Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Garut TERPAKSA BOLOS BILA ARUS CIMANUK DERAS
TERPAKSA BOLOS BILA ARUS CIMANUK DERAS PDF Print E-mail
Thursday, 12 February 2009 07:11

Cuaca mendung disertai rintik-rintik hujan tak menyurutkan langkah Ani Andriani (16), siswa salah satu SMA di Kec. Banyuresmi Kab. Garut untuk pergi ke sekolah. Warga Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya, Kec. Karangpawitan, Kab. Garut itu lalu berjalan kaki menuju ke tepi Sungai Cimanuk yang ada di kampungnya.

Untuk sampai ke sekolah, Ani memang harus menyeberangi sungai itu dengan rakit ke Kampung Patrol, Desa Sukaratu, Kec. Banyuresmi. Dari sana ia lalu menggunakan angkutan umum menuju sekolahnya di Banyuresmi.

Ani mengaku sejak sekolah dasar sudah menggunakan rakit sebagai alat transportasi menyeberangi Sungai Cimanuk menuju ke sekolahnya. "Enggak ada pilihan lain untuk menyeberang selain pakai rakit. Meski takut, saya paksakan saja. Soalnya, saya harus ke sekolah," kata Ani, Sabtu (7/2) lalu.

Meski begitu, ia mengaku terpaksa bolos sekolah jika arus Sungai Cimanuk deras. "Daripada terbawa arus, saya pilih enggak sekolah saja. Kalau dipaksakan, bahaya," ungkapnya.

Salah seorang yang berjasa menyeberangkan Ani adalah Abdul Kodir. Pria berusia 54 tahun itu hampir setiap hari mengoperasikan rakit bambu yang ditambatkan di pinggir Sungai Cimanuk. Dia memang bekerja sebagai penarik rakit untuk menyeberangkan warga dari tepi Sungai Cimanuk di Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya ke tepi yang lain di Kampung Patrol, Desa Sukaratu, atau sebaliknya.

Sabtu (7/2) pagi itu, Abdul dengan sabar menanti para penumpang rakitnya. Kebanyakan penumpangnya adalah para siswa yang hendak bersekolah di kedua wilayah tersebut, serta warga yang hendak berbelanja ke pasar atau bekerja di kawasan kota.

Lebar Sungai Cimanuk di daerah itu mencapai 30 m dengan kedalaman 3-5 meter. Jika di wilayah hulu sungai diguyur hujan, kedalamannya bisa mencapai 7 m yang disertai arus deras.

Rakit yang dibuat dari bambu itu berukuran 1 m x 10 m. Bagian ujungnya ditambatkan pada kawat baja yang membentang di atas sungai agar tidak terbawa arus. Sedangkan pada bagian ujung lainnya disediakan sebilah bambu panjang untuk menyeimbangkan arah rakit. Setiap tahun, rakit bambu diganti karena sudah mulai lapuk dan dipenuhi lumut.

"Saya sudah menekuni pekerjaan ini selama 15 tahun. Kalau suka dukanya mah banyak, tetapi saya butuh uang untuk menghidupi keluarga. Soal tarif, saridona wae," ujar warga Kampung Cijambe RT 2 RW 7, Desa Sindanglaya, Kec. Karangpawitan itu.

Ditanya soal ancaman terseret arus, Abdul hanya tersenyum. "Sudah tiga rakit terbawa hanyut oleh arus Sungai Cimanuk yang cukup deras. Kawatnya juga sempat putus beberapa kali. Untung saja enggak ada korban jiwa. Kalau airnya naik atau sedang hujan deras, penyeberangan terpaksa dihentikan dulu," ujarnya.

Sebenarnya, bukan tidak ada alternatif transportasi lain. Warga bisa naik ojek sejauh 5 km dengan tarif Rp 10.000,00, menuju jalan besar. Dari sana, bila hendak menuju pusat kota Kab. Garut, warga harus dua kali naik kendaraan umum, yang menghabiskan waktu sedikitnya setengah jam. Namun, jika menyeberangi Cimanuk, mereka hanya membayar Rp 1.000,00 untuk ongkos rakit, lalu naik angkutan umum satu kali menuju kota. Waktu yang dibutuhkan pun lebih singkat, hanya sekitar 15 menit.

Menurut warga setempat, Yunus Komarudin (50), berharap agar pembangunan jembatan bisa direalisasikan. "Kami ingin jembatan itu segera terwujud, agar anak-anak tidak perlu was-was terbawa hanyut oleh arus Cimanuk, bila pergi ke sekolah," katanya. (Ririn N.F./"PR")***


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 12 Februari 2009
 

Slide


hade.jpg