Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Ciamis 353 BALITA DI CIAMIS MENDERITA GIZI BURUK
353 BALITA DI CIAMIS MENDERITA GIZI BURUK PDF Print E-mail
Monday, 27 April 2009 12:47
Ciamis, (PR).-
Sebanyak 353 balita di Kab. Ciamis menderita gizi buruk. Selain itu, balita yang masuk kategori gizi kurang mencapai 1.079 orang. Jika balita gizi kurang tersebut tidak ditangani dengan baik, kondisinya akan lebih parah dan akan masuk kelompok gizi buruk.

"Sebagian besar balita penderita gizi buruk berasal dari kalangan keluarga miskin. Namun ada pula balita dari keluarga mampu yang mengalami hal itu. Untuk balita gizi buruk dari keluarga mampu, itu lebih disebabkan karena pola asuh yang salah," tutur Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab. Ciamis, Engkan Iskandar, didampingi Pengelola Program Kesehatan Masyarakat Tina Fibriantina, kemarin.

Ia menjelaskan, dari 353 balita gizi buruk atau balita dengan status gizi yang sangat kurang itu, sebanyak 221 balita dari keluarga miskin, sedangkan sisanya sebanyak 132 balita bukan dari keluarga miskin. Begitupun balita yang mengalami gizi kurang, sebagian besar berasal dari keluarga miskin.

"Berdasarkan pemantauan, balita yang mengikuti rutin kegiatan makanan tambahan, memang ada peningkatan kesehatan dan penambahan berat badan. Hanya saja, setelah program selesai, kondisi balita terutama dari keluarga tidak mampu akan kembali memberikan makanan yang kurang bergizi," tuturnya.

Dengan demikian, Engkan berharap agar seluruh balita yang menderita kurang gizi bisa dicarikan "orang tua angkat" atau "keluarga angkat", sehingga diharapkan ada jaminan balita tersebut akan mendapatkan asupan makanan yang dibutuhkan bagi perkembangan bayi.

Sementara itu, Tina Fibriantina, Pengelola Program Kesehatan Masyarakat, mengatakan terbatasnya anggaran untuk program makanan tambahan. Anggaran yang tersedia Rp 285 juta. Padahal kebutuhan untuk tiap balita sesuai kebutuhan asupan gizi dan kalori, Rp 8.000,00/hari. "Pemberian makanan tambahan juga harus sesuai kebutuhan. Jika tidak sesuai aturan akibatnya tidak ada daya ungkit meningkatkan berat badan," tuturnya. (A-101)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Senin 27 April 2009