Home Lintas Dunia dan Umum Lintas Dunia PEPERANGAN DI AFGANISTAN, SETELAH BERJALAN DELAPAN TAHUN
PEPERANGAN DI AFGANISTAN, SETELAH BERJALAN DELAPAN TAHUN PDF Print E-mail
Sunday, 26 July 2009 19:44
Satu bulan setelah serangan pertama dimulai pada 7 Oktober 2001, pemerintah dan publik Amerika Serikat (AS) optimistis bahwa perang akan cepat usai. Walau gagal mengeksekusi Osama bin Laden atau menangkap Mullah Mohammad Omar, paling tidak AS hanya perlu waktu dua minggu untuk menguasai Kabul. Bulan berikutnya, Kandahar dan kota-kota utama di Afganistan dengan segera jatuh ke tangan AS. Tak ada perlawanan berarti, sehingga mereka berpendapat Taliban sudah benar-benar dapat dihancurkan. Beberapa petinggi Taliban memang tertangkap, sebagian terbunuh dalam pengeboman. Operasi militer pun kemudian diubah menjadi perburuan terhadap Osama bin Laden, sisa-sisa Al-Qaeda, dan Taliban.

Tahun-tahun berikutnya publik dijejali berita-berita keberhasilan operasi militer dan penangkapan sisa-sisa Taliban, pembagunan infrastruktur, dan Afganistan yang mulai aman.

Benarkah demikian? Sumber-sumber alternatif ternyata memberitakan yang sebaliknya. Taliban belum lagi tamat. Sebaliknya, publik mulai kritis, mengapa dalam setiap pertemuan tahunan NATO selalu dibahas soal penambahan dana dan pasukan ke Afganistan. Bukankah seharusnya bila Afganistan semakin aman, pasukan dan dana jadi berkurang?

Apa yang sesungguhnya terjadi? Pembaca yang rajin mencari sumber alternatif akan menemukan berita menarik. Sehari sebelum Kabul jatuh, pemimpin tertinggi Taliban memerintahkan pasukannya untuk mundur ke pedalaman untuk mulai mempersiapkan diri dalam perang yang sangat panjang. Beberapa ratus pasukan diminta bertahan yang kemudian kalah, ditawan dan dibawa ke penjara di Mazar-i-Sharif. Dalam perjalanan ke penjara, puluhan orang mati lemas dalam truk kontainer karena kekurangan oksigen. Peristiwa ini selanjutnya memicu terjadinya kerusuhan dalam penjara tersebut.

Setahun setelah mundur dari Kabul, Taliban sudah mengorganisasi diri kembali. Tahun 2003 adalah tahun kembalinya perlawanan, di mana sebuah faksi besar yang dulu bertikai dengan Taliban, Hezbi Islami pimpinan Gulbudin Hekmatyar mengikrarkan diri bersama Taliban memerangi tentara pendudukan. Kelompok ini banyak beroperasi di Provinsi Herat dan Farah. Bantuan lain datang dari kelompok Jalaludin Haqqani yang mayoritas berada di Provinsi Kunar, Nagahar, Nuristan, dan sekitar Waziristan di wilayah Pakistan.

Baik Gulbudin Hekmatyar maupun Jalaluddin Haqqani adalah "jenderal besar" yang sangat disegani pada masa pendudukan Uni Soviet. Keduanya adalah legenda hidup bagi para mujahidin. Mereka juga punya banyak pengikut. Pada masa Taliban berkuasa, Haqqani yang sebelumnya menentang Taliban akhirnya kompromi dan diberi kedudukan sebagai menteri pertahanan. Sementara Gulbudin Hekmatyar bersama beberapa petinggi Hezbi Islami memilih hijrah ke Iran.

Menurut catatan resmi, hingga awal Januari 2009 ada sekitar 55.100 pasukan koalisi di Afganistan. Mereka terdiri dari pasukan dari 26 negara anggota NATO dan 10 negara bukan NATO. Angka itu naik hampir dua kali lipat dari tiga tahun sebelumnya. Bahkan Juli ini keluar lampu hijau kalau AS akan menambahkan 22.00 personel lagi yang dialihtugaskan dari Irak. Hingga akhir tahun ini, jumlah pasukan AS di Afganistan lebih dari 50.000 personel.

Kontingen Kanada dan Inggris ditempatkan di daerah selatan yang membara. Inggris dengan 8.300 tentara di Provinsi Helmand dan Kanada dengan 2.500 lebih pasukan di Kandahar. Sementara AS menempatkan pasukannya di-13 provinsi lainnya seperti Zabul, Paktia, Paktika, Khos, dan Kunar. Ketiga negara ini merupakan penyumbang korban terbesar, sekitar 75% dari total 1.200 korban tewas yang diklaim pihak koalisi. Sementara korban luka di atas 10.000 orang.

Jerman dengan 3.220 pasukan semula menolak ditempatkan di luar Kabul. Jerman akhirnya mengalah dan memilih daerah utara yang relatif aman, yaitu di Kunduz dan Badaksan. Belanda menempatkan 1.770 pasukan di Provinsi Urugzan dan Italia dengan 2.350 orang bermarkas di Herat. Dua negara lainnya yang mengirim lebih dari 1.000 pasukan adalah Australia (1.080) dan Polandia (1.130).

Swiss, Serbia, dan Korea Selatan (Korsel) sudah menarik pasukannya. Korsel menarik 210 pasukannya setelah 21 orang misionarisnya diculik pada Juli 2007. Juni 2008, Korsel kembali lagi dengan sedikit pasukan untuk mengoperasikan rumah sakit kecil di dekat Bagram.

Dua negara telah menyatakan akan menarik pasukannya setelah mandat usai, yaitu Belanda dan Kanada. Mundurnya dua negara ini tidak akan berpengaruh banyak pada strategi perang, karena pasti akan diganti pasukan lain. Meski demikian akan memberi dampak negatif pada perpolitikan dalam negeri negara lain yang warganya akan mendesak pemerintah agar tentara mereka segera angkat kaki dari Afganistan. Tahun 2007 Kanada sempat mengancam akan menarik pasukannya bila NATO tidak menambah tentaranya.

Kini, memasuki tahun kedelapan pendudukan di Afganistan, publik dunia semakin sadar bahwa perang semakin jauh dari usai. Tidak ada satu pun komandan militer atau juru bicara militer dari pasukan koalisi yang berani mengatakan kapan operasi militer akan berakhir, tidak juga para petinggi NATO.

Para analis militer memperkirakan, perang masih akan berlangsung beberapa dekade lagi. Baik pihak militer maupun analis sepakat bahwa Taliban makin solid, lebih terorganisir, dan lebih berbahaya dari sebelumnya.

Para petinggi NATO, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, dan terutama Presiden AS Barack Obama sepakat bahwa perang harus dilanjutkan sampai tuntas.

Juli 2009 ditandai dengan digelarnya operasi militer paling besar selama ini. Targetnya adalah membersihkan Provinsi Helmand dari cengkraman Taliban. Berbeda dengan sebelumnya, operasi militer kali ini diberi sandi lokal "Khanjar" yang artinya Pedang.

Tahun ini serangan Taliban meningkat 45% dari sebelumnya. Padahal pasukan multinasional (International Security Assistance Force/ISAF) sudah menggelar lebih dari 80 kali operasi militer. Hingga pertengahan tahun ini saja ISAF sudah menggelar empat kali operasi militer, yaitu operasi Dinner Out, Battle for Kunduz, Panther Claws, dan Khanjar.

Akankah operasi Khanjar kali ini meraup sukses dalam arti yang sebenarnya? Yang jelas, baru-baru ini kita dikejutkan dengan video seorang tentara AS yang diculik Taliban. AS mengklaim keberhasilan berbagai serangan mereka. Sebaliknya, sumber-sumber tak resmi memperkirakan, pasukan AS berhasil dipukul mundur di beberapa wilayah pegunungan yang terisolasi.

Kalau begitu, tak salah apa diucapkan tentara yang ada dalam tayangan video tadi ketika ditanya soal perang. "Its extremely hard," katanya. (I.B. Mulyanto, pengamat peperangan di Afganistan)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Minggu 26 Juli 2009