Home Lintas Jabar Budaya Pariwisata BUNGA BANGKAI BENGKULU DI TAHURA DJUANDA
BUNGA BANGKAI BENGKULU DI TAHURA DJUANDA PDF Print E-mail
Wednesday, 23 December 2009 11:39
Kepala Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Noor Rochman (kanan) berbincang dengan salah seorang petugas di depan bunga bangkai jenis "Amorphophallus titanum" yang tumbuh, Senin (21/12). Kehadirannya diharapkan menjadi maskot Tahura Djuanda selain elang jawa yang juga terlihat beberapa hari ini.* Retno HY/"PR"

Sejumlah tanaman langka, antara lain mahoni uganda (Khaya anthotheca) dari Afrika dan pinus meksiko (Pinus montecumae), cengal pasir (Hopea odorata) dari Burma, cedar hodura (Cadrela mexicum) dari Amerika Tengah, telah diakui sebagai maskot Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura Djuanda) Bandung. Belakangan, elang jawa (Spizaetus bartelsi) juga terlihat mengintari kawasan hutan yang masuk wilayah Kota Bandung, Kab. Bandung, dan Bandung Barat ini. Diharapkan, elang jawa tersebut menjadi penghuni tetap selain fauna lainnya.

Saat perhatian sedang ditujukan pada elang jawa dan penambahan koleksi tumbuhan langka, Tahura Djuanda menyambut kedatangan tanaman langka Amorphophallus titanum atau lebih dikenal sebagai bunga bangkai, bunga rampai, acung, ataupun suweg. "Bunga ini bibitnya kami dapat dari Bengkulu sejak tiga tahun lalu. Tadinya kami beranggapan tanaman tersebut tidak cocok tumbuh di sini, ternyata tumbuh juga dan kami harap ini menjadi maskot Tahura Djuanda," ujar Kepala Balai Tahura Djuanda, Noor Rochman, saat ditemui di Tahura Djuanda, Selasa (22/12).

Bunga bangkai setinggi 1,2 meter tersebut, baru diketahui oleh staf Tahura sehari sebelumnya di Blok Ciburial, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung, tidak jauh dari patung Djuanda. Petugas tersebut menemukan secara tidak sengaja, saat membersihkan lokasi karena akan dipergunakan untuk acara Hari Ibu.

**

DIPASTIKAN akan menjadi tontonan pengunjung Tahura Djuanda karena lokasi tumbuhnya menjadi pusat peringatan Hari Ibu yang diikuti ratusan peserta, akhirnya Noor berinisiatif untuk memagari tumbuhan itu. "Saat ini pagar seadanya dulu, yang penting tidak terganggu. Nanti kita tata lebih baik, agar lebih menarik," ujarnya.

Bahkan dua atau tiga hari ke depan, tumbuhan itu akan diberi pagar permanen. Hal itu disebabkan, mulai pekan ini dan puncaknya awal Tahun Baru 2010, merupakan masa libur panjang yang bertepatan dengan libur sekolah.

Berdasarkan perkiraan pengelola Tahura Djuanda, bunga bangkai tersebut akan mekar pada dua atau tiga hari ke depan dengan tinggi lebih dari 1,5 meter serta diameter daunnya mencapai 1 meter. Sejumlah staf Tahura Djuanda sudah diperintahkan untuk memperhatikan setiap perkembangan tumbuhan itu.

Menurut Noor, bunga bangkai tersebut merupakan satu dari tiga bibit bunga bangkai yang didapat Tahura Djuanda dari Bengkulu. "Saya berharap bibit bunga bangkai yang dua lagi juga dapat tumbuh dan mudah-mudahan menjadi maskot Tahura Djuanda," tuturnya lagi.

Hingga kini, Tahura Djuanda dengan luas 527,03 hektare, selain menjadi kawasan konservasi habitat flora dan fauna khas Cekungan Bandung, juga sebagai penyangga ataupun benteng terakhir kawasan hijau Bandung Raya. Sebab, sejak ditetapkan sebagai Tahura berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 3 Tahun 1985 dan peresmiannya dilakukan pada 14 Januari 1985 bertepatan dengan kelahiran Ir. H. Djuanda, ribuan koleksi tanaman langka dari empat puluh famili dan 112 spesies terus ditambah. Saat ini, upaya penyelamatan lebih ditujukan pada koleksi tanaman langka khas lokal. "Ini agar anak cucu kita mengetahui, bahwa dulu di daerahnya pernah tumbuh berbagai tanaman tersebut," ucapnya. (Retno HY/"PR")***


Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Rabu, 23 Desember 2009