Home Lintas Jabar Ekonomi Bisnis UNTUNG ADA IKIN DAN ASUM
UNTUNG ADA IKIN DAN ASUM PDF Print E-mail
Saturday, 28 February 2009 07:46
Apa jadinya bila tanah penyangga bantalan rel kereta api lintas selatan yang longsor di Cikadongdong, Desa Mekarmulya, Kec. Malangbong, Kab. Garut, Selasa (24/2) petang lalu tidak segera diketahui warga setempat? Banyak kemungkinan yang akan terjadi, termasuk kemungkinan paling buruk, yaitu anjloknya rangkaian kereta api yang melintas di jalur padat tersebut.

Oleh karena itu, wajar bila PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi 2 Bandung berniat memberikan penghargaan kepada Ikin Sodikin (45) dan kakak iparnya, Asum (50). Kedua warga Kampung Cikadongdong itu dinilai berjasa, karena segera melaporkan peristiwa longsor itu ke petugas di stasiun KA terdekat.

"Kalau saja Pak Ikin dan Pak Asum tidak segera melapor, bisa jadi kereta api tetap melintas di jalur itu, dan terguling," kata Kepala Daerah Operasi 2 Bandung, Rustam Harahap, Kamis (26/2), ketika ditemui di lokasi perbaikan jalur rel di Cikadongdong.

Menurut Rustam, sesuai dengan jadwal perjalanan kereta api, setelah rel di KM 233+9/6 di Cikadongdong terseret longsor, Selasa (24/2) sekitar pukul 16.30 WIB, rel tersebut akan dilalui kereta barang dan KA Argo Wilis dari arah Tasikmalaya. Namun, berkat laporan Ikin dan Asum, perjalanan kereta api itu bisa segera dihentikan.

"Makanya, atas jasa kedua orang tersebut, kami akan memberikan penghargaan dan uang jasa kepada Ikin dan Asum. Rencananya, penghargaan tersebut diberikan pada saat upacara tanggal 17 Maret 2009, di Bandung. Jelas, jasa mereka sangat besar," kata Rustam.

Penilaian serupa dikemukakan Direktur Utama PT KA Ignasius Jonan. Ia pun menyatakan rasa terima kasihnya kepada kedua warga Cikadongdong tersebut, karena laporan mereka bisa mencegah terjadinya bencana yang lebih besar.

Membeli beras

Sementara itu, Ikin Sodikin, ketika ditemui "PR" menuturkan, Selasa (24/2) petang itu, dia bersama kakak iparnya Asum kebetulan pergi ke Cipeundeuy, sekitar 2 km dari rumah mereka. Ikin yang sehari-hari berjualan makanan keliling, membeli beras dari warung langganannya di Cipeundeuy.

Setelah membeli beras, meski hujan deras, mereka pulang menyusuri rel KA menuju Cikadongdong. Sekitar pukul 16.00 WIB, mereka melihat KA Lodaya melintas dari arah Tasikmalaya menuju Bandung. "Berpayung daun pisang, kami berjalan kaki menyusuri rel kereta api menuju rumah di Cikadongdong. Saat itu, kami ngobrol santai sambil berjalan," kata Ikin, ayah enam anak itu.

Namun, sekitar 1 km dari Stasiun KA Cipeundeuy, tepatnya di KM 233+9/6, mereka melihat tanah yang dilalui rel longsor, sehingga rel dan bantalannya menggantung, tanpa penahan. Melihat kondisi rel seperti itu, mereka sepakat untuk melapor ke petugas di Stasiun KA Cipeundeuy.

Asum lalu berlari menuju Stasiun KA Cipeundeuy, sedangkan Ikin menunggu di lokasi kejadian, karena khawatir ada kereta yang melintas dari arah barat atau Bandung.

Sekitar 15 menit kemudian, Asum tiba kembali di lokasi longsor bersama petugas KA dan warga sekitar. Petugas dari Stasiun KA Cipeundeuy itu segera melaporkan bencana tersebut ke Daops Bandung dan stasiun-stasiun KA terdekat. Semua kereta api yang akan melintas di Cipeundeuy, akhirnya dihentikan di stasiun terdekat. Ikin dan Asum pun senang karena bisa mencegah terjadinya bencana yang lebih besar.

Ketika diberi tahu soal rencana PT KA memberikan penghargaan kepada mereka, Ikin terlihat senang. "Terima kasih," katanya. Dia juga merasa senang karena bisa ikut bekerja melakukan perbaikan di lokasi bencana. (Undang/"PR")***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Sabtu 28 Februari 2009
 

Slide


gedungsate.jpg