Home Di Media Ahmad Heryawan di Media IMPOR HAMBAT PRODUKSI LOKAL
IMPOR HAMBAT PRODUKSI LOKAL PDF Print E-mail
Monday, 29 June 2009 17:27
Transaksi Festival Makanan Tradisional Naik Tiga Kali Lipat
 
Bandung, (PR).-
Tingginya ketergantungan pada bahan baku impor akan mempersulit penyerapan produksi bahan pangan lokal sehingga banyak produk dan usaha pertanian tidak dapat menikmati keuntungan.

"Di Jabar banyak bahan baku makanan yang memiliki potensi dan bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan makanan impor. Untuk itu potensi itu harus dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat agar bisa mandiri," kata Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pada Food Ethnic Festival Jabar 2009 di Cihampelas Walk, Bandung akhir pekan lalu.

Menurut dia, masalah pangan harus terus diperkuat, terutama produk pertanian yang masih memiliki ketergantungan besar seperti impor kedelai yang mencapai 78%, jagung 55%, dan gandum yang mencapai 95%. Seharusnya, ketergantungan itu sudah bisa dikurangi dan diselesaikan bersama.

Dikatakan, banyak bahan baku makanan yang melimpah di Jabar seperti beras, singkong, ubi, kentang, ganyong, dan bahan pangan lainnya yang sebenarnya memiliki potensi dan bisa menjadi alternatif untuk kebutuhan bahan baku makanan olahan.

"Namun, bila keran impor dibuka deras otomatis potensi bahan pangan lokal masih akan sulit bersaing," kata Gubernur.

Naik tiga kali

Sementara itu, nilai transaksi tunai dalam festival keanekaragaman makanan tradisional (Food Ethnic Festival) Jawa Barat 2009 mengalami kenaikan hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar, Agus Gustiar di sela penutupan acara Food Ethnic Festival Jabar 2009 di Cihampelas Walk, Bandung, Minggu (28/6), kenaikan ini diperkirakan karena tempat festival di pusat perbelanjaan modern (mal), waktunya tepat saat liburan serta bahan baku yang digunakan relatif unik dengan bahan dasar umbi dan cokelat.

"Tidak heran jika nilai transaksi tunai dalam festival yang diselenggarakan tiga hari ini bisa meraup Rp 247 juta atau hampir tiga kali lebih dari tahun sebelumnya. Jumlah itu juga disertai mengalirnya pesanan produk olahan umbi dan cokelat kepada peserta," ujarnya.

Dikatakan, ribuan pengunjung festival untuk melihat serta mencoba aneka makanan khas Jabar yang diolah apik dari umbi bercampur cokelat. Karena bahan bakunya itulah, banyak pengunjung tertarik, apalagi kemasannya unik.

Menurut Agus, penyelenggaraan festival makanan tradisional yang berlokasi di mal juga memiliki pengaruh besar. "Bagaimana makanan khas daerah, apalagi yang langka dan sudah terlupakan bisa dinikmati kembali oleh masyarakat kalangan menengah ke atas sebagai pengunjung utama mal," kata Agus. (A-176/A-190)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Senin 29 Juni 2009
 

Slide


gedungsate.jpg

Berita Lain