Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Purwakarta 4.200 WARGA PURWAKARTA MASIH BUTA AKSARA
4.200 WARGA PURWAKARTA MASIH BUTA AKSARA PDF Print E-mail
Wednesday, 13 January 2010 08:34
Purwakarta (SI) – Sebanyak 4.200 warga Kabupaten Purwakarta masih mengalami buta aksara. Banyak alasan yang menjadi penyebab tingginya masyarakat buta aksara, di antaranya kesadaran mengikuti pendidikan tergolong rendah dan jarak antara rumah ke lembaga pendidikan cukup jauh.

Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal Dinas Pendidikan,Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Purwakarta Panda Dinata mengatakan, jumlah sebanyak itu merupakan sisa warga yang belum mengikuti program Keaksaraan Fungsional 2009. Sebelumnya jumlah masyarakat buta aksara mencapai 12.120 orang. ”Kami targetkan tahun ini Purwakarta bebas buta aksara. Mereka bakal diikutsertakan dalam pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di masing-masing wilayah melalui program keaksaraan,” ungkap Panda,kemarin. Dia menjelaskan, warga buta aksara ini tergolong usia produktif antara 25-60 tahun.

Dalam menjalankan program Keaksaraan Fungsional disesuaikan dengan tingkatan usia mereka.Setiap peserta didik di PKBM yang sudah lulus diberi sertifikat keterangan melek aksara (Sekma). Selama ini untuk proses belajar-mengajar tidak ada kendala. Ketersediaan tutor masih memadai dengan perbandingan 10 peserta didik dikelola satu orang tutor. Sementara,tingginya angka buta aksara membuat Komisi IV DPRD Purwakarta bereaksi. Mereka prihatin melihat kondisi tersebut. Apalagi selama ini legislator sama sekali tidak mengetahui jika jumlahnya mencapai 4.200 orang.

Anggota Komisi IV DPRD Purwakarta Ragil Sukamto mengungkapkan, perlu ada keinginan kuat di Disdikpora untuk meningkatkan kinerjanya. Jangan sampai masih adanya buta aksara menjadi kontradiksi atas kampanye bebas buta aksara. Selain itu,perlu keseriusan bersama dalam menangani persoalan ini.”Kalau memang benar 4.200 warga Purwakarta masih buta aksara, ya kami merasa prihatin.

Selama ini bagaimana kinerja dinas jika buta aksara masih banyak. Kami mendesak agar Disdikpora segera menuntaskannya, jangan santaisantai saja bekerja,”ujar Ragil. (asep supiandi)

 


Sumber: Harian Seputar Indonesia, Rabu 13 Januari 2010