Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Sukabumi 350 PERAHU TRADISIONAL BERLABUH
350 PERAHU TRADISIONAL BERLABUH PDF Print E-mail
Wednesday, 10 March 2010 08:04
Tak Ada Ikan di Teluk, untuk ke Tengah Laut Mereka tidak Mampu
 
Sukabumi, (PR).-
Sekitar 350 perahu nelayan tradisional di Palabuhanratu,  tidak beroperasi gara-gara nelayannya tak punya biaya operasional melaut. Ketiadaan biaya operasional itu dipicu hasil tangkapan ikannya kini menurun drastis.

”Sampai-sampai kontribusi tangkapan ikan dari perahu lokal (nelayan tradisional) yang masuk ke TPI Januari kemarin, nol persen,” ujar Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kab. Sukabumi, Ujang S.B. ketika ditemui di Dermaga I Palabu-hanratu, Selasa (9/3).

Menurut Ujang, semua produksi ikan di TPI selama Januari dan Februari yang masing-masing 63,87 ton dan 35,76 ton, dihasilkan oleh kapal rumpon dan kapal-kapal besar longline.  

Ujang yang juga Manager TPI Palabuhanratu menjelaskan, 350 perahu lokal yang tidak beroperasi itu merupakan  70 persen dari jumlah seluruh perahu lokal yang ada di Palabuhanratu yakni 500 perahu. Ratusan perahu yang tidak beroperasi itu, dari mulai perahu congkreng, beleketek, dogol, dan yang paling banyak adalah jenis perahu payang.  

”Padahal, perahu payang ini menyerap tenaga kerja paling banyak dibandingkan dengan perahu-perahu lokal lainnya. Satu perahu payang bisa membawa 17 sampai 20 anak buah kapal (ABK). Oleh karena itu, tak menutup kemungkinan akibat 350 perahu yang tidak bisa beroperasi ini menyebabkan ribuan nelayan kehilangan mata pencahariannya,” ujarnya.  

Inovasi alat

Menurut Ujang, merosotnya hasil tangkapan ikan nelayan tradisional itu akibat gerombolan ikannya kini  jarang masuk ke sekitar Teluk Palabuhanratu. Padahal perahu-perahu jenis itu, rata-rata mengandalkan hasil tangkapan ikannya di sekitar teluk.

Jarangnya gerombolan ikan yang masuk ke sekitar teluk. Itu karena berkurangnya makanan ikan yang selain disebabkan maraknya penangkapan impun (ikan kecil) yang dilakukan masyarakat di sekitar muara, juga pemakaian alat tangkap ikan yang merusak biota laut.

”Mereka menangkap ikan menggunakan jaring yang lubangnya sangat kecil dan tipis sehingga ikan-ikan kecil yang menjadi makanan ikan besar, jadi sedikit. Dikarenakan tidak ada makanan, sehingga gerombolan ikan mencari makanan di sekitar rumpon (alat tangkap ikan) di tengah laut,” kata Ujang.  

Kendati diakui pemasangan rumpon itu sangat efektif dan efisien dalam menangkap ikan, tetapi perahu-perahu lokal tak mampu menjangkau lokasi rumpon di tengah laut.

Solusinya, tak ada cara lain kecuali pemerintah mesti mengembangkan teknologi alat penangkapan ikan. Misalnya, merenovasi perahu payang menjadi perahu rumpon serta mengganti jaring gilnet menjadi jaring cincin.

Menanggapi hal itu, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP), Ir. Arief Rahman Lamatta, M.M., akan berupaya membantu peningkatan teknologi alat penangkapan ikan itu.  (A-67)***

Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Rabu 10 Maret 2010