Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Garut NELAYAN TAK BERANI SIMPAN PERAHU DI PANTAI
NELAYAN TAK BERANI SIMPAN PERAHU DI PANTAI PDF Print E-mail
Friday, 13 February 2009 07:19
Garut, (PR).-
Sekitar seribu nelayan di Pantai Santolo, Kec. Cikelet, Kab. Garut, sejak beberapa hari belakangan ini terpaksa mengamankan perahu mereka di muara sungai. Para nelayan tidak mau mengambil risiko perahu mereka rusak dihantam ombak besar yang masih menerjang pesisir pantai itu.

"Sekarang ini, (ketinggian) ombak di tengah laut bisa mencapai 5 meter. Jadi sekitar seribu nelayan di sini, tidak melaut. Perahu yang biasanya disimpan di bibir pantai pun terpaksa diamankan di muara," kata Saiful Rohman, nelayan Desa Pamalayan, Kec. Cikelet, Kab. Garut, ketika ditemui "PR", Kamis (12/2).

Menurut dia, kalau dipaksakan melaut, selain risiko dihantam gelombang, ikan yang diperoleh pun hanya sedikit. "Sekali melaut, kami membutuhkan modal sekitar Rp 5 juta. Kalau ombaknya seperti ini, bisa memperoleh hasil tangkapan Rp 2 juta saja, sangat sulit," katanya.

Oleh karena itu, kata Saiful, para nelayan di Santolo sekarang ini banyak yang beralih profesi menjadi petani atau memperbaiki jaring.

Selain nelayan, cuaca buruk juga berdampak terhadap aktivitas para buruh pengangkut ikan. "Lihat saja, sekarang ini tempat pelelangan ikan (TPI) sepi. Untuk sementara, kami pun tidak ada kerjaan," kata salah seorang buruh pengangkut ikan di TPI Santolo.

70% tak melaut

Sementara itu, sekitar 10.500 nelayan di Kab. Sukabumi tidak melaut akibat cuaca buruk di tengah laut. Mereka lebih memilih melipat jaring dan pancingnya. Cuaca buruk akibat datangnya musim angin barat tersebut, diperkirakan akan berlangsung hingga April nanti.

"Sekitar 70% dari 15.000 nelayan di Kab. Sukabumi sekarang tidak melaut. Sedangkan 30% sisanya, mereka masih memberanikan diri melaut karena terdesak kebutuhan hidup sehari-hari," kata pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kab. Sukabumi, Badri Suhendi ketika ditemui di kantornya di Dermaga II Palabuhanratu, Kamis (12/2).

Menurut dia, untuk mengisi kekosongan sambil menunggu cuaca kembali normal, mereka terpaksa mencari kerja serabutan, misalnya menjadi tukang ojek, kuli bangunan, bertani, dan berkebun. "Pekerjaan itu hanya pelarian mereka di saat-saat musim paceklik ikan dan cuaca buruk. Mereka mencari kerja serabutan supaya tetap bisa menghidupi keluarganya," ujarnya.

Badri menyebutkan, ribuan nelayan yang libur melaut itu sebagian besar adalah nelayan kecil yang menggunakan perahu tradisional congkreng, beleketek, payang, dan pagang. Mereka itu yang biasa beroperasi menangkap ikan di dalam perairan teluk. Sementara kapal-kapal besar long line yang bisa beroperasi sampai ke perairan Samudra Hindia, masih tetap beraktivitas. Itu pun dengan tetap menjaga kewaspadaan untuk menghindari kecelakaan laut (laka laut) akibat cuaca buruk.

"Makanya tak heran, bila penurunan produksi ikan di TPI didominasi merosotnya hasil tangkapan ikan nelayan kecil. Penurunan hasil tangkapan nelayan kecil ini, dampaknya sangat luas. Usaha pembuatan ikan pindang atau ikan asin, kini sedang lesu karena kekurangan stok ikan. Secara umum, musim paceklik ikan ini membuat pendapatan nelayan menurun drastis hingga bisa melumpuhkan perekonomian di sektor perikanan tangkap," katanya.

Budi daya

Untuk mengantisipasi hal itu, Badri Suhendi menilai perlunya membuka lapangan pekerjaan baru bagi nelayan agar tidak terpaku pada penangkapan ikan saja. Dia mencontohkan dengan mengembangkan usaha budi daya kerang hijau, rumput laut, dan budi daya ikan kerapu. Bentuk usaha lainnya adalah mengembangkan usaha perikanan darat, seperti ikan mas, nila, dan lele.

"Inilah yang perlu didorong oleh pemerintah sehingga nelayan masih bisa beraktivitas walaupun sedang paceklik ikan. Sayangnya, pengembangan usaha budi daya ini sampai sekarang tidak berjalan dan program-programnya masih mandul," ujar Badri.

Penilaian serupa dikemukakan nelayan senior sekaligus pengusaha ikan Palabuhanratu, Mustafa. Menurut dia, nelayan kecil ini perlu dibina oleh pemerintah untuk membentuk kelompok usaha baru, salah satunya dengan melakukan usaha budi daya. Dengan begitu, nelayan kecil tidak tergantung pada usaha perikanan tangkap. "Mereka masih bisa bekerja dan punya pendapatan saat musim paceklik ikan," ucapnya.

Meski begitu, usaha budi daya tersebut perlu dukungan modal dari pemerintah, sebab rata-rata nelayan tidak memiliki modal kerja.

"Akan tetapi, permodalan itu pun harus betul-betul sesuai dengan kebutuhan nelayan. Karena yang seperti saya rasakan sendiri, berbagai bantuan yang selama ini dikucurkan untuk nelayan selalu tidak sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dalam penggunaannya cenderung kurang efektif," kata Mustafa. (A-67/A-158)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 13 Februari 2009
 

Slide


hade2.jpg