Home Di Media Ahmad Heryawan di Media PEMPROV JABAR TINGKATKAN INFRASTRUKTUR
PEMPROV JABAR TINGKATKAN INFRASTRUKTUR PDF Print E-mail
Tuesday, 19 January 2010 08:32
Bandung (SI) – Pembebasan lahan untuk proyek pembangunan ruas dalam kota Tol Cicaheum-Pasteur diharapkan selesai tahun ini.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, pihaknya sudah mengalokasikan anggaran hingga Rp1,1 triliun untuk menyukseskan proyek pembangunan ini.Pihaknya akanmembentukbadanusahamilik daerah(BUMD) barusebagaipengelola proyek pembangunan. ”Untuk saat ini, kami kerja samakan dulu dengan PT Jasa Sarana.

Tapi, ke depannya kami akan membuat BUMD baru. Saya berharap pembebasan lahan pembangunan tol ini dapat selesai tahun ini,” kata Heryawan seusai menghadiri acara pembukaan Rapimprov Kadin Jabar di Hotel Savoy Homann,kemarin. Menurut dia, perbaikan infrastruktur menjadi salah satu prioritas utama untuk menggenjot laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jabar pada 2010 ini.

Selama ini infrastruktur, terutama jalan di Jabar, menjadi kendala utama. Dia menjelaskan, tahun ini fokus pembiayaan pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, khususnya jalan. Dengan alokasi anggaran yang ada, diharapkan kondisi jalan di Jabar 93% mantap (kategori sedang dan baik).

Hingga saat ini,kondisi jalan sudah mencapai 87% mantap. Untuk tahun berikutnya, pemprov tetap menjalankan alokasi anggaran fokus yang akan dialokasikan untuk mendorong sejumlah sektor yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Nilai alokasi anggaran fokus tersebut mencapai Rp500 miliar.

”Khusus untuk tahun ini, anggaran fokus sebesar Rp500 miliar dialokasikan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur. Sementara, untuk pendidikan tetap dialokasikan sebesar 20% dari APBD,”sebut dia. Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, pada akhir 2009 kondisi jalan nasional baru mencapai 89% dengan kondisi mantap, sepanjang 84.895 km.

Selain itu pada tahun lalu luas jalan tol mencapai 131,35 km selesai dibangun,termasuk Jembatan Suramadu.”Untuk menyelamatkan industri nasional dari serbuan produk- produk impor terutama asal China, perlu dilakukan beberapa upaya, salah satunya peningkatan infrastruktur,”kata Hidayat. Perbaikan infrastruktur ini diharapkan bisa menjadi pendorong pemenuhan target pertumbuhan industri pada 2010 hingga 2014 mendatang.

Dia mengatakan, selama empat tahun tersebut,pihaknya menargetkan rata-rata pertumbuhan industri mencapai 6,79% dan pertumbuhan tertinggi diharapkan tercatat pada 2014 sebesar 9,79%. Pertumbuhan tersebut, kata dia,diyakini mampu ikut membendung penguasaan pasar dalam negeri yang kini terancam produk China sebagai konsekuensi pemberlakuan skema perjanjian ACFTA.

Pembendungan arus barang impor itu juga didukung kebijakan pemerintah yang membatasi pintu masuk perdagangan luar negeri di beberapa titik, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Tanjung Perak,Surabaya,Tanjung Emas,Semarang, Belawan, Medan, Makassar, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Djuanda, dan Pelabuhan Dumai untuk produk makanan. (irvan christianto)

 


Sumber: Harian Seputar Indonesia, Selasa 19 Januari 2010