Info Terakhir
- LAPORAN DARI KORSEL
- MOBIL DINAS DEWAN SEDOT Rp 8 M
- WUJUDKAN JAWA BARAT SEBAGAI GREEN PROVINCE
- UNTUK GENJOT PRESTASI OLAHRAGA, GUBERNUR KUNJUNGI KORSEL
- Dinas, Badan dan Biro Jabar
- NAMA BUPATI dan WALIKOTA BESERTA WAKILNYA
- KEPALA DAERAH HARUS BANGUN SINERGI UNTUK WUJUDKAN KESEJAHTERAAN
- HERYAWAN: DESA CIBATU TIGA DESTINASI WISATA BARU DI JAWA BARAT
- 15 PADEPOKAN SENI DIRESMIKAN GUBERNUR JAWA BARAT
- DARMIN, "PEREKONOMIAN NASIONAL MULAI MEMBAIK"
Pengunjung
We have 116 guests onlineJajak Pendapat
| 353 BALITA DI CIAMIS MENDERITA GIZI BURUK |
|
|
|
| Monday, 27 April 2009 12:47 |
|
Ciamis, (PR).-
Sebanyak 353 balita di Kab. Ciamis menderita gizi buruk. Selain itu, balita yang masuk kategori gizi kurang mencapai 1.079 orang. Jika balita gizi kurang tersebut tidak ditangani dengan baik, kondisinya akan lebih parah dan akan masuk kelompok gizi buruk. "Sebagian besar balita penderita gizi buruk berasal dari kalangan keluarga miskin. Namun ada pula balita dari keluarga mampu yang mengalami hal itu. Untuk balita gizi buruk dari keluarga mampu, itu lebih disebabkan karena pola asuh yang salah," tutur Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab. Ciamis, Engkan Iskandar, didampingi Pengelola Program Kesehatan Masyarakat Tina Fibriantina, kemarin. Ia menjelaskan, dari 353 balita gizi buruk atau balita dengan status gizi yang sangat kurang itu, sebanyak 221 balita dari keluarga miskin, sedangkan sisanya sebanyak 132 balita bukan dari keluarga miskin. Begitupun balita yang mengalami gizi kurang, sebagian besar berasal dari keluarga miskin. "Berdasarkan pemantauan, balita yang mengikuti rutin kegiatan makanan tambahan, memang ada peningkatan kesehatan dan penambahan berat badan. Hanya saja, setelah program selesai, kondisi balita terutama dari keluarga tidak mampu akan kembali memberikan makanan yang kurang bergizi," tuturnya. Dengan demikian, Engkan berharap agar seluruh balita yang menderita kurang gizi bisa dicarikan "orang tua angkat" atau "keluarga angkat", sehingga diharapkan ada jaminan balita tersebut akan mendapatkan asupan makanan yang dibutuhkan bagi perkembangan bayi. Sementara itu, Tina Fibriantina, Pengelola Program Kesehatan Masyarakat, mengatakan terbatasnya anggaran untuk program makanan tambahan. Anggaran yang tersedia Rp 285 juta. Padahal kebutuhan untuk tiap balita sesuai kebutuhan asupan gizi dan kalori, Rp 8.000,00/hari. "Pemberian makanan tambahan juga harus sesuai kebutuhan. Jika tidak sesuai aturan akibatnya tidak ada daya ungkit meningkatkan berat badan," tuturnya. (A-101)***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Senin 27 April 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



