Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Garut JEMBATAN BATARA NYARIS AMBROL
JEMBATAN BATARA NYARIS AMBROL PDF Print E-mail
Tuesday, 08 December 2009 09:03
Menghubungkan Lima Desa di Kecamatan Bayongbong Garut

Garut, (PR).-
Hujan deras yang kerap mengguyur Kab. Garut menyebabkan jalan penghubung lima desa di Kec. Bayongbong Kab. Garut terus ambrol. Kondisi tersebut mengancam Jembatan Batara sebagai penghubung yang melintasi Sungai Cimanuk karena lapisan tanah penyangga terus terkikis.

Jembatan tersebut menghubungkan Desa Sukasenang, Cikedokan, Sukarasa, Salakurai, dan Sirnagalih. Dikhawatirkan, tanah penyangga tidak mampu menahan beban jembatan dan jembatan ambrol terbawa gerakan tanah.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sukasenang Saeful Hayat saat ditemui di lokasi jembatan, Senin (7/12) menjelaskan, ambrolnya tanah penahan jembatan bermula pada awal Januari 2008.

"Sejak saat itu, tanah ambrol terus terjadi. Bahkan, akhir-akhir ini curah hujan tinggi, ambrolnya tanah dibarengi jatuhan batu penahan tanah, sehingga warga sangat waswas," katanya.

Jembatan dibangun sekitar 1998 dengan lebar 6 m dan panjang 30 m melintasi Sungai Cimanuk. Pascalongsor 2008, lebar tanah penahan berkurang hingga menjadi 4 m.

Akibatnya, fondasi jembatan menggantung dari lapisan tanah di bagian bawahnya. Sementara jalan penghubung Jembatan Batara dengan Jembatan Gantung Cipanday yang berada di sampingnya sepanjang 25 meter dengan ketinggian hampir 15 meter sudah ambles terbawa gerusan tanah longsor.

Hati-hati

Masyarakat yang melintasi jembatan tersebut harus hati-hati karena daerah tersebut rawan longsor dan tingkat kecuraman tebing sungai yang cukup tinggi. Warga disarankan tidak melintasi jembatan tersebut dengan menggunakan kendaraan, sebab jika jembatan terputus maka lalu lintas lumpuh dan warga tidak bisa beraktivitas dengan normal.

Namun, meski kondisinya membahayakan, jalur tersebut kerap dilalui kendaraan dengan tonase kendaraan yang berat. Apalagi, Desa Sukasenang dan kawasan di sekitarnya termasuk sentra pertanian sehingga banyak kendaraan besar yang lalu lalang melintasi kawasan tersebut.

"Kami tidak bisa menghalang-halangi warga untuk melintasi jalan ini. Kami sudah sempat pasang pagar kayu agar tidak dilintasi kendaraan besar, tapi warga protes karena tidak ada jalan lain menuju jalan utama Garut dari daerah ini," ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan Kepala Desa Sukasenang Asep De Maman. Hampir dua tahun longsoran tanah di sekitar jembatan itu terjadi, tetapi hingga saat ini belum ada tanggapan dari Pemkab Garut.

"Padahal, keberadaan jembatan yang menjadi penghubung dengan jalan utama sangat penting sebagai akses jalan bagi masyarakat," katanya.

Masyarakat berharap segera dilakukan perbaikan terhadap jembatan tersebut.

"Warga khawatir jembatan ambrol dan hancur, sebab fondasinya sudah tergerus. Bisa saja hal itu terjadi dan memakan korban jiwa. Sebelum itu terjadi, kami minta ada perhatian dari Pemkab Garut untuk segera dilakukan perbaikan," ucapnya. (A-158)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 08 Desember 2009