Info Terakhir
- LAPORAN DARI KORSEL
- MOBIL DINAS DEWAN SEDOT Rp 8 M
- WUJUDKAN JAWA BARAT SEBAGAI GREEN PROVINCE
- UNTUK GENJOT PRESTASI OLAHRAGA, GUBERNUR KUNJUNGI KORSEL
- Dinas, Badan dan Biro Jabar
- NAMA BUPATI dan WALIKOTA BESERTA WAKILNYA
- KEPALA DAERAH HARUS BANGUN SINERGI UNTUK WUJUDKAN KESEJAHTERAAN
- HERYAWAN: DESA CIBATU TIGA DESTINASI WISATA BARU DI JAWA BARAT
- 15 PADEPOKAN SENI DIRESMIKAN GUBERNUR JAWA BARAT
- DARMIN, "PEREKONOMIAN NASIONAL MULAI MEMBAIK"
Pengunjung
We have 119 guests onlineJajak Pendapat
| PENUH DAYA PIKAT TETAPI KURANG TERAWAT |
|
|
|
| Tuesday, 16 February 2010 15:07 |
|
Jabar Selatan
Perjalanan dari Bandung menuju Pantai Rancabuaya lewat Pangalengan cukup membahayakan bagi kendaraan roda empat ataupun roda dua. Pada musim hujan seperti sekarang ini, selain licin dan sempit, jalur itu rawan longsor dan kecelakaan. Dari Pangalengan menuju Cisewu di jalur ini terdapat 21 titik longsor. Setidaknya, itulah yang ditemui "PR" pada Minggu (7/2) sore saat hujan deras. Malah pada saat itu, di jalur tersebut ada sejumlah petugas PLN yang tengah memperbaiki beberapa tiang listrik yang roboh ke badan jalan akibat longsor. Sementara dari Cisewu-Rancabuaya, setidaknya terdapat sepuluh titik rawan longsor. Melihat kondisi jalan di jalur tersebut, bagaimana mungkin ketika memasuki pasar bebas pariwisata, Pemerintah Jawa Barat bisa mengeruk devisa besar dari daerah wisata yang ada di kawasan pantai selatan? Apa sebab? Karena yang dinamakan pariwisata, seperti kata peneliti Prancis, Michel Picard, pertama-tama adalah pengembangan dari ekonomi moneter, memasarkan pemandangan dan hasil budaya manusia, dan mengubah kawasan masyarakat dunia menjadi produk pariwisata. Di jalur ini, saat memasuki Pangalengan, pelancong sudah disuguhi berbagai pemandangan indah, berupa gunung-gunung membiru hingga sejuknya udara perkebunan teh warisan Belanda. Di kawasan ini ada Situ Cileunca yang ramai dikunjungi orang. Kembali pada pokok pikiran Michel Picard dalam bukunya Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata (KPG, 2006), pariwisata adalah memasarkan pemandangan dan hasil budaya manusia. Maka, apa yang bisa dipasarkan pemerintah lewat Rancabuaya jika hanya bertumpu pada pemandangan alam tanpa disertai keseriusan menangani lingkungan yang kotor, kumuh, dan tidak terawat? Di daerah ini pantainya tidak bisa direnangi karena arus ombak yang besar. Nelayan juga tengah paceklik pada masa sekarang. Sampai-sampai ada wisatawan yang ingin makan ikan bakar, tetapi tidak tersedia di rumah makan di kawasan tersebut. "Nelayan tidak bisa berlayar jauh karena kapal dan peralatan menangkap ikannya sangat sederhana," ujar Uwa Gondrong, seorang tokoh nelayan setempat. Melihat kondisi tadi, produk budaya macam apa yang bisa dijual di Rancabuaya sehingga orang ingin selalu datang ke tempat itu? Tampaknya perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana cara mengembangkan khazanah budaya lokal seperti seni pertunjukan khas Garut yang bisa menjadi nilai tambah bagi kawasan wisata itu. Hal yang sama juga harus dipikirkan Pemerintah Cianjur Selatan yang memiliki kawasan wisata Pantai Cidaun. Di Cidaun, penataan lingkungan hidup tampak kurang diperhatikan. Muncul kesan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak siap menghadapi pasar bebas di dunia pariwisata. Padahal, potensi pantai selatan cukup besar. ** Menyusuri pantai selatan dari Cidaun (Cianjur) menuju Sayang Heulang (Pameungpeuk, Garut) sebenarnya kini terbentang jalan mulus yang dibangun semasa Gubernur H.R. Nuriana. Di sepanjang jalur ini, selain mendapat keindahan pantai dengan ombak laut yang menawan, pelancong juga bisa menikmati areal pertanian palawija, seperti ladang jagung, kacang dan sejenisnya. Mungkin karena menyimpan potensi wisata yang besar, petak-petak tanah di sepanjang Pantai Cidaun-Sayang Heulang tidak lagi dimiliki penduduk setempat. Kepemilikan sudah beralih ke sejumlah orang kaya di Bandung dan Jakarta. Di kawasan Pantai Karang Sari, misalnya, harganya sudah mencapai Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per bata. Lahan-lahan yang jadi rebutan orang kaya terutama yang langsung berhadapan dengan pantai. Semula petak-petak tanah tadi merupakan ladang palawija tadah hujan yang ditanami hanya sebatas saat musim hujan. "Tanahnya tadah hujan. Kalau kemarau kering kerontang. Tak aneh bila banyak yang memilih menjual tanah dan merantau ke luar daerah, seperti pergi Garut, Bandung, atau Jakarta," ucap penduduk di Puncak Guha atau lebih dikenal sebagai Guha Lalay. Di Puncak Guha Lalay, panorama pantainya sangat indah. Untuk sampai ke tempat ini, mula-mula memasuki ladang jagung. Bila tempat ini dikelola dengan baik, ada tempat penginapan dan fasilitas lain yang memungkinkan pelancong betah, akan mendatangkan devisa lumayan. "Bagi saya, keindahan alam di pantai selatan tidak kalah jauh dengan keindahan alam di Pataya, Bangkok, atau Pangandaran. Sekarang yang diperlukan keseriusan pemerintah untuk memulainya," tutur Juniarso Ridwan, penyair yang menyempatkan waktu melancong ke selatan. Tempat lain yang tak kalah indah adalah Pantai Karang Sari. Di Karang Sari, warna pasir pantai tidak putih, tetapi hitam pekat. Bila kena cahaya matahari, di hamparan pasir hitam itu seperti ada taburan kaca yang halus dan berkilauan. Warna pasir di pantai ini sangat lain dengan pasir Pantai Rancabuaya, Santolo, ataupun Sayang Heulang yang berwarna putih. Di sini, pantainya masih perawan, tak pernah disinggahi perahu dan jarang ada penghuninya. Daya pikat Pantai Karang Sari tidak hanya terletak pada keindahan alam dan muara sungai yang jernih, serta ikan-ikan kecil yang hilir mudik, tetapi juga pada arus ombak dengan deburnya yang keras dan kuat. Bila senja tiba, segalanya menjadi penuh pesona. Kicauan burung menyelip di antara deburan ombak dan semilir angin pantai menambah rasa betah para pelancong. (Soni Farid Maulana/"PR")*** Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Selasa 16 Februari 2010 |
Popular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008



