|
DISTROSI HUBUNGAN ISLAM-BARAT |
|
|
|
|
Monday, 28 December 2009 16:02 |
|
Oleh: Farid Wadjdi
Upaya membangun hubungan yang harmonis antara Islam dan Barat sepanjang tahun 2009, gencar dilakukan. Berbagai dialog antara paradaban dan agama intensif dilakukan antartokoh-tokoh agama maupun intelektual. Ada banyak masalah dalam hubungan Islam-Barat memang disadari banyak pihak.
Karena itu, memperbanyak dialog dan kerja sama antar Islam-Barat diyakini akan menciptakan saling pengertian dan situasi yang harmonis. Obama sendiri dalam berbagai pidatonya menekankan pentingnya jalan baru dengan membangun hubungan yang sederajat (equal ), saling menguntungkan dan menghormati ( mutual respect ) antara Islam dan Barat. Namun harus diakui, berbagai dialog ini belum memberikan sumbangan yang optimal apalagi menghentikan konflik yang sering dikatakan muncul akibat ketiadaan saling pengertian antara Islam dan Barat.
Kebijakan luar negeri negara-negara Barat terhadap dunia Islam yang bersifat dominatif dan eksploitatif memberikan sumbangan yang sangat penting dalam distorsi hubungan Islam-Barat yang harmonis. Presiden AS, Barack Obama, sendiri dalam wawancara eksklusifnya dengan stasiun Al Arabiya yang berbasis di Dubai mengakui di masa lalu AS terlalu sering mendikte mengenai beberapa isu.
|
|
Read more...
|
|
GAGASAN ISLAM RAHMATAN LIL'ALAMIN |
|
|
|
|
Friday, 04 December 2009 16:30 |
|
Oleh: Mashudi Umar
Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan untuk menjadi rahmat bagi alam semestanya. Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik Alquran maupun hadis.
Kata 'rahman' yang berarti kasih sayang, berikut derivasinya, disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat dalam Alquran. Bahkan, dua kata rahman dan rahim yang diambil dari kata 'rahmat' dan selalu disebut-sebut kaum Muslim setiap hari adalah nama-nama Tuhan sendiri ( asmaul husna ). Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi niscaya Tuhan menyanyanginya."
Alquran, sumber Islam paling otoritatif, menyebutkan misi kerahmatan ini, wama ar salnaka illa rahmantan lil'alamin (Aku tidak mengutus Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta). Ibnu Abbas, ahli tafsir awal, mengatakan bahwa kerahmatan Allah meliputi orang-orang Mukmin dan orang kafir. Alquran juga menegaskan, rahmat Tuhan meliputi segala hal (QS 7: 156). Karena itu, para ahli tafsir sepakat bahwa rahmat Allah mencakup orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir, orang baik ( al-birr ) dan yang jahat ( al-fajir ), serta semua makhluk Allah.
|
|
Read more...
|
|
GERAKAN BUDAYA YANG TERLUPAKAN |
|
|
|
|
Friday, 04 December 2009 10:14 |
|
Oleh: Abdul Munir Mulkhan
Kritik Kuntowijoyo (Muslim Tanpa Masjid) bahwa Muhammadiyah adalah gerakan budaya tanpa kebudayaan penting menjadi catatan abad keduanya.
Ini terlihat saat Muhammadiyah sekadar meniru Kiai Dahlan tanpa memahami gagasan dan etos gerakannya. Daya kreatif pembaruan bagi kemajuan dan kesejahteraan umat terperangkap birokrasi organisasi, gurita pendidikan dan rumah sakit sehingga terasing dari kehidupan rakyat. Hal serupa dihadapi bangsa ini saat praktik pendidikan nasional menjadi ritual dan kehilangan etos budaya kreatif.
Awalnya, gerakan ini sibuk memberdayakan fakir miskin melalui pendidikan, kesehatan, dan aksi sosial. Seperti tesis Max Weber tentang Etika Protestan dengan paradigma this worldly, aktivis gerakan ini memandang kesalehan surgawi bisa dicapai dengan memajukan dan menyejahterakan rakyat tertindas.
|
|
Read more...
|
|
Monday, 30 November 2009 04:58 |
|
Oleh: Fadly Rahman
Di samping makna utamanya sebagai bagian dari rukun Islam yang dijalankan bagi mereka yang mampu secara spiritual, fisik, dan material; ibadah haji merupakan bagian tidak terpisahkan dalam sejarah dan tradisi masyarakat Islam Indonesia. Dalam >Hikayat Hasanuddin yang dikarang sekitar tahun 1700-an, dikisahkan ajakan naik haji Sunan Gunung Jati kepada putranya, Hasanuddin. Ajakan dalam hikayat tersebut menandakan bahwa berhaji sudah mentradisi sejak lampau di nusantara.
Kesan bahwa orang Indonesia yang lebih mementingkan haji daripada bangsa lain pun memang menjadi perhatian menarik sejak lama. Sebagaimana dicatat Martin van Bruinessen dari laporan The Haddj: Some of its Features and Functions in Indonesia -nya Jacob Vredenbregt (1962), pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah jamaah haji dari Hindia Belanda (baca: Indonesia masa kolonial) berkisar 10 dan 20 persen dari seluruh haji asing meski mereka datang dari wilayah yang secara geografis lebih jauh daripada jamaah haji lainnya.
Malah, pada dasawarsa kedua abad ke-20, jumlahnya mencapai sekitar 40 persen dari keseluruhan jumlah jamaah haji. Tingginya penghargaan masyarakat Indonesia terhadap ibadah haji tampaknya menjadi sebab besarnya angka peziarah ke Tanah Suci itu. Hal ini juga merujuk pada atribut sosial, berupa pencitraan status penunai haji sebagai pribadi lain sesudah dirinya menunaikan salah satu bagian dari rukun Islam itu. Mungkin, semacam pengakuan yang ingin diperoleh setelah menunaikannya. Dan, pandangan macam ini pun memang menggejala sejak lama.
|
|
Read more...
|
|
MENGENAL HISTORIS IBADAH HAJI |
|
|
|
|
Monday, 30 November 2009 04:52 |
|
Oleh: Juntika Nurihsan
Ibadah haji dan kurban tidak dapat dipahami dengan baik dan mungkin akan banyak menimbulkan kontroversi dalam pelaksanaannya apabila tidak memahami aktor utama yang mendapatkan peran melaksanakan dua ritual agung dari Sang Mahaagung, Allah SWT. Dia adalah Nabi Ibrahim a.s. Dalam buku Lentara Alquran karya M. Quraish Shihab paling sedikit ada tiga keistimewaan Nabi Ibrahim a.s. yang tidak dimiliki nabi dan manusia lain, yang sekaligus dicerminkan dalam ibadah haji dan kurban. Pertama, Nabi Ibrahim a.s. menemukan Tuhan melalui pencarian dan pengalaman rohani. Kedua, melalui beliaulah kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji atau tumbal dibatalkan Tuhan karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT pada makhluk-Nya. Ketiga, Nabi Ibrahim a.s. adalah satu-satunya nabi yang bermohon agar diperlihatkan bagaimana Allah SWT menghidupkan yang mati dan permohonan tersebut dikabulkan oleh-Nya.
Terkait dengan ritual haji, pemahaman bahwa Allah Esa, kemanusiaan dan keyakinan akan adanya Hari Akhir adalah makna terdalam dari setiap amalan ibadah haji. Ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang menuntut secara tinggi baik aktivitas fisik, materiil, psikologis, dan juga substansi praktik ritualnya itu sendiri. Pada sebagian kelompok orang, khususnya di Jawa Barat muncul istilah, untuk ibadah haji seseorang itu harus kuat pesak (saku—yang artinya harus punya cukup uang/ongkos), fisik (memiliki kekuatan fisik/jasmani), dan manasik (memiliki modal dan pemahaman yang baik tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji).
|
|
Read more...
|
|
|