|
PEMBODOHAN RISIKO SISTEMIS |
|
|
|
|
Monday, 28 December 2009 16:03 |
|
Oleh: Achmad Deni Daruri
Bank Century bukanlah contoh yang tepat untuk menjelaskan risiko sistemis karena risiko sistemis menyangkut dua hal pokok, yaitu permasalahan terlalu besar ( too big too fail ) atau permasalahan terlalu terkoneksi ( too connected to fail ). Kedua hal tersebut justru tak terjadi.
Yang terjadi dalam analisis sistemis BI adalah jika dan jikalau. Maksudnya, BI lebih banyak berandai-andai. Misalnya, jika terjadi rumor, ada 23 bank yang akan mengalami gagal kliring dalam Real Time Gross Settlement (RTGS). Namun, BI tidak pernah menghitung secara kuantitatif, apakah jika ke-23 bank tersebut mengalami kegagalan, itu akan menimbulkan bank run .
Pada konteks permasalahan terlalu besar dalam ukuran aset, kredit, dan dana pihak ketiga; Bank Century bukanlah pemain utama dalam sistem perbankan di Indonesia. Secara kuantitatif, seharusnya BI mengukur Herfindahl Indeks (HI) dari aset, kredit, dan dana pihak ketiga Bank Century. Ini yang justru luput dijelaskan oleh Bank Indonesia ataupun KSSK. Analisis dampak sistemis tidak dapat hanya mengandalkan jumlah nasabah tanpa menghitung HI.
|
|
Read more...
|
|
CATATAN 2009 DAN HARAPAN 2010 |
|
|
|
|
Monday, 28 December 2009 15:55 |
|
Oleh: Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo
Saat ini kita sudah berada di pengujung 2009.Tahun yang semula dikhawatirkan akan sangat berat bagi perekonomian Indonesia karena imbas krisis global akan kita akhiri dengan suatu optimisme yang lebih besar.
Saat menyiapkan catatan ini, saya menengok lagi kalimat terakhir catatan akhir tahun 2008 yang saya buat tahun lalu.Kalimat itu berbunyi: “Pada akhirnya memang diperlukan suatu kepercayaan yang besar bahwa apa yang terjadi di Indonesia mungkin bisa dikatakan terlepas dari sumber krisis di Amerika Serikat. Bagi yang optimistis, siapa tahu tahuntahun krisis ini justru menjadi turning pointIndonesia untuk menjadi lebih patut diperhitungkan dalam perekonomian global.”
Apakah tahun 2009 yang akan berakhir ini sungguh membawa Indonesia sebagai negara yang patut diperhitungkan dalam perekonomian global? Indonesia sungguh beruntung karena pada tahun 2009 menjadi salah satu negara besar yang masih mengalami pertumbuhan positif bersama China dan India. Di tengah-tengah resesi global, perkembangan tersebut sertamerta menempatkan Indonesia dalam spotlightinvestor global.
|
|
Read more...
|
|
REZIM KEADILAN PASCAKOLONIAL |
|
|
|
|
Wednesday, 09 December 2009 06:36 |
|
Oleh: Alois A Nugroho
Prita Mulyasari lelah mencari keadilan (Kompas, 5/12/2009). Pengadilan Tinggi Banten mengharuskan Prita membayar ganti rugi sebesar Rp 204 juta kepada RS Omni.
Padahal, Prita hanya menuntut hak-hak asasinya sebagai konsumen, terutama hak atas perlindungan konsumen, hak untuk mendapatkan informasi yang benar, dan hak untuk didengarkan.
Minah dihukum percobaan 1,5 bulan oleh Pengadilan Negeri Purwokerto (Kompas, 20/11/2009) karena didakwa mencuri tiga buah kakao senilai Rp 30.000. Padahal, Minah sudah meminta maaf dan mengembalikan tiga buah kakao itu ke mandor PT Rumpun Sari Antan.
|
|
Read more...
|
|
BUNGA KREDIT TINGGI, RISIKO ATAU INEFISIEN? |
|
|
|
|
Wednesday, 09 December 2009 06:34 |
|
Oleh: Latif Adam
Penampilan perbankan dalam menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi tidaklah terlalu menggembirakan. Sepanjang 2009, pertumbuhan kredit diperkirakan hanya akan berada pada kisaran 5–7%, jauh di bawah target sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank sebesar 15,6%.
Tidak paralelnya hubungan bunga kredit dengan BI Rate dan bunga deposito menjadi salah satu penyebab lemahnya kemampuan perbankan melakukan ekspansi kredit. Misalnya, sepanjang tahun ini, BI sudah memangkas BI Rate sebanyak 2,75% (275 bps) menjadi 6,5%. Demikian halnya dengan bunga deposito,secara umum telah turun sebesar 3,37% ke kisaran 8–9%. Sayangnya, dalam kurun yang sama, bunga kredit hanya turun 0,76% ke kisaran 13–14%.
Motivasi perbankan untuk mempertahankan laba tinggi tampaknya menjadi penyebab kurang harmonisnya hubungan di antara bunga kredit, baik dengan BI Rate maupun dengan bunga deposito. Ini salah satunya terindikasi dari masih tingginya net interest margin (NIM). Di beberapa negara tetangga seperti Malaysia (Bun Tek Tjeng, 2009), NIM perbankan secara umum berkisar 3–4%,sedangkan di Indonesia,rata-rata NIM perbankan nasional berkisar 5–6%.
|
|
Read more...
|
|
HARI NUSANTARA BAGI KEMAJUAN DAN KEMAKMURAN BANGSA |
|
|
|
|
Wednesday, 09 December 2009 06:29 |
|
Oleh: Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS
Meski Deklarasi Djoeanda 13 Desember 1957 secara geopolitik dan geoekonomi memiliki arti sangat mendasar dan strategis bagi kehidupan bangsa Indonesia, kita baru memperingatinya sejak Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, tepatnya 13 Desember 2000.
Kemudian melalui Keppres No 126/2001 Presiden Megawati Soekarnoputri mengukuhkan Hari Nusantara, 13 Desember, sebagai Hari Nasional. Kalau peringatan Puncak Hari Nusantara tahun lalu dilaksanakan di Gresik, Jawa Timur, maka tahun ini rencananya akan dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan,9 Desember 2009 ini. Seandainya tidak ada Deklarasi Djoeanda, potensi kekayaan laut Indonesia hanya sekitar 1/3 dari potensi yang kita miliki sekarang. Pasalnya, wilayah laut Indonesia pada saat itu hanya meliputi laut sejauh 3 mil dari garis pantai yang mengelilingi pulau-pulau kita.
Dengan begitu, di antara pulaupulau Indonesia terdapat laut bebas (internasional) yang memisahkan satu pulau dengan pulau lainnya serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kita patut bersyukur bahwa Ir H Djoeanda, perdana manteri pada waktu itu, dengan berani pada 13 Desember 1957 mengumumkan kepada masyarakat dunia bahwa wilayah laut Indonesia tidaklah sebatas itu, seperti diatur dalam Territoriale Zee Maritiem Kringen Ordonantie (Ordonansi tentang Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim) 1939. Lebih dari itu wilayah laut Indonesia meliputi laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia.
|
|
Read more...
|
|
|