Home Lintas Jabar Ekonomi Bisnis INFLASI DIPICU HARGA BERAS
INFLASI DIPICU HARGA BERAS PDF Print E-mail
Tuesday, 02 February 2010 17:56
Bandung(SI) – Gejolak harga beras yang terjadi selama Januari lalu memicu kenaikan laju inflasi di Jawa Barat menjadi 0,77%. Badan Usaha Logistik (Bulog) siap menggelar operasi pasar di berbagai daerah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Lukman Ismail mengatakan,andil inflasi terbesar pada Januari lalu disumbangkan oleh kelompok bahan makanan sebesar 1,59%. ”Inflasi bulan lalu jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar minum 0,28%. Gejolak harga beras,sedikit banyaknya memengaruhi tingginya inflasi Januari,” kata Lukman dalam penyampaian berita resmi statistik di Kantor BPS Jabar, kemarin.

Kelompok ini,lanjut dia,mengalami kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 126,06 pada Desember 2009 menjadi 128,07. Subkelompok padi dan umbi memberikan share inflasi tertinggi bagi kelompok ini sebesar 9,57%. Dia menjelaskan, tingginya laju inflasi ini kemungkinan besar akan terus terjadi pada tingkat inflasi Februari 2010. Jika tidak ada langkah antisipasi konkret yang dilakukan, harga beras akan kembali bergejolak dan memengaruhi laju inflasi.

”Saya kira dengan kondisi yang terjadi saat ini, operasi pasar harusnya sudah mulai dilakukan. Harga beras tertinggi, kami catat terjadi di Kota Depok dengan peningkatan mencapai 17,64% untuk jenis IR64 pada bulan lalu,”sebut Lukman. Dia juga menekankan bahwa penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) mampu menahan laju kenaikan harga beras.

Sementara itu,kenaikan harga beras di sebagian besar wilayah Jabar mencapai 8%-13%. Saat ini harga beras rata-rata di Jabar Rp6.911,26 per kg,sedangkan kondisi rata-rata pada Desember 2009 Rp 6.032,14 per kg. Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Jawa Barat Abdul Karim mengatakan, pihaknya sudah melakukan operasi stabilitas harga beras (OSHB) di Kabupaten Sukabumi sebanyak 10 ton.

Berdasarkan peraturan terbaru Menteri Perdagangan RI,OSHB bisa dilakukan tanpa harus menunggu kenaikan 15% dari kondisi bulan sebelumnya. Dia menerangkan, Bulog akan terus melakukan pemantauan harga beras di pasaran. Bulog berwenang menggelar OSHB jika kenaikan harga di tingkat pengecer sudah melampaui Rp300 per kg.

Subdivre di seluruh wilayah Jabar diminta terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memantau kenaikan harga komoditas pokok ini. Ekonom dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung Acuviarta Kartabi memandang, pemerintah harus sesegera mungkin menuntaskan lonjakan harga beras menggelar OSHB di sebagian besar wilayah di Jabar. ”Harusnya pemerintah sigap mencegah laju inflasi ini dengan menggelar OSHB pada pertengahan bulan lalu,”tegasnya. (irvan christianto)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Selasa 02 Februari 2010