Info Terakhir
- LAPORAN DARI KORSEL
- MOBIL DINAS DEWAN SEDOT Rp 8 M
- WUJUDKAN JAWA BARAT SEBAGAI GREEN PROVINCE
- UNTUK GENJOT PRESTASI OLAHRAGA, GUBERNUR KUNJUNGI KORSEL
- Dinas, Badan dan Biro Jabar
- NAMA BUPATI dan WALIKOTA BESERTA WAKILNYA
- KEPALA DAERAH HARUS BANGUN SINERGI UNTUK WUJUDKAN KESEJAHTERAAN
- HERYAWAN: DESA CIBATU TIGA DESTINASI WISATA BARU DI JAWA BARAT
- 15 PADEPOKAN SENI DIRESMIKAN GUBERNUR JAWA BARAT
- DARMIN, "PEREKONOMIAN NASIONAL MULAI MEMBAIK"
Pengunjung
We have 102 guests onlineJajak Pendapat
| PETANI JARAK DIBUAT GELISAH |
|
|
|
| Monday, 06 July 2009 22:55 |
|
Pengembangan Energi Alternatif
Nafsu besar, tenaga kurang. Begitulah kiranya julukan yang tepat untuk program penanaman jarak sebagai bahan baku untuk energi alternatif, yang diberlakukan serentak sejak 2006 di berbagai pelosok daerah di Jawa Barat. Ingin hati mencapai keinginan membuat bahan bakar alternatif berupa biodiesel atau biofuel dengan bahan baku biji jarak. Namun yang terjadi justru melahirkan kekecewaan. Masyarakat sekitar hutan di areal lahan milik Perhutani atau di lahan lainnya di Jawa Barat, bahkan tidak sedikit yang dibuat marah. Kemarahan itu antaranya diwujudkan dengan menebangi pohon-pohon jarak yang sudah ditanam dan siap panen. Hal itu terjadi pada masyarakat sekitar hutan di perbatasan Kabupaten Majalengka dan Indramayu. Di perbatasan tersebut, pada areal lahan Perhutani, sedikitnya dibuka seribu hektare lahan untuk tanaman jarak. Penanaman jarak massal itu dilakukan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) melalui Pabrik Gula (PG) Jatitujuh, dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan yang selama ini bertindak sebagai penggarap. Penanaman jarak diujicobakan di tengah areal tebu. Dari sisi penanaman, terbilang berhasil. Pohon jarak yang ditanam, tumbuh sesuai rencana, bahkan rata-rata berbuah lebat. Masalah serius kemudian muncul belakangan. Buah jarak yang menumpuk itu tidak jelas pasarnya. PT RNI yang menjanjikan akan membeli jarak hasil petani untuk diolah menjadi biofuel, ternyata tidak bisa melakukan pembelian. Ini berkaitan dengan instalasi kilang pengolah jarak menjadi biofuel tidak ada. "Kini lahan yang dulu ditanami jarak, sebagian besar terbengkalai. Ada pula yang akhirnya dibabat masyarakat untuk melampiaskan kekesalan karena hasil produksinya tidak jelas pasarnya," tutur Ir. Oman Suherman, M.P. Administratur Perhutani Indramayu. Di lahan milik Perhutani Indramayu, selain di perbatasan Majalengka-Indramayu, ada juga lahan yang dibuka untuk tanaman jarak pagar. PT Rekayasa Industri (Rekin), anak perusahaan Pertamina, menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk membuka tiga ratus hektare lahan Perhutani di Desa Situraja, Loyang dan Jatimunggul, Kec. Cikedung. Projek tersebut hampir sama dengan yang dikembangkan PT RNI di areal hutan Cikamurang yang merupakan perbatasan Indramayu-Majalengka. Dirintis tahun 2007, dan memasuki pertengahan tahun 2009 ini, tanaman jarak tersebut telah tinggi dan mulai keluar buahnya. Belajar dari kegagalan program penanaman jarak yang sama, kini masyarakat sekitar hutan yang bertindak sebagai penanam dihantui rasa waswas. Rata-rata dari mereka merasa sudah tidak lagi punya harapan, sebab nasib tanaman jarak yang dua tahun lebih ini ditanam ternyata tidak akan membawa keuntungan apa-apa. "Petani dirundung rasa waswas. Mereka kebingungan kalau panen buah jaraknya mau dijual ke mana. Meski dalam program itu Perhutani sekadar memberikan lahan, namun kini menjadi tempat mengadu masyarakat penanam jarak," kata Oman. Sebelumnya, baik PT Rekin maupun IPB juga menjanjikan buah jarak itu akan ditampung. Nantinya akan diperas untuk dijadikan bahan baku, dan setelah melalui proses penyulingan, bisa menghasilkan biofuel. Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Indramayu, Yan Mulyantoro mengaku pihaknya merasa kasihan dengan nasib masyarakat penanam jarak. Karena itu, dia akan mendatangi Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, untuk meminta kejelasan tindak lanjut dari program penanaman jarak yang telah menelan dana mencapai Rp 360 juta tersebut. "Dulu saat program penanaman digulirkan, Dirjen Perkebunan juga ikut. Pemkab sempat memfasilitasi. Karena itu, melihat perkembangannya, saya terpaksa datang ke Dirjen Perkebunan untuk minta kejelasan," tutur Yan. Yan memperkirakan nasib lahan jarak di Cikedung akan sama dengan lahan jarak di berbagai tempat di Jabar. Karena itu, dia merasa terpanggil untuk langsung ke Deptan menuntut pertanggungjawaban. "Bagaimanapun, PT Rekin dan IPB berani membuka lahan karena ada rekomendasi dari Deptan. Jangan sampai masyarakat dikecewakan. Saya akan datang untuk meminta agar departemen memberi solusi alternatif. Intinya jangan sampai jarak yang sudah diproduksi akhirnya dibuang, atau malah tanamannya dibabat," katanya. Berdasarkan pemantauan "PR" di daerah Kab. Tasikmalaya, petani yang menanam jarak kesulitan menjual hasil tanamannya. Bahkan, di Desa Cibatuireng, Kec. Karangnunggal, Kab. Tasikmalaya, lahan tanaman jarak dibiarkan mubazir. "Kami kesulitan untuk menjualnya," kata Kepala Desa Cibatuireng Unang Hidayat. Lahan desa yang ditanami jarak menapai dua hektare. Selain itu, para petani di daerah itu juga sejak tahun 2006 ikut ramai-ramai tanam jarak. Sampai sekarang belum bisa menjual, karena tidak ada yang beli. Kalaupun ada yang menjual, yaitu Maman, petani setempat bukan untuk pengembangan energi alternatif, tetapi untuk pembibitan. "Kelompok tani yang kembangkan jarak, sudah ancang-ancang mau membabat tanamannya," kata Dadang, aparat desa setempat. Di Kelompok Tani Akur Saluyu sudah ada mesin penggilingan/ pengolahan jarak maupun kompornya. Tetapi, tidak bisa berkembang, karena tidak ada yang beli hasilnya. Begitu juga di Desa Sidangsari, Kec. Bojongasih, Kab. Tasikmalaya, puluhan ha tanaman jarak, dibiarkan terbengkalai. Menurut Kepala Desa Sidangsari Ny. Imas M mengatakan, ada lahan desa seluas empat hektare dikembangkan untuk tanaman jarak. Sekarang terbengkalai, karena buahnya tidak ada yang mau beli. Begitu juga lahan milik petani di daerahnya, maupun di Girijaya yang masih tetangga dengan Sidangasih, petani membiarkan tanaman jarak tak terurus. "Dulu sempat ada Pa Cepi yang menampung biji jarak, sehingga petani antusias menjual. Tetapi, sudah setahun tidak ada yang beli, sehingga tanaman itu tidak terurus. Harapan kita, mohon ada yang membantu menampungnya," katanya. Petani lainnya, Endang berharap pemerintah serius mengembangkan energi alternatif. Jangan sampai rakyat kapok, ketika diajak kembali untuk kembangkan jarak atau tanaman lainnya, karena sekarang tidak ada keseriusan. "Bagaimanapun energi alternatif sangat penting, karena stok minyak BBM dunia terbatas, sehingga sewaktu-waktu harga akan melambung tinggi. Kita akan aman, kalau energi alternatif telah dikembangkan, seperti di Argentina," katanya. (Agung Nugroho/Undang Sudrajat/"PR")***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Senin 06 Juni 2009 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



