Home Lintas Kabupaten Kota Kota Cimahi KONDISI AIR TANAH KRITIS
KONDISI AIR TANAH KRITIS PDF Print E-mail
Thursday, 18 February 2010 07:19
Laju Penurunan Mencapai Tiga Meter Per Tahun
 
Cimahi, (PR).-
Permukaan air tanah artesis Kota Cimahi mengalami penurunan rata-rata tiga meter per tahun, akibat konsumsi air yang tinggi. Pemerintah Kota Cimahi berusaha memulihkannya dengan membuat sumur resapan dan lubang resapan biopori. Akan tetapi, tahun ini tidak ada anggaran untuk pembuatan sumur resapan.

Ketua Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cimahi Akhmad mengatakan, konsumsi air tanah artesis Cimahi sangat tinggi karena terdapat 397 pabrik yang beroperasi, serta jumlah penduduk yang mencapai 600.000 jiwa. Terlebih, sebagian besar pabrik di Cimahi bergerak di bidang tekstil dan produksi tekstil (TPT), yang kebutuhan airnya sangat tinggi.

"Dulu kalau kita gali sumur di kedalaman 150 meter itu air sudah ada. Akan tetapi sekarang, harus lebih dari 200 meter baru keluar air. Ini indikasi kalau air tanah di Cimahi terus turun," tuturnya di ruang kerjanya, Rabu (17/2).

Pada musim kemarau, penduduk Kota Cimahi juga biasanya kesulitan mendapat air bersih, karena sumur-sumur di sejumlah wilayah mengering. Saat ini, Kota Cimahi sudah termasuk ke dalam zona merah di mana pengeboran air tanah seharusnya tidak lagi dilakukan.

Menurut Akhmad, beberapa tahun lalu pemerintah menggalakkan pembuatan sumur resapan di lima belas kantor kelurahan se-Kota Cimahi, serta sejumlah titik potensial lainnya. Pada 2009, KLH membangun 43 sumur resapan dari bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi Jabar serta Kementerian Kehutanan.

Namun, tahun ini Pemerintah Provinsi Jabar tidak menganggarkan bantuan pembuatan sumur resapan bagi kab./kota. Sementara dari Kementerian Kehutanan, kejelasan bantuan biasanya baru muncul pada pertengahan tahun.

Alternatif lain upaya rehabilitasi air tanah artesis di Cimahi adalah dengan membuat lubang resapan biopori, yang lebih mudah dan murah. Lubang resapan biopori ini berdiameter 10-30 cm, dengan kedalaman 80-100 cm. Warga dapat membuatnya di pekarangan rumah. Lubang itu kemudian diisi oleh sampah organik. Pada musim hujan, lubang ini mempermudah air masuk ke tanah, sekaligus untuk pengomposan sampah organik.

Investasi

Di lain pihak, industri TPT merupakan penarik investor utama bagi Kota Cimahi. Kondisi ini sangat berlawanan dengan keadaan permukaan air tanah Kota Cimahi yang terus menurun. Kepala Seksi Kerja Sama Kantor Penanaman Modal Kota Cimahi Megawati, beberapa waktu lalu, menekankan, peluang investasi di sektor TPT membutuhkan keberadaan air dalam jumlah yang sangat besar untuk pencucian dan pencelupan. Padahal, kondisi permukaan air tanah artesis di Kota Cimahi mengalami penurunan secara terus-menerus setiap tahunnya.

"Kalau dibandingkan dengan daerah TPT lain, seperti Tegal dan Pekalongan, setelah melalui proses produksi, harga produk mereka bisa setengah dari harga di Cimahi," tuturnya.

Akhmad mengaku sering mengemukakan kondisi ini dalam berbagai pertemuan. Akan tetapi, belum diperoleh jawaban yang pasti. Itu sebabnya, KLH memilih untuk terus mengusahakan pembuatan sumur resapan dan lubang resapan biopori. (A-180)***

Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Kamis 18 Februari 2010