Home Kolom Kolom PEMILU 2009 DAN PREDIKSI RULING ELITE INDONESIA
PEMILU 2009 DAN PREDIKSI RULING ELITE INDONESIA PDF Print E-mail
Wednesday, 14 January 2009 08:28

Oleh: Dwy Bowo F. 

 

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tengah beranjak memasuki usia 63 tahun.  Bukan waktu yang singkat untuk membangun sebuah tatanan politik dalam menghasilkan sistem kenegaraan  yang menjamin terciptanya kesejahteraan bagi seluruh warga bangsa.  Namun kenyataan menunjukan bahwa persoalan kemiskinan hingga hari ini belum teratasi, pengangguran tak kunjung menguap dari bumi pertiwi (krisis finansial global semakin memperumit persoalan pengangguran), belum lagi korupsi yang terus merajarela.  Padahal rakyat, sebagai pemilik negeri zamrud katulistiwa yang penuh akan kekayaan alam, menginginkan penghidupan yang lebih baik. Sangat disayangkan apabila pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan hanya sebatas ritual jual beli suara.

Bangsa Indonesia memerlukan pemimpin yang dapat menjadi sumber inspirasi dan menggerakkan mobilisasi sosial. Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas jelas, bukan sekedar pemimpin kuat dan berwibawa atau populer semata.  Kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan terobosan, mengambil resiko-resiko politik demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis.  Para founding fathers telah menyelesaikan tugasnya mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.  Kini saatnya kita sebagai generasi selanjutnya mewujudkan harapan mereka dalam koridor bangsa yang bersatu dan sejahtera.

Desentralisasi sistem pemilihan umum meniscayakan lahirnya pemimpin baru dari tingkatan daerah yang rendah seperti kecamatan hingga kelurahan atau desa.  Satu hal yang patut dicermati adalah kedekatan emosional antar calon ruling elite dengan konstituennya semakin akrab bahkan banyak menghasilkan kontrak politik yang sifatnya mengikat.  Ongkos politik yang dikeluarkan untuk kampanye dalam rangka sosialisasi visi, misi dan janji terbilang tidaklah murah apalagi saat krisis melanda.  Belum lagi tantangan internal kawan satu partai yang harus saling berkompetisi sebagai buah dari putusan MK tentang suara terbanyak.  Semua hal ini nampaknya menjadi seleksi alam untuk menjadi pemimpin negeri ini.

Seluruh rakyat berharap pemilu 2009 dapat menghasilkan pemimpin yang mampu mengajak kita semua melihat bayangan masa depan secara holistik, sehingga mempunyai character building meliputi loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis. Sehingga cita-cita pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mensejahterakan seluruh rakyat Nusantara, dapat terwujud.

Pertanyaan menggelitik tentang pemilu 2009 adalah mengenai ruling elite seperti apa yang akan dihasilkan oleh pemilu 2009.  Fakta sejarah Indonesia antara tahun 1928 hingga 1966 memperlihatkan bahwa ruling elite Indonesia pada periode tersebut adalah kelompok pribumi yang menikmati politik etis penjajah Belanda.  Mereka mengenyam pendidikan yang lebih tinggi kemudian menjadi kaum intelektual dan secara politik akhirnya menjadi ruling elite di negeri ini.

Di era orde baru antara tahun 1966 hingga 1998 menunjukkan ruling elite Indonesia pada era tersebut adalah kelompok militer (masih termasuk polisi pada saat itu).  Pada era orde baru kelompok militer benar-benar memiliki peran strategis dalam menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia.  Doktrin dwi fungsi ABRI menyebabkan mereka tidak hanya memiliki kekuasaan dalam hal pertahanan keamanan, akan tetapi juga memiliki akses yang signifikan pada kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi.  Pada era tersebut kaderisasi kepemimpinan juga seolah-olah hanya terjadi di tubuh militer.  Hal tersebut terbukti, bahwa pemain-pemain signifikan dalam pemilu presiden 2009 masih didominasi oleh tokoh-tokoh militer.

Lalu bagaimanakah dengan peta ruling elite Indonesia paska pemilu 2009.  Kelompok strategis mana dari bangsa ini yang akan paling berpengaruh dalam menentukan arah perjalanan Indonesia?  Terdapat prediksi bahwa  pemilu 2009 akan mengantarkan dominasi pihak-pihak dengan latar belakang enterpreneur atau pengusaha sebagai ruling elite.  Kelompok yang memiliki kapital besar tersebut diprediksi akan memegang kendali strategis perjalanan sejarah Indonesia ke depan.  Pertanda akan kuatnya kelompok pengusaha dalam lobi-lobi politik di Indonesia juga mulai terlihat kasat mata.  Pijakan berpikir lainnya adalah ketatnya persaingan politik, terutama pada perebutan kursi legislatif, akan memicu akan kebutuhan besarnya investasi di ranah politik.  Oleh karena itu banyak dugaan, kontestan yang dekat atau justru berasal dari kalangan pemodal besar yang mampu bertarung secara serius dan siginifikan pada pemilu 2009.

Rasionalitas pemilih dalam menentukan pilihan saat pemilu 2009 akan semakin meningkat seiring  dengan kemudahan untuk mengakses informasi.  Setidaknya hal tersebut mengisyaratkan kepada seluruh kontestan pemilu untuk lebih kreatif, inovatif dan aktif dalam merebut hati pemilih.  Seharusnya para kontestan pemilu adalah orang-orang yang memiliki modal sosial baik dan telah banyak memiliki investasi kebaikan di masyarakat.  Namun pada kenyataannya kontestan pemilu dipenuhi oleh orang-orang yang belum berbuat banyak untuk negeri ini, sehingga mereka membutuhkan kemenangan secara instan.  Kemenang instan tersebut berkorelasi dengan kebutuhan investasi yang tidak sedikit.  Satu kekhawatiran adalah terdapatnya banyak orang stres atau bahkan gila setelah pelaksanaan pemilu 2009, karena telah mengeluarkan biaya begitu besar namun tidak meraih jabatan politik yang diinginkannya.

Bagi pemilih ada sesuatu yang perlu diwaspadai, yaitu operasi politik uang. Ambil uangnya dan jangan pilih orangnya merupakan sebuah pernyataan yang mejadi bentuk penyikapan anti money politic.  Pernyataan tersebut juga merupakan sebuah peringatan terhadap orang-orang yang bermaksud membeli suara rakyat.  Janganlah kita memilih hanya karena diiming-imingi uang.  Perlu kita resepi bahwa orang-orang yang melakukan operasi politik uang, setelah mereka terpilih, maka mereka hanya akan disibukkan untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya. Mereka tidak akan menyuarakan kepentingan rakyat yang memilihnya.  Mereka hanya akan sibuk dengan agenda pribadinya.  Oleh karena itu masyarakat pemilih harus benar-benar teliti dalam menentukan pilihan politiknya.  Ketelitian dalam memberikan pilihan politik akan menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia ke dapan.