merekalah yang akan menentukan untuk mencontreng atau tidak salah satu dari tiga calon ketika memasuki bilik suara pada 8 Juli nanti.
Namun logika itu ternyata terbalik. Kalau mau dihitung dan diamati dengan cermat, hanya sebagian kecil saja masyarakat calon pemilih yang memperoleh keuntungan, itu pun masih dalam bentuk-bentuk yang sangat minim, misalnya berupa perolehan kaus, stiker, uang bensin, uang makan, atau sekadar memperoleh biaya transportasi gratis pergi-pulang dari rumah ke tempat kampanye.

Ini artinya ketiga pasangan capres-cawapres belum maksimal memperhatikan para calon konstituennya. Ketiga pasangan caprescawapres serta tim kampanyenya masih banyak berharap pada ikatan emosional. Ini bisa dilihat dari pidato-pidato yang disampaikan oleh para juru kampanye dan ketiga pasang capres-cawapres yang lebih menekankan dan menonjolkan ikatan emosionalitas dengan menonjolkan tokoh-tokoh yang ada di tim kampanye ketimbang menyajikan soal-soal riil tentang kebutuhan masyarakat calon pemilih.

Memang ada pasangan caprescawapres saat kampanye yang membagi-bagikan “dana segar” dan sembako, tapi itu pun tidak banyak dan besar. Ini tidak lain karena kekhawatiran kena semprit Bawaslu atau Panwaslu dan dituduh melakukan politik uang (money politics).

Alasan terakhir ini bisa diterima karena KPU memang sudah memberikan rambu-rambu untuk tidak menggunakan politik uang semasa kampanye maupun menjelang hari pencontrengan.Namun sebenarnya tiap pasangan caprescawapres bisa menyiasatinya dengan cerdas, misalnya dengan menggelar kegiatan-kegiatan yang bersifat massal dan menyentuh kebutuhan orang banyak, tidak peduli itu dilakukan untuk para pendukungnya yang sudah pasti atau kepada masyarakat yang memang baru menjadi target berikutnya untuk memilih.

Para pasangan capres-cawapres dan tim kampanyenya masih bisa melakukan pemaksimalan pada masa kampanye yang tersisa dua hari lagi ini.Kiranya pasangan capres-cawapres dan tim kampanyenya bisa secepat mungkin melakukan tindakan-tindakan yang bisa mengundang simpati masyarakat sehingga akhirnya mereka tertarik dan menentukan pilihan pada saat hari H pemilihan.

Media Diuntungkan

Dari fakta-fakta itu, tampak bahwa sesungguhnya masyarakat calon pemilih tidak banyak menerima keuntungan baik dari parpol maupun dari pasangan caprescawapres. Apakah ini sebuah kekeliruan? Kalau mau dipandang kampanye sebagai sebuah proses untuk menarik massa sebanyak-banyaknya, rasanya itu adalah sebuah kekeliruan besar.

Namun jika kampanye hanya diartikan sebagai upaya untuk menunjukkan jati diri, visi, dan misi dari pasangan caprescawapres kepada masyarakat, itu menjadi sesuatu yang wajar adanya. Pasangan capres-cawapres sesungguhnya sadar bahwa mereka memang belum banyak menyentuh kebutuhan calon pemilihnya.

Mereka sadar,jika itu harus dilakukan bukan hanya lebih banyak biaya yang harus dikeluarkan,tapi juga tenaga dan pemikiran. Itulah sebabnya kenapa pada masa kampanye ini kita melihat justru media massa-lah yang lebih banyak menerima keuntungan. Tengok saja acara debat capres maupun cawapres yang digelar resmi oleh KPU maupun secara mandiri oleh stasiun televisi dibanjiri oleh iklan-iklan dari pasangan capres-cawapres dan iklan-iklan komersial lain.

Tayangan iklan pasangan capres-cawapres yang tampil pada jam-jam prime time juga cukup banyak. Sudah barang tentu tarifnya berbeda jika iklan itu ditayangkan pada jam-jam biasa.Keuntungan media audiovisual ini tidak hanya pada iklan semata, tapi juga pada kemudahan para pengelola televisi dalam mencari bahan berita yang bakal disuguhkan kepada pemirsa, bahkan mereka pun menyiapkan satu mata acara atau rubrikasi bagi media massa cetak.

Tentu saja keuntungan yang terakhir ini bukan dari segi ekonomi, tapi paling tidak mereka sudah terbantu dengan banyaknya agenda kampanye sebagai bagian dari bahan pemberitaan. Pada beberapa stasiun televisi swasta, momentum ini juga dikemas dalam bentuk acara khusus yang kemudian juga mendatangkan banyak iklan.

Di media massa cetak juga demikian, banyak iklan pasangan capres-cawapres yang muncul tiap kali media itu terbit.Sudah barang tentu meski bertarif khusus, tetap saja hal itu telah mendatangkan keuntungan bagi pengelola media massa cetak. Itu pulalah salah satu alasan bagi para pengelola media kenapa mereka harus melakukan ekspansi halaman atau menyiapkan rubrikasi khusus.

Di samping untuk menampung luberan berita-berita seputar kampanye, juga untuk menampung iklan-iklan dari pasangan capres-cawapres. Demikian juga dengan media radio, meski tidak terlalu banyak pasangan capres-cawapres yang menggunakan media ini,tetap saja masih ada yang menggunakannya sebagai bagian dari kampanye untuk menunjukkan jati diri,visi dan misi.

Efektifkah semua itu? Belum bisa diukur dan dibuktikan. Namun paling tidak upaya yang telah dilakukan oleh para pasangan capres-cawapres pada masa kampanye ini telah memberikan berkah tersendiri bagi kalangan media, sementara masyarakat yang justru akan menentukan terhadap dipilih-tidaknya pasangan caprescawapres belum bisa dikatakan telah menerima berkah.

Penulis: Staf Khusus Menkominfo Bidang Komunikasi Media

Sumber: Harian Seputar Indonesia, Jum'at 03 Juli 2009