Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Tasikmalaya CARIKAN SOLUSI KAMPUNG NAGA
CARIKAN SOLUSI KAMPUNG NAGA PDF Print E-mail
Thursday, 14 May 2009 12:21
Tasikmalaya, (PR).-
Permasalahan yang dihadapi warga adat di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, harus segera dicarikan jalan ke luar secepatnya. Jika berlarut-larut, dikhawatirkan akan merugikan semua pihak, termasuk citra wisata di Indonesia.

Demikian rangkuman pendapat dari pengelola perusahaan perjalanan wisata Eko Wahyudi, pemerhati/peneliti Kampung Naga Toto Sugito, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Herdiwan, Rabu (13/5) yang diminta tanggapan secara terpisah.

Mereka diminta tanggapan, setelah warga adat Kampung Naga telah memutuskan, mulai Kamis (15/5) tidak akan lagi menerima kunjungan wisatawan, penelitian maupun tamu lainnya. Alasannya, warga kecewa setelah program konversi minyak tanah ke gas digulirkan. Program itu, mengakibatkan warga adat kesulitan memperoleh minyak tanah dan mahal. Padahal, warga dilarang oleh adat menggunakan listrik dan gas.

Menurut Eko Wahyudi dari PT Widya Wisata Jakarta, setiap bulan rata-rata dua kali membawa rombongan turis ke Kampung Naga. Sebagian besar berasal dari Eropa, seperti Jerman dan Prancis.

Kampung Naga dijadikan tujuan kunjungan karena merupakan daerah unik dan menarik perhatian luar karena adatnya yang asli. Dengan demikian, jika ditutup untuk kunjungan, sangat disayangkan. "Tapi, kami menghargai sikap atau keputusan yang diambil oleh warga adat. Selama ini, hubungan kita dengan warga adat Naga cukup baik," katanya.

Sedangkan Toto Sugito, pemerhati Kampung Naga, sejak September 2008, sampai tanggal 6 Mei 2009, ada 12.000 lebih wisatawan yang tercatat datang ke Kampung Naga. Jumlah tersebut belum termasuk yang tidak tercatat, yaitu pengunjung yang di bawah sepuluh orang.

Makanya, Toto yang sejak lima tahun terakhir mempelajari adat daerah itu, mendesak kepada pemerintah agar segera membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi warga Kampung Naga.

Sementara itu, Herdiwan berharap Kampung Naga tetap dibuka lagi sebagaimana sifat kita yang harus someah hade kasemah/ramah baik ke tamu. (A-97)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 14 Mei 2009
 

Slide


riceterraces.jpg