Sun11232014

Last update07:25:14 PM

Lintas Jabar

PABRIK BIOETANOL DARI KETELA DIBANGUN DI CIKELET

GARUT, (PR).- Pabrik bioetanol dengan bahan baku ketela pohon atau singkong (Mannihot esculenta) berskala produksi 200 liter per hari dibangun di Kp. Nangewer, Desa Cijambe, Kec. Cikelet Kab. Garut, Selasa (11/1). Dengan pengembangan bioetanol di lingkungan masyarakat Garut, diharapkan mampu berkontribusi untuk menanggu- langi krisis energi.

Menurut Bupati Garut Aceng HM Fikri, pengembangan pa-brik bioetanol diharapkan memberi manfaat besar bagi masyarakat di wilayah pesisir Garut selatan saat akselerasi pembangunan masih terbatas.

"Kalau bioetanol sukses di Kab. Garut, krisis energi nasional bisa diselesaikan lewat Cikelet," katanya.

Pabrik bioetanol tersebut didirikan atas inisiatif Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Barat bekerja sama de-ngan Koperasi Garut Selatan Sejahtera. Dana awal berasal dari bantuan Gubernur Jawa Barat, dengan menyerap tenaga kerja sampai sembilan puluh orang pada tahap uji coba produksi skala kecil mencapai 200 liter per hari dengan bahan baku 500 kilogram per tahun.

Pada tahap awal, hasil produksi dengan kadar bahan bakar 94 persen digunakan untuk keperluan rumah tangga dan rumah sakit.

Di kawasan pesisir Garut selatan, luas lahan tidur yang bisa dimanfaatkan lebih dari 21.000 hektare. "Harapan ke depan, pabrik bioetanol dapat menye-rap tenaga kerja serta meningkatkan nilai tambah pertanian, terutama menuju Garut mandiri energi," ucapnya.

Ketua ICMI Orwil Jawa Barat Uton Ruston mengatakan, krisis energi yang dialami Indonesia memunculkan pemi-kiran untuk menyelesaikan masalah energi, terutama de-ngan mencari energi alternatif yang terbarukan. Beberapa tahun lalu, dimulai dengan penanaman tanaman biji jarak di Kab. Sukabumi.

"Kegiatan itu tumpul karena pabrik tidak siap untuk meng-olah dan mendistribusikan," ucapnya.

Jika tidak dibangun pabrik produksi, menurut Uton, nasib bioetanol berbahan baku singkong bisa bernasib stagnan seperti biji jarak.

Sementara itu, Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Marise Hutapea menuturkan, pada tahun 2025 mendatang, minimum 17 persen energi dari energi baru dan terbarukan. "Bioetanol menjadi salah satu upaya diversifikasi energi," ujarnya. (A-158)

Sumber Harian Pikiran Rakyat - Rabu, 12 Januari 2011
AddThis Social Bookmark Button