Info Terakhir
- AGENDA GUBERNUR - RABU, 10 MARET 2010
- RATUSAN RUMAH DI KADUNGORA TERENDAM BANJIR
- BIRO IKLAN DIDENDA Rp 255 JUTA
- LUBANG BESAR GANGGU AKSES JALAN
- JALUR PURWAKARTA-CIANJUR TERPUTUS
- SUDAH LAYAKKAH KOTA BEKASI MERAIH ADIPURA ?
- DANA BENCANA BERMASALAH
- 350 PERAHU TRADISIONAL BERLABUH
- GABAH HASIL PANEN PETANI CIANJUR ANJLOK DRASTIS
- KEPALA DINAS MEMBANTAH PENJUALAN TOKO DI CIPANAS
Pengunjung
We have 205 guests onlineJajak Pendapat
| BPLHD TARGETKAN EMPAT RIBU LUBANG BIOPORI |
|
|
|
| Saturday, 18 July 2009 23:10 |
|
Soreang, (PR).-
Empat ribu lubang resapan biopori (LRB) ditargetkan telah dibuat tersebar di Kab. Bandung sebelum Desember 2009. LRB tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif perbaikan kondisi ekosistem dan permasalahan lingkungan. "Penerapan lubang resapan biopori ini dipilih karena sederhana, murah, dan bisa dibuat oleh siapa saja," kata Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kab. Bandung Atih Witartih seusai Sosialisasi Penerapan Lubang Resapan Biopori, Jumat (17/7). Kegiatan itu diikuti sekitar 80 peserta dari 31 kecamatan di Kab. Bandung dan sejumlah peserta dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Bandung. Seusai acara, setiap peserta diharapkan mau melanjutkan sosialiasi penerapan LRB di lingkungannya masing-masing. Diasumsikan, setiap peserta dapat membuat sekitar lima puluh LRB secara bertahap hingga akhir tahun 2009. Dengan demikian, LRB bisa diterapkan secara menyeluruh di tengah masyarakat. Menurut Atih, BPLHD secara berkala akan melakukan pemantauan ke tingkat bawah. "Setelah sosialisasi ini, kami juga akan melakukan monitoring," katanya. Secara teknis, LRB merupakan lubang vertikal berdiameter sekitar 10 cm dengan kedalaman sekitar 100 cm atau tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah. Lubang tersebut kemudian diisi sampah organik. Karena bentuknya relatif kecil, pembuatan LRB bisa dilakukan di mana saja. Namun, sesuai dengan fungsinya sebagai resapan, LRB dianjurkan dibuat di lokasi-lokasi tempat air terkumpul saat hujan berlangsung. Permukaan vertikal Penggagas LRB, Kamir R. Brata mengatakan, pembuatan LRB terkait dengan peningkatan jumlah penduduk dan pesatnya pembangunan, berimbas pada makin berkurangnya ruang terbuka. Sementara di sisi lain, volume sampah juga meningkat. Padahal, resapan air tanah merupakan bagian penting dari kelangsungan hidup manusia. "Dengan demikian, LRB merupakan teknologi tepat guna untuk mengatasi makin sempitnya permukaan horizontal dengan menciptakan perluasan permukaan vertikal," kata Kamir yang juga menjadi tenaga pendidik di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Lebih lanjut, Kamir menjelaskan, konsep LRB ini memiliki sejumlah fungsi lain, di antaranya memanfaatkan sampah organik menjadi kompos, meningkatkan peran aktivitas biodiversitas tanah dan akar tanaman, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan laju peresapan air dan cadangan air tanah, serta mengatasi masalah yang ditimbulkan genangan air, seperti penyakit demam berdarah dan malaria. (A-179)***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Sabtu 18 Juli 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- STIMULUS DAN EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL
- MAJALENGKA DAPAT JATAH 368 CPNS



