Home Di Media Ahmad Heryawan di Media KETAHANAN PANGAN MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA
KETAHANAN PANGAN MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA PDF Print E-mail
Friday, 12 June 2009 07:08
Gubernur Jawa Barat Ahmad  Heryawan menyatakan sejumlah faktor eksternal yang mempengaruhi perekonomian Jawa Barat diantaranya ketergantungan pangan terhadap produk impor, dan makin tingginya desakan implementasi pembangunan yang berkelanjutan terkait dengan ketahanan pangan, serta regulasi perekonomian nasional dan advokasi alokasi anggaran pusat yang disesuaikan dengan peran dan kontribusi daerah terhadap perekonomian nasional.

Menurut Heryawan masalah lain yang terkait dengan ketersediaan bahan pangan dan ketahanan pangan yakni kenyataan laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat yang relatif masih tinggi. Berdasarkan data saat ini laju pertumbuhan penduduk (LPP) Jawa Barat 1,7 persen per tahun, sementara di Jawa Timur mampu menekan LPP pada tingkat 0,8 persen per tahun. Kondisi tersebut harus juga menjadi pertimbangan terkait ketahanan pangan.

Untuk itu terkait dengan meningkatnya jumlah penduduk, Heryawan menyatakan  ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan atau paling tidak mempertahankan kemampuan pangan kita, yakni dengan memperbaiki sistem irigasi, penggunaan teknologi tepat guna, penyediaan bibit yang unggul dan pendampingan akademisi. “Pemprop Jabar bekerjasama dengan jajaran TNI guna memaksimalkan potensi sumberdaya alam guna menuju ketahanan pangan di Jawa Barat,” tegas Heryawan.

Hal itu dinyatakan Heryawan saat acara Pembukaan Seminar Ketahanan Pangan, dengan Tema “Meningkatkan Ketahanan Pangan Guna Mensejahterakan Masyarakat agar Terwujud Ketahanan Daerah dan Nasional”, di Hotel Grand Preanger, Bandung Jawa Barat, Kamis (11/6) siang. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil KSAD yang mewakili KSAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko. Hadir dalam acara itu Pangdam III Siliwangi Mayjend Rasyid Quernuen dan jajaran OPD Porpinsi Jawa Barat dan Kabupaten/Kota se Propinsi Jawa Barat.

Menurut Heryawan, pertambahan penduduk akan memberi dampak meningkatnya kebutuhan pangan. Sehingga perlu ada kebijakan komprehensif yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pangan.Perlu diketahui bahwa  masih banyak hal yang harus dibenahi terkait dengan pemenuhan pangan di Jawa Barat. Diantaranya seperti kondisi infrastruktur irigasi yang kurang menunjang pertanian.

Sedangkan dari sisi internal, faktor-faktor yang mempengaruhi perekonomian Jawa Barat antara lain adalah kondisi jumlah penduduk, ketersediaan infrastruktur wilayah, penurunan kontribusi sektor primer yang mengakibatkan terjadinya pengangguran kentara (daesgues employment) dan urbanisasi, serta iklim ketentraman dan ketertiban yang kondusif.

Berdasarkan kedua faktor tersebut, maka penetapan program Pembangunan Ketahanan Pangan Jawa Barat diarahkan kepada pencapaian kemampuan penyediaan bahan pangan yang cukup. Selain itu pendistribusian bahan pangan ke seluruh wilayah dilaksanakan secara berkelanjutan. Sehingga bahan pangan terjangkau oleh daya beli masyarakat serta dapat dikonsumsi oleh masyarakat secara aman, bergizi, berimbang dan beragam, sesuai dengan norma gizi dan norma agama.

Dalam rangka pengembangan ketersediaan pangan, selain penerapan cadangan pangan daerah, juga melalui pemanfaatan sumber daya alam/lahan dengan penerapan teknologi tepat guna. Hal ini penting agar dihasilkan tingkat produksi bahan pangan yang optimal untuk mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Berdasarkan data, tingkat konsumsi energi penduduk Jawa Barat selama tahun 2005 sampai dengan 2007 telah mencapai 102,8% dari Angka Kecukupan Energi (AKE) untuk konsumsi sebesar 2.000 kkal/kapita/hari. Ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi energi penduduk Jawa Barat termasuk kategori normal, yaitu berkisar antara 90-119% dari AKE. Sedangkan untuk tingkat konsumsi protein telah mencapai 113,6% dari Angka Kecukupan Protein (AKP) sebesar 52 gram/kapita/hari.

Namun hal yang perlu kita perhatikan, bahwa produksi bahan pangan tidaklah semata-mata untuk swasembada, melainkan juga  ketahanan pangan. Ini berarti bahwa jumlah produksi pangan yang dihasilkan, diarahkan untuk diversifikasi komodit serta diversifikasi produk pangan. Selanjutnya dalam upaya memenuhi pola konsumsi yang ideal atau Pola Pangan Harapan (PPH), maka sejumlah upaya yang dapat dilakukan diantaranya pemanfaatan lahan usaha tani (sawah dan lahan kering), lahan tidur, lahan marjinal dan lahan pekarangan di sekitar rumah.

Untuk mengantisipasi kekurangan atau langkanya bahan pangan yang diproduksi oleh petani produsen, dilakukan pendekatan cadangan pangan daerah dalam bentuk lumbung pangan perdesaan atau gudang, disamping kerjasama dengan Perum Bulog Divre Jawa Barat untuk penyediaan 500 ton setara beras bagi daerah-daerah rawan bencana dan rawan pangan.