Home Di Media Ahmad Heryawan di Media GUBERNUR PUN MENYANYIKAN "PUPUH" SUNDA
GUBERNUR PUN MENYANYIKAN "PUPUH" SUNDA PDF Print E-mail
Sunday, 22 February 2009 06:04
Aya warung sisi jalan rame pisan – Citameng
Awewena luas luis geulis pisan – ngagoreng
Lalakina lalakina los ka pipir nyoo monyet – nyanggereng

Itulah salah satu lagu (pupuh) yang dinyanyikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, di Teater Tertutup Taman Budaya Jln. Bukit Dago Selatan, Bandung dan di Aula Universitas Padjadjaran Jln. Dipati Ukur Bandung, Sabtu (21/2).

Tidak hanya menyanyikan pupuh, Gubernur juga sempat membacakan puisi dalam bahasa Sunda berjudul "Boa-boa" karya Rektor Unpad Ganjar Kurnia. Bukan hanya Gubernur, sejumlah tokoh Jawa Barat pun berkesempatan membacakan puisi dan sajak berbahasa Sunda. Mereka antara lain Rektor Unpad Ganjar Kurnia, Direktur Utama Bank Jabar Agus Ruswendi, Sekretaris Daerah Jabar Lex Laksamana, budayawan Ajip Rosidi, serta tokoh Jawa Barat lainnya seperti Uu Rukmana dan Popong Otje Djundjunan.

Upaya ini dilakukan Gubernur bersama tokoh Jawa Barat sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk lebih sering menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. "Cara paling baik memelihara bahasa adalah dengan menggunakannya, mengucapkannya. Tidak cukup hanya dengan mempelajari. Oleh karena itu, marilah kita semakin sering menggunakan bahasa ibu kita masing-masing. Ini penting sebagai upaya memelihara bahasa dari ancaman kepunahan," ujar Heryawan.

Di wilayah administratif Jabar, kata Heryawan, setidaknya ada tiga bahasa ibu utama, yakni bahasa Sunda Priangan yang digunakan mayoritas masyarakat, bahasa Cirebon yang digunakan masyarakat Cirebon dan Indramayu, serta bahasa Melayu-Betawi yang digunakan masyarakat Bogor, Depok, dan Bekasi.

Menurut Heryawan, upaya memelihara bahasa ibu bisa berjalan beriringan dengan usaha menguasai dua bahasa utama yang lain, yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. "Saya yakin kita dianugerahi kemampuan yang cukup untuk menguasai ketiganya. Mempelajari bahasa Inggris jangan sampai menjadi alasan tidak mau mempelajari bahasa ibu," katanya.

Tidak hanya itu, untuk mendukung pelestarian bahasa daerah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat berencana membuat lembaga khusus yang mengurusi bahasa daerah. Pembentukan lembaga khusus yang mengurusi bahasa daerah ini bertujuan untuk menjabarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah. "Bahkan, cita-cita saya ingin membangun taman budaya, ya seperti Taman Ismail Marzuki yang ada di Jakarta," tuturnya.

Di Unpad, Heryawan juga berkesempatan menyerahkan anugerah pelestari bahasa daerah kepada tiga tokoh yang dianggap telah melestarikan bahasa daerah. Mereka adalah Karno Kartadibrata (bahasa Sunda), Ahmad Subhanudin Alwi (bahasa Cirebon), dan Ki Sukarlana (bahasa Betawi-Melayu).

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar I. Herdiwan Suranta mengungkapkan, pelestarian bahasa ibu tidak terlepas dari pelestarian kesenian masyarakat setempat. Sayangnya, dari tiga ratus lebih kesenian tradisional yang ada di Jabar, 60 persen di antaranya dalam kondisi sekarat. Di sinilah diperlukan kepedulian lebih dari pemerintah.

Herdiwan mengakui, selama ini dana dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yang dialokasikan pada upaya pelestarian kesenian masih terlampau kecil. "Dana APBD yang lebih besar pantas dialokasikan di bidang ini. Saya akan memperjuangkannya," ucap Herdiwan.

Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) Etti R.S. mengakui bahwa penggunaan bahasa ibu, khususnya bahasa Sunda, di kalangan generasi muda perkotaan semakin minim. Pada umumnya, keluarga dan orang tua lebih memilih mengajarkan anaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. "Padahal, orang tuanya berasal dari Sunda. Mungkin ini juga karena heterogenitas masyarakat kita, sehingga di kalangan anak muda khususnya, bahasa Sunda ini jarang digunakan," katanya.

Oleh karena itu, Etti berharap melalui lomba mengisi teka-teki silang bahasa Sunda yang digelar untuk memperingati Hari Bahasa Ibu ini, generasi muda akan lebih tertarik untuk belajar bahasa Sunda. Dia yakin, permainan semacam ini akan lebih menarik antusiasme pelajar dan mahasiswa di Jawa Barat. "Bahkan, permainan ini juga bisa saja diusulkan untuk disisipkan dalam kurikulum bahasa Sunda di sekolah, setelah sebelumnya kita mengusulkan agar bahasa Sunda dipelajari di SMA dan sekarang sudah dilaksanakan," tuturnya. (Nuryani/Ag. Tri Joko/"PR"/Fahmy Ramadhan)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Minggu 22 Februari 2009
 

Slide


gedungsate.jpg

Berita Lain