Info Terakhir
- LAPORAN DARI KORSEL
- MOBIL DINAS DEWAN SEDOT Rp 8 M
- WUJUDKAN JAWA BARAT SEBAGAI GREEN PROVINCE
- UNTUK GENJOT PRESTASI OLAHRAGA, GUBERNUR KUNJUNGI KORSEL
- Dinas, Badan dan Biro Jabar
- NAMA BUPATI dan WALIKOTA BESERTA WAKILNYA
- KEPALA DAERAH HARUS BANGUN SINERGI UNTUK WUJUDKAN KESEJAHTERAAN
- HERYAWAN: DESA CIBATU TIGA DESTINASI WISATA BARU DI JAWA BARAT
- 15 PADEPOKAN SENI DIRESMIKAN GUBERNUR JAWA BARAT
- DARMIN, "PEREKONOMIAN NASIONAL MULAI MEMBAIK"
Pengunjung
We have 149 guests onlineJajak Pendapat
| DRAINASE TERSUMBAT, CIREBON BANJIR |
|
|
|
| Tuesday, 24 November 2009 17:10 |
|
Saat Rob Air Laut Masuk ke Sungai-sungai "Karena drainase tersumbat sampah, akhirnya air terlimpas ke jalan. Sampah berasal dari masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan ke saluran air. Tanah dan lumpur berasal dari jalan yang juga dibuang ke selokan," ujar Nasrun. Hampir semua lokasi banjir di Kota Cirebon bukan di pusat kota. Sebab, wilayah pusat kota, yaitu dari daerah Siliwangi, Karanggetas, sampai Pulasaren, menggunakan sistem drainase tertutup dan pembuangan air ke laut menggunakan pompa penyedot. Sisanya masih menggunakan sistem drainase terbuka. Maka, ketika intensitas hujan tinggi dan saluran air tak mampu menampung, air melimpah ke jalan. Menurut Kepala Bidang Fisik dan Lingkungan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Cirebon Yoyon Indrayana, terdapat delapan titik di Kota Cirebon yang rawan tergenang saat hujan deras. Penyebabnya, luas penampang drainase yang menyempit dan kecilnya kapasitas drainase sehingga tidak mampu menampung debit run-off air hujan. Penyebab lain adalah banjir kiriman dari Kabupaten Cirebon. Lima titik rawan tergenang karena sempitnya drainase adalah Kompleks Perumnas Burung dan Gunung, Jalan Pemuda sekitar Kali Cimanggu, Jalan Dr Cipto Mangunkusumo (dari Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Cirebon sampai SMA Negeri 2 Kota Cirebon), dan daerah Kampung Sukasari (belakang Hotel Kharisma). Sangat sedikitnya daerah resapan air di permukiman padat mengakibatkan air hujan tidak terserap ke dalam tanah dan terbuang ke drainase. Air pasang Banjir dan genangan air yang menjadi masalah langganan di Kota Cirebon disebabkan selisih tinggi rata-rata permukaan tanah dengan permukaan air laut hanya 5 meter. Akibatnya, saat terjadi rob, air laut masuk ke sungai sehingga tinggi muka air sungai meningkat. Pada saat bersamaan, debit air sungai yang menampung hujan dan run-off juga bertambah. Posisi drainase di permukiman yang lebih rendah dan daya tampung yang menyusut mengakibatkan air tidak bisa masuk ke sungai yang kemudian meluber ke jalan. Banjir akibat air pasang (rob) dan tingginya debit air di sungai, kata Kasno, Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung, hampir setiap tahun terjadi di hilir Sungai Kesunean. Meski demikian, tiga hilir sungai lainnya, yaitu Kalijaga, Sukalila, dan Kedungpane, juga tidak bebas banjir. Sebab, banyak tanaman tahunan dan sampah tertimbun di bantaran sungai-sungai tersebut yang mengakibatkan daya tampung sungai menyusut. Untuk mencegah banjir, kata Nasrun, Pemerintah Kota Cirebon tahun ini sedang memperbaiki drainase di sepanjang Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, menormalisasikan Sungai Cikalong, dan membuat tanggul di daerah Kalitanjung. Tahun depan, rencananya drainase di sekitar Perumnas Gunung akan dibangun, dan normalisasi Sungai Lunyu yang juga melintasi perumnas itu dilakukan. (THT)
Sumber : Harian Kompas, 24 November 2009
|
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



