Home Lintas Kabupaten Kota Kab. Bandung WARGA CIEUNTEUNG KEMBALI MENGUNGSI
WARGA CIEUNTEUNG KEMBALI MENGUNGSI PDF Print E-mail
Wednesday, 13 May 2009 13:14
Soreang, (PR).-
Setelah hampir sebulan tidak "disinggahi" luapan air Sungai Citarum, sekitar empat ratus rumah di RW 20 Kampung Cieunteung, Desa/Kec. Baleendah, Kab. Bandung, Senin (11/5) malam kembali tergenang banjir. Akibatnya, sedikitnya seratus warga kembali mengungsi.

"Setelah hujan turun sejak sore hari, sekitar pukul 19.00 WIB air datang dan terus naik hingga mencapai ketinggian satu meter," kata Teti Komalawati (30), warga RT 2 yang ditemui di pengungsian, Selasa (12/5).

Teti yang melahirkan anak ketiganya, Tiwi Gustini (5 bulan) di pengungsian ini, mengaku tidak menduga banjir akan kembali datang. Terlebih, sudah hampir sebulan ini ia bisa kembali menikmati nyamannya tinggal di rumah sendiri, setelah selama dua bulan penuh tinggal di pengungsian.

Ketua RW 20 Jaja, juga tidak menyangka banjir akan kembali datang. "Padahal sekarang sudah pertengahan Mei, semestinya sudah masuk ke musim kemarau," katanya. Menurut Jaja, Selasa (12/5) sore, air sudah mulai surut hingga tinggal setinggi 40 cm.

Meskipun tidak berharap banjir kembali datang, tetapi untuk mengantisipasi kehadirannya, warga yang memperoleh bantuan dari salah satu industri di Cieunteung telah mempersiapkan dua pintu air. Kedua pintu air yang diposisikan di belakang SDN Mekarsari dan dekat salah satu pabrik di Cieunteung itu, diharapkan mampu menjadi solusi sementara untuk mencegah banjir.

"Tiap kali banjir datang, air selalu datang dari dua tittik tersebut. Maka kami berpikir, dengan menempatkan pintu air yang bisa menahan kedatangan air, banjir yang terjadi tidak akan terlalu parah seperti biasanya," kata Jaja.

Pintu air yang kini masih dalam proses penyelesaian akhir itu rencananya akan segera dioperasikan. Pengoperasiannya dibarengi dengan pemantauan terhadap cuaca di sekitar Cieunteung.

"Kalau sekiranya hujan akan turun dan Citarum akan meluap, pintu air segera ditutup. Namun bisa juga dimanfaatkan untuk menyalurkan air yang sudah telanjur menggenang agar kembali ke Sungai Citarum, jika ketinggiannya masih di bawah 50 cm. Lumpur juga diharapkan tidak terlalu banyak yang masuk ke perumahan warga," tuturnya.

Jaja dan warga Cieunteung lainnya menyadari upaya yang mereka laksanakan bukan merupakan solusi permanen. Namun, setidaknya, ada sesuatu yang dilakukan sambil menunggu realisasi dari solusi-solusi lain yang pernah dijanjikan kepada mereka, seperti pengerukan Citarum atau pembuatan tanggul.

"Mudah-mudahan saja kesabaran warga Cieunteung yang kami perlihatkan bisa mengetuk hati pemerintah untuk segera bertindak nyata membebaskan kami dari derita ini," kata Jaja. (A-184)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Rabu 13 Mei 2009
 

Slide


hade.jpg

Berita Lain