Home Di Media Ahmad Heryawan di Media TENAGA MEDIS DIBANJIRI INSENTIF
TENAGA MEDIS DIBANJIRI INSENTIF PDF Print E-mail
Wednesday, 22 April 2009 14:04
Bandung (SI) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar telah menyiapkan beragam insentif bagi para tenaga medis.Syaratnya,mereka mau ditempatkan ke daerah terpencil. Insentif yang disiapkan berupa uang senilai Rp2 juta, fasilitas alat transportasi, dan tempat tinggal.

Angin segar itu diembuskan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Dia mengatakan, kebijakan tersebut didasarkan pada pemerataan tenaga medis hingga daerah terpencil, sehingga tenaga medis tidak hanya terpusat di kota- kota besar di Jabar.

”Tenaga medis harus merata. Untuk itu, untuk menstimulasi tenaga medis supaya bersedia ditempatkan di daerah terpencil, pemprov menyediakan insentif dan berbagai fasilitas kerja lainnya. Saat ini 75% dari sekitar 25.000 tenaga medis di Jabar terpusat hanya di perkotaan tanpa merambah daerah terpencil,” ungkap Heryawan kepada wartawan di Bandung kemarin.

Dia menambahkan rencana pemberian insentif ini dituangkan dalam kesepakatan bersama atau memorandum of understanding (MoU) antara Pemprov Jabar dan Universitas Padjajaran (Unpad). Pada Senin (20/4) lalu, gubernur dan Rektor Unpad Ganjar Kurnia menandatangani MoU bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian bersama kepada masyarakat.

Dalam MoU disebutkan, fasilitas rumah dinas disediakan untuk dokter,sedangkan kendaraan dinas roda dua bagi profesi bidan. Insentif Rp2 juta juga diberikan bagi dokter dan bidan yang bersedia mengabdi di tempat terpencil. Selama ini, lanjut Heryawan, tenaga medis jarang yang bersedia ditempatkan di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kegiatan massa.

”Maka wajar jika pelayanan kesehatan di Jabar tidak merata. Insentif ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada para tenaga medis,”ucapnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, ungkap Heryawan, krisis kesehatan di Jabar cukup tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya.

Dia menginformasikan, dari 1.000 angka kelahiran, terdapat 38 bayi meninggal dunia.”Di negara lain, rata-rata kasus kematian bayi di bawah 20 dari 1.000 kelahiran. Ini sangat dimungkinkan karena Jabar kekurangan tenaga bidan,” katanya. Selain insentif, seperti diberitakan, Pemprov Jabar juga menyediakan 1.200 beasiswa tenaga kesehatan dari pelajar berprestasi di desa-desa.

Lulusan beasiswa nantinya ditempatkan di daerah asal siswa tersebut. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jabar mencatat, dari 25.000 tenaga medis yang ditempatkan pada 1.000 puskesmas,1.631 di antaranya adalah dokter umum.

Sementara, 400 puskesmas di Jabar sampai sekarang belum memiliki tenaga dokter. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar Alma Luchyati menambahkan, kebijakan insentif diyakini dapat memenuhi angka ideal tenaga kesehatan di Jabar.

Dia mengatakan, idealnya dalam suatu daerah memiliki dua bidan dan satu dokter. ”Sebetulnya setiap pasien tidak usah dirujuk ke RSHS,78% pasien di RSHS merupakan rujukan daerah.Hal itu karena memang tenaga medis yang kurang merata, sehingga setiap pasien banyak yang dirujuk,” tutur Alma. (krisiandi sacawisastra)

 


Sumber: Harian Seputar Indonesia, Rabu 22 April 2009
 

Slide


hade2.jpg

Berita Lain