Home Lintas Jabar Kesehatan VAKSINASI HEPATITIS HARUS DILAKUKAN PADA PELAJAR
VAKSINASI HEPATITIS HARUS DILAKUKAN PADA PELAJAR PDF Print E-mail
Saturday, 23 January 2010 06:20
Bandung, (PR).-
Lebih dari lima puluh persen penderita hepatitis di Jabar berasal dari kalangan usia produktif atau usia mahasiswa. Untuk itu, pencegahan lewat vaksinasi sedianya dilakukan pada usia pelajar.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Perusahaan Biofarma, Rahman Rustam, seusai "Talkshow Edukasi Vaksinasi" di SMAN 5 Bandung, Jumat (22/1).

Dengan kondisi seperti itu, kata Rahman, lembaga pendidikan merupakan segmen penting dalam menyadarkan masyarakat akan pentingnya vaksinasi.

Menurut Rahman, sosialisasi terhadap pentingnya vaksinasi akan jauh lebih efektif dilakukan pada kalangan pelajar. "Pada masyarakat umum secara langsung kami tetap lakukan. Namun, kami juga coba masuk lewat pelajar, karena satu orang dari mereka bisa menyebarkan informasinya ke puluhan orang," ungkapnya.

Untuk itu, kata Rahman, pihaknya mulai tahun ini menjadikan lembaga pendidikan sebagai segmen utama sosialisasi pencegahan penyakit berbahaya lewat vaksinasi. "Tahun ini kami coba lakukan di dua belas sekolah se-Jabar, tetapi ke depannya kami ingin masuk ke semua sekolah," tuturnya.

Deteksi dini

Pakar kesehatan masyarakat Biofarma, dr. Bambang Herman Djalinus mengatakan, dari hasil tes di beberapa sekolah dan perguruan tinggi se-Jabar, ternyata banyak mahasiswa dan pelajar yang terjangkit hepatitis. "Untuk itu, deteksi dan pencegahan dini harus dimulai pada usia pelajar dan mahasiswa. Di sini peran sekolah dan perguruan tinggi harus lebih proaktif dan gubernur juga sudah menginstruksikannya," ujarnya.

Lembaga pendidikan, kata Rahman, harus lebih terbuka dan tidak menganggap tabu tes darah guna mendeteksi kemungkinan penyebaran dan penularan penyakit berbahaya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Senada dengan Rahman, Wakasek Humas SMAN 5 Bandung, Mudjiono mengatakan, pelajar memang bisa menjadi agen perubahan. Informasi tentang masalah sosial di masyarakat akan jauh lebih efektif jika disampaikan melalui pelajar.

Di SMAN 5, kata Mudji, sosialisasi pencegahan penyakit berbahaya bukan kali pertama. "Sebelumnya pernah ada dr. Boyke dan dari kepolisian, terkait denan narkoba dan HIV-AIDS," ujarnya. (A-178)***"

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Sabtu 23 Januari 2010