Home Gagasan Gagasan INSPIRASI KESAHAJAAN DARI RAMADAN
INSPIRASI KESAHAJAAN DARI RAMADAN PDF Print E-mail
Friday, 21 August 2009 09:04
Oleh Ahmad Heryawan

Rutinitas aktivitas sering membuat kita kurang menyadari keniscayaan tentang bumi yang terus berputar dan waktu yang terus bergulir. Sejarah peradaban manusia senantiasa bergerak, bahkan di kala kita tidur dan diam. Kini, waktu kembali menggiring kita semua untuk memasuki bulan yang penuh hikmah.

Salah satu hikmah Ramadan yang sangat sesuai dengan kondisi kehidupan bangsa Indonesia saat ini adalah inspirasi tentang kesahajaan atau kesederhanaan.

Budaya hidup dalam kesahajaan di negeri ini sepertinya tidak lagi menjadi milik sebagian besar orang yang dianugerahi kelebihan rezeki. Bahkan, banyak pula orang yang hidup serbakekurangan, terus-menerus memimpikan agar bisa bergaya hidup mewah.

Mungkin ini akibat dari berbagai tontonan yang senantiasa menghiasi hari-hari kita, terlalu penuh dengan pertunjukan gaya hidup mewah. Sisi negatif dari arus globalisasi juga ikut memiliki andil dalam membawa pengaruh budaya bergaya hidup mewah.

Bergaya hidup mewah di negeri yang masih dipenuhi oleh jutaan keluarga miskin rasanya sungguh kurang pantas. Kecemburuan sosial merupakan salah satu pengaruh langsung dari bergaya hidup mewah di tengah bangsa yang rakyatnya masih mengalami banyak kesulitan.

Kebesaran seseorang sesungguhnya bukan dilihat dari kemewahan gaya hidup dan penampilannya, tetapi terpancar dari kebesaran gagasan dan kegigihannya dalam memperjuangkan pikiran-pikirannya. Kebesaran seseorang sering juga lahir dari ketulusannya dalam berjuang dan berkorban demi orang banyak.

Hidup dalam kesahajaan merupakan faktor penting untuk dapat menghadirkan ketulusan di dalam diri. Tentu kita belum lupa dengan sosok Mohammad Natsir yang begitu bersahaja dan sering tampil hanya dengan kemeja kusam dan jas bertambal. Namun, kesahajaannya itu dapat membuat kagum seorang Indonesianis asal AS, George McTurnan Kahin.

Inspirasi tentang kesahajaan akan banyak kita dapati dalam suasana Ramadan. Ibadah Puasa sesungguhnya melatih manusia agar terbiasa menahan diri, tidak hanya terhadap sesuatu yang dilarang, tetapi juga terhadap hal-hal yang diperbolehkan dan dihalalkan.

Ramadan juga menginspirasi kita, bahwa prestasi seseorang tidak dilihat dari kemewahan menu berbuka dan sahur, tetapi dilihat dari amal ibadah dan kebaikan yang dilakukannya sepanjang hari di bulan suci ini.

Ramadan membentuk manusia agar tidak terbiasa dengan sesuatu yang berlebih-lebihan. Mengajarkan manusia tentang cara menggunakan kelebihan yang kita miliki, menginspirasi kita untuk mau secara tulus berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan, dan mengarahkan kita agar dapat hidup tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Berbahagialah manusia-manusia yang sudah dapat hidup untuk masyarakat banyak. Kesahajaan dalam kehidupan dapat mengantarkan kita untuk bisa memiliki kelebihan rezeki. Kelebihan rezeki tersebut tentu saja akan dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, membantu orang-orang yang sedang ditimpa musibah dan mengalami kesulitan hidup.

Kelebihan rezeki itu juga dapat digunakan untuk membangkitkan perekonomian masyarakat dalam bentuk memberikan bantuan modal kepada orang-orang yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk berusaha tetapi mempunyai keterbatasan modal. Kelebihan itu juga berfungsi untuk membentuk unit-unit usaha produktif sehingga dapat membuka pintu rezeki bagi orang lain.

Kesahajaan bukanlah arahan kepada kita untuk hidup dalam kemiskinan. Kesahajaan tidak dapat dilakukan oleh orang yang hidup dalam kondisi serbaterbatas, tidak lahir dari keterpaksaan kondisi ekonomi.

Perlu kita tegaskan, kemiskinan bukanlah kesahajaan. Kesahajaan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kelebihan. Kesahajaan adalah kesadaran hati dalam menyikapi limpahan nikmat yang Allah SWT berikan.

Sudah saatnya inspirasi kesahajaan dalam Ramadan dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga setelah Ramadan negeri ini senantiasa dihiasi oleh pribadi-pribadi yang bersahaja. Alangkah bijaknya ketika bisa bergaya hidup penuh kesahajaan di tengah banyaknya anak manusia yang belum beruntung di negeri ini.

Akhirnya, semoga Ramadan tahun ini memiliki arti penting bagi perjalanan kemanusiaan kita. Selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadan.

Penulis, Gubernur Jawa Barat


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 21 Agustus 2009