Home Lintas Jabar Ekonomi Bisnis BISNIS CABAI RAWIT TERKENDALA PASOKAN
BISNIS CABAI RAWIT TERKENDALA PASOKAN PDF Print E-mail
Friday, 27 February 2009 15:10

Bandung, (PR).-
Pembudidayaan komoditas cabai rawit (cengek) dalam skala bisnis tengah dijajaki sejumlah petani desa hutan di wilayah Kec. Pasir Jambu, Kab. Bandung. Rencana itu sebagai upaya menangkap peluang bisnis memanfaatkan tidak stabilnya pasokan cengek selama beberapa tahun terakhir.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Cibodas, Kec. Pasir Jambu, Ayi Rohmat, di Bandung, Kamis (26/2), menyebutkan, pembudidayaan cengek secara serius tengah dilakukan secara demplot oleh kelompok petani setempat. Jika berhasil, keinginan pembudidayaan cengek dapat dilakukan secara massal di kawasan hutan negara Perum Perhutani sebagai tanaman sela.

"Kami melihat peluang pasar yang sangat potensial dari pengusahaan tanaman cengek. Apalagi, kebutuhan kalangan rumah tangga dan pengusaha makanan tetap tinggi. Pasokan yang tidak stabil membuat harganya pun sering fluktuatif dan tidak jarang melonjak luar biasa," kata Ayi.

Disebutkan Ayi, tanaman cengek yang tengah dicoba dibudidayakan dalam skala bisnis ini, terdiri atas jenis-jenis yang laku di pasaran dan peminatnya tinggi. Segmen yang diincar adalah pasaran umum dan industri pengolah makanan, tergantung varietas yang diperlukan.

Dikatakan pula, dijajakinya pengusahaan cengek dalam skala bisnis, sekaligus sebagai upaya membuka lapangan kerja bagi generasi muda. Mereka dicoba agar tertarik dan diarahkan usaha pertanian untuk menekan jumlah pengangguran generasi muda di Kec. Pasir Jambu yang secara kuantitas cukup tinggi.

Sementara itu, di pasar tradisional, harga komoditas cengek, saat pasokan sedang cukup banyak, harganya rata-rata Rp 13.000,00-Rp 15.000,00/kg, namun saat pasokan minim dan kebutuhan sangat banyak, beberapa kali mencapai harga Rp 35.000,00/kg.

Pebisnis agro sekaligus Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Ciamis Asep Halim mengatakan, beberapa tahun terakhir, pembudidayaan cengek memang cenderung tidak menarik minat petani lagi. Saat ini pengusahaan lebih diutamakan cabai, baik cabai merah TW, cabai tanjung, maupun cabai hijau. (A-81)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 27 Februari 2009
 

Slide


teaplantation.jpg

Berita Lain