Home Lintas Kabupaten Kota Kota Bandung HARGA ELPIJI TEMBUS Rp 110.000
HARGA ELPIJI TEMBUS Rp 110.000 PDF Print E-mail
Friday, 12 December 2008 15:58

Bandung(Sindo) – Kelangkaan gas elpiji di Jawa Barat semakin menjadi-jadi. Di Kota Bandung, akibat kelangkaan ini harga jual elpiji tabung 12 kg melambung tinggi menembus Rp 100.000.

Para penjual tabung gas eceran di jalan- jalan menjual elpiji ukuran 12 kg hingga mencapai Rp 110.000, padahal harga di agen resmi hanya Rp 69.000 per tabung. Berdasarkan pantauan SINDO, pasokan dan ketersediaan elpiji di PT Limas Raga Inti Jalan Emong, Kota Bandung, semakin minim.

Sejak dua pekan terakhir ini antrean masyarakat yang memesan gas mulai terlihat sejak malam hingga pagi hari. Staf bagian umum PT Limas Raga Inti Agus Yogaswara mengaku beberapa pekan terakhir ini pasokan dan ketersediaan gas elpiji segala ukuran semakin kritis.

”Biasanya pembeli mengantre dari pukul 20.00 WIB dan baru dapat tabung gas pukul 08.00 WIB. Kondisi ini menyulitkan karena lima cabang kami juga tidak mendapat pasokan elpiji seperti biasanya,” jelas Agus saat ditemui SINDO di PT Limas Raga Inti,Jalan Emong,kemarin.

Dia mengatakan, minimnya pasokan tabung gas elpiji karena tersendatnya distribusi gas dari lima Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di Kota Bandung dan sekitarnya. Biasanya, kata dia, setiap hari sekurang- kurangnya 200 tabung elpiji berbagai ukuran masuk ke perusahaannya,namun dalam sekejap habis dipesan masyarakat yang sudah mengantre sejak malam.

Pihaknya hanya menyisakan 20 tabung untuk cadangan bagi instansi penting,seperti rumah sakit. Seratus armada mobil yang dimiliki PT Limas Raga Inti dikerahkan untuk mengambil pasokan gas dari lima SPBE.Satu armada berisi pasokan tabung gas, baru dapat kembali ke kantor dua atau tiga hari sekali.

”Karena terhambat, banyak warga yang langsung datang ke sini. Biasanya kami distribusikan hampir 1.000 tabung ke cabang- cabang kami. Mobil yang kami punya semua sudah keluar dan disebar di lima SPPBE,”paparnya.

Tersendatnya pasokan juga juga terlihat di SPPBE Puratarum Jalan Soekarno-Hatta, sejak dua minggu terakhir ini. Sejumlah truk dari agenagen penyalur gas elpiji yang ada di Kota Bandung, menunggu jatah pengisian gas elpiji di SPPBE tersebut. Dalam sehari, SPPBE mengeluarkan 150 ton gas elpiji segala ukuran, yang kemudian diditribusikan ke seluruh agen-agen di Kota Bandung dan Cimahi.

Kepala Staf Bagian Stock Keeper SPPBE Pura Tarum Jajang mengakui terjadinya keterlambatan dan tersendatnya pasokan gas dari Kilang Balongan. ”Sekarang, setiap hari kami dikirimi lebih dari 100 ton, dan setiap hari pula, kami menghabiskan hingga 150 ton untuk pengisian gas-gas berbagai jenis mulai dari 3 kg, 12 kg sampai 50 kg,” ujar Jajang saat ditemui SINDO di SPPBE Puratarum kemarin.

Di Bandung terdapat 5 SPPBE, yakni SPPBE Puratarum, Mandala, Batujajar, Gasindo, dan SPPBE Bajubung. Kelima SPPBE tersebut, kata Jajang, juga mengalami hal serupa, yakni kesulitan pasokan gas dari Kilang Balongan.

Sementara itu,Ketua Non Bahan Bakar Minyak Hiswana Migas Cabang Bandung- Sumedang Medi Moh Saleh menjelaskan, ada beberapa masalah yang berkaitan dengan kelangkaan elpji.Pertama, karena tidak beroperasinya kilang di Balongan. Padahal kilang tersebut memasok hampir sebagian besar kebutuhan elpiji di Jabar, Jateng,dan DKI Jakarta. Untuk mengantisipasinya, Pertamina mengalihkan pasokan ke Eretan.

Namun persoalannya kemudian, permintaan elpiji bertambah banyak seiring meningkatnya jumlah SPBBE.”Oleh karena itu waktu antrean menjadi lebih lama sehingga pasokan terhambat. Saat ini rata-rata pengisian berkisar 2-3 hari. Selain itu minggu ini ada keterlambatan bongkar muat kapal tanker elpiji akibat cuaca buruk,”kata Saleh Persoalan berikutnya, tambah dia, yakni konsumsi elpij 3 kg naik akibat program konversi.

Sekarang rata-rata penyusutan suplai elpiji ke SPPBE mencapai 30%. Di SPPBE Puratarum miliknya, pasokan dari Pertamina hanya 60 ton, sedangkan 70 ton lainnya berasal dari usaha sendiri. Padahal kapasitas maksimal Puratarum mencapai 200 ton. Kelangkaan juga terjadi di wilayah Cirebon.

Akibat pasokan elpiji ke agen dan pengecer dikurangi, sejumlah pengguna elpiji di Kota/Kabupaten Cirebon kesulitan mendapatkan elpiji.Kelangkaan juga mengakibatkan harga elpiji melonjak sejak beberapa hari lalu. Tidak sedikit pengguna elpiji kembali menggunakan kompor minyak tanah. Namun bahan bakar minyak tanah pun sulit didapat sejak program konversi minyak tanah ke elpiji beberapa waktu lalu.

Kelangkaan elpiji ini mengakibatkan harga eceran melonjak tajam. Harga eceran elpiji 3 kg bisa mencapai Rp 25.000.Padahal,harga normalnya hanya berkisar Rp15.000. ”Karena kami butuh, walau pun mahal terpaksa kami beli,”papar Ibnu,warga Pilang Kabupaten Cirebon. (wisnoe moerti/ evi panjaitan/ tantan sulthon)

 


Sumber: Harian Seputar Indonesia, Jum'at 12 Desember 2008

 

Slide


hade3.jpg

Berita Lain