Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Kuningan 300 KIAI KUNINGAN LAKUKAN GERAKAN PESANTREN ANTITERORIS
300 KIAI KUNINGAN LAKUKAN GERAKAN PESANTREN ANTITERORIS PDF Print E-mail
Sunday, 16 August 2009 19:37
Kuningan, (PR).-
Ratusan kiai di Kab. Kuningan menyatakan kebulatan tekad untuk melakukan "Gerakan Pesantren Anti Teroris". Mereka meyakini, mati atau tidak mati Noordin M. Top, belum akan mengakhiri gerakan teroris di Indonesia karena habitatnya ada bahkan terus menggurita.

Demikian, salah satu kesimpulan hasil diskusi forum ulama pada acara silaturahmi 300 kiai pimpinan pondok pesantren se-Kab. Kuningan dengan Bupati H. Aang Hamid Suganda beserta unsur Muspida, dalam kaitan menyambut Bulan Suci Ramadan, HUT Kemerdekaan RI, serta Hari Jadi ke-511 Kuningan, yang berlangsung di Lembah Ciremai, Jumat malam (14/8).

Hasil diskusi menyebutkan, persoalannya adalah bukan pada orang melainkan suatu doktrin. Sepanjang doktrin itu ada, teroris dan terorisme tetap hidup lebih-lebih dicekoki dengan pemahaman jihad yang yang menyimpang Oleh karenanya, terorisme harus dibasmi sampai akar-akarnya dan jangan sampai doktrin menjadi kuat.

Forum diskusi para kiai yang dihadiri pula Kapolres Kuningan Ajun Komisaris Besar Nurullah, S.H., M.Hum, Wakil Bupati H.Momon Rochmana, dan sejumlah pejabat lainnya itu, dalam upaya mempererat hubungan ulama-umara.

Berbagai persoalan yang menjadi bahan diskusi, namun soal teroris mendapat sorotan utama apalagi setelah terungkapnya Ibrohim yang tewas di Temanggung, beristrikan orang Sampora Kab. Kuningan.

Selain itu, berkembang pula seorang teroris berinitial SJ yang diduga sebagai pencetak atau sering mendoktrinkan dan piawai dalam memilih orang sebagai pengikutnya termasuk untuk menjadi "penganten", disebut sebut sebagai kakaknya istri Ibrohim sehingga ia sampai sekarang masih dalam pengejaran pihak berwajib.

Seperti disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Bani Syahir Cibingbin, K.H. Asep Saefudin, adanya doktrin yang kuat dengan pemahaman jihad yang keliru menjadikan orang yang pemikirannya labil akan mudah menjadi "penganten".

Pemahaman jihad

Lebih jauh K.H. Asep menyebutkan, jika doktrin itu tetap ada, khawatir anak-anak bangsa menjadi tergiur. Apalagi dalam kondisi hidup susah sehingga memilih lebih baik mati sahid menurut doktrin mereka.

"Walaupun Noordin M. Top sudah tidak ada, tetapi kader-kadernya tetap ada apalagi dikaitkan dengan Muslim. Ini merusak agama karena berpikiran jahat. Untuk itu, perlu diwaspadai," katanya.

Hal sama disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda Windusengkahan, K.H. Aman Syamsul Falah. Ia mengusulkan agar seluruh santri termasuk Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP), MUI serta ormas untuk menggelar pertemuan dalam upaya pemahaman soal jihad.

Arti jihad sebenarnya adalah memerangi orang kafir dalam medan tempur, sehingga jihad tidak bisa disatukan dengan teroris. "Jihad ya jihad, teroris ya teroris. Saya berharap tidak ada satu pun pesantren di Kab. Kuningan yang melakukan doktrin teroris," katanya.

Pada kesempatan itu, Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda mengajak para kiai pimpinan pondok pesantren maupun segenap masyarakat untuk lebih meningkatkan lagi kewaspadaannya, sehingga Kab. Kuningan harus terhindar dari pengaruh teroris dan jangan pernah dijadikan sarang teroris. (A-164)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Minggu 16 Agustus 2009